Lompat ke isi

Majalah Horison/1987/Nomor 3/Sebelum Pertemuan Dimulai

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Sebelum Pertemuan Dimulai
oleh Ali Akbar Navis

Sebelum Pertemuan Dimulai

A.A. NAVIS


Di alam barzakh, tempat penantian dosa dan pahala ditimbang, para tokoh dunia sering bersua-sua dan berbincang-bincang tentang masa lalu yang mereka alami di dunia, atau tentang konsep kehidupan yang baik dan sempurna bagi anak-cucu mereka yang masih tinggal di dunia. Tetapi tentang masa depan mereka sendiri, tak pernah mereka bicarakan. Tentu saja demikian, setiap orang besar tak pernah membicarakan konsep kehidupan dirinya sendiri.

Sejak Liga Bangsa-Bangsa didirikan dan bermarkas di Versailles, para tokoh abad ke XX membiasakan pula pertemuan sejagad. Memang tidak ada suatu badan resmi, karena kehidupan di alam barzakh tidak memerlukannya, namun pada setiap pertemuan sejagad diperlukan juga seorang ketua : ya, secadangan, Mungkin juga berpedoman pada fungsi raja, kaisar atau diktator yang tidak pernah berwakil-wakil. Atau mungkin juga meorang saja. Tidak diperlukan 3 a 4 wakil sebagai tenaga cadangan. Mungkin juga berpedoman pada fungsi raja, kaisar atau diktator yang tidak pernah berwakil-wakil, Atau mungkin juga mengambil ibarat pada roda kendaraan, empat yang berfungsi penuh, dan cuma punya satu cadangan saja. Dan ketua tidak dipilih. Boleh siapa saja yang mau. Yaitu siapa yang pemrakarsa pertemuan, otomatis jadi ketua.

Dan ketika giliran Gandhi, yang Mahatma tentunya, yang jadi ketua, ia memerlukan seorang sekretaris. Memang tidak akan ada pembicaraan yang akan dicatat dan notulen yang akan dibuat, namun menurutnya tak mungkin sambil mengetok-ngetok palu ia akan dapat mencatat nama-nama yang akan berbicara. Lagi pula undangan perlu dibuat, dan tak mungkin ketua yang mengantarkannya ke mana-mana sendirian. Dan dalam hal undangan, sesungguhnya ketua cuma membubuhi tanda-tangannya saja. Lain-lain urusan sekretaris.

Di alam barzakh, waktu begitu lapangnya. Tak berlaku perbedaan teori antara Newton dengan Einstein tentang waktu di sana. Matahari terbit dan matahari tenggelam pun tak ada, karena memang tidak ada matahari yang menjadi pusat kegiatan bimasakti di sana. Sebuah awal pertemuan ditentukan oleh kehadiran ketua. Artinya, ada ketua ada pertemuan. Dan tempat pertemuan pun ditentukan di mana ketua sedang berada. Karena di alam barzakh tidak ada gedung pertemuan atau apapun yang dinamakan bangunan yang dibuat manusia. Oleh karena Gandhi yang memprakarsai pertemuan, maka orang-orang yang diundang harus mencari sendiri di mana Gandhi berada, lalu duduk melingkarinya. Dan siapa saja yang tak memperoJeh undangaan, bermawas diri pergilah menyingkir. Meski tidak ada undang-undang yang melarangnya hadir. Juga tidak ada kewajiban bagi terundang untuk hadir. Karena pertemuan tidak memerlukan kuorum.

Di alam barzakh, ramai tidaknya suatu pertemuan dihadiri peserta tidak tergantung pada siapa yang mengundang. Tradisi rasa segan atau ingin pada pengundang tidak berlaku. Apalagi sifat pengkultusan pada seseorang, sangat bertentangan dengan sifat alam barzakh. Bahkan sejak di dunia sebenarmnya, kultus individu itu sudah bertentangan dengan kodrat alam. Maka yang terpenting di alam barzakh ialah topik yang akan dibicarakan, di samping tepatnya tokoh-tokoh yang diundang. Maka adalah tidak mengherankan apabila seringkali yang bernama pertemuan itu tidak dihadiri oleh seorang terundangan pun. Misalnya ketika sidang yang diketuai oleh Al Capone atau yang diketuai oleh Jenderal Tojo. Soalnya, pada waktu Al Capone, para bandit yang diundangnya tidak merasa tertarik untuk hadir, karena menuTut mereka di alam barzakh tidak ada suatu benda yang layak untuk dirampoki. Sedangkan ketika Jendera! Tojo, terundang tak hadir karena menduga jenderal itu masih bersifat chanvinistik, sebab topik yang akan dibicarakan tentang bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Namun_ karena_ terlanjur Mmemprakarsai, pertemuan yang diketuai oleh masing-masing tokoh itu, terus juga berlangsung dengan tertib, Ketua terus mengetok-ngetok palu, lalu berpidato pada pembukaan, kemudian mempersilakan para peserta mengemukakan pendapat, dan kemudiannya lagi karena tidak ada peserta yang mengemukakan pendapat ketua pun meneruskan pertemuan dengan mengucapkan pidato penutup. Terakhir mengetokkan palu tiga kali ketok. Tok tok tok. Sedangkan orang-orang yang hadir, tapi merasa tidak peserta memandangi ketua yang penuh semangat itu dalam pidato pembukaan dan penutupnya, tak obahnya seperti orang -orang yang lalu-latang di kaki-lima sebuah toko ketika melihat barang -barang yang tak dibutuhkan mereka terpajang dalam etelase.

Pada pertemuan yang diprakarsai Gandhi, yang terjadi malah sebaliknya, Terlalu banyak peserta yang hadir. Sehingga Gandhi sendini _terheran-heran, Akan tetapi ketika ia ingat bawa topik "damai di dunia damai’’ yang memang selau aktual itu, keheranannya hilang. Sungguh pun demikian ia merasa takjub juga demi melihat banyak tokoh perang dan iokoh teroris ikut hadir, Padahal dalam rencananya ia hanya mengundang tokoh-tokch pemenang dan calon pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, serta beberapa tokoh yang luput dicalonkan karena kurangnya publikasi atau sebab lainnya. Akhimya ia pikir, banyak di antara mereka itu cuma peninjau saja. Namun bagaimana membedakan peninjau dengan peserta? Ahh, itu tidak sulit, dalam daftar undangan yang dibuat sekretaris akan dapat diketahui juga kelak, simpulnya dalam hati. Tapi sekretaris belum hadir.

Pikirannya itu ia kemukakan ketika menjawab seseorang yang menanyakan kenapa pertemuan masih belum juga dimulai.

— Siapa sekretaris? — tanya seorang yang berkumis tebal membelintang yang kelihatannya tak pernah bisa sabar.

— Chairil Anwar. — jawab Gandhi.

Kumis yang tebal membelin tang itu, tiba-tiba melenting-jenting ketika mendengar nama Chairil Anwar, — Mengapa anarkis krempeng itu jadi sekretaris? Orang itu tak mau aturan, tak mau disiplin. Sama dengan orang sekampung asalnya, Tan Malaka yang tidak berpunggung bungkuk waktu jadi anggota komintern, Sehingga aku pecat dia. —

Kening Gandhi mengerenyit ketika tahu siapa yang berbicara. Dirasanya aneh jika orang itu jadi peserta pertemuan dengan topik "damai di dunia damai”. Tapi kemudian ia pikir, mungkin Chairil punya alasan mengundangnya. Kemudian kata Gandhi: — Chairil aku pilih karena dua alasan. Pertama, ia mengaku jadi ahli waris kebudayaan dunia. Kedua, ia beraliran humanisme universal. Jadi dia berjuang bagi kepentingan dunia seluruhnya. Bukan bagi kepentingan bangsanya saja. —

— Kalau itu alasannya, Martin Luther King mestinya kau ambil jadi sekretaris, Ia penganut ajaran kau, kamrad Gandhi. — kata si berkumis tebal membetintang itu,

Seorang laki-laki yang berkumis sebesar lobang hidungnya serta-merta berdiri. Setelah mengacungkan lengan kanan ke depan, ia pun berkata dengan suara lantang. — Herr Gandhi, kalau Martin Luther jadi sekretaris, saya setuju.

‘Meski ia orang abad ke XVII tapi ia bangsa Aria, Tapi yang mengembelkan King di belakangnya, aku tidak setuju. Karena ia Negro. Antara bangsa Aria dengan bangsa Negro jauh sekali bedanya, Herr Gandhi. Bangsa Aria melahirkan tokoh-tokoh seperti, Engels, Marx, Hegel, Steiner, Nietzsche, Kierkegaad, Schopenhauer, Feurbach: Juga Rontgen, Einstein, Rutherford, Von Braun atau Koch, Freud, Frobel, atau Mann dan banyak lagi. Meski beberapa orang beragama Yahudi, tapi orang Jerman, Heri Gandhi. Seorang dari bangsa Aria, tidak seimbang de dengan berjuta-juta Negro. —

Si kumis tebal membelintang berdiri lagi seraya berkata: — Revolusi dunia tidak memandang warna kulit, kamrad Gandhi. Jadi tidak ada alasan menolak seseorang karena kulitnya hitam. —

Si kumis pendek yang masih berdiri dengan lengannya terus mengacung ke depan, mendahului Gandhi yang akan berbicara: — Marx tidak membawa-bawa Negro dalam revolusi dunia, Herr Gandhi. Ia bicara tentang revolusi klas buruh bule melawan klas majikan bule. Negro tidak punya klas buruh. Kalau ada orang bicara tentang Negro harus ikut revolusi, itu artinya dia seorang revisionis dari ajaran Marx. Pada hal pada zamannya ia berkuasa dulu, ia menindas setiap orang dengan tuduhan sebagai kaum revisionis. Pantas saja, kuburnya dibongkar orang kemudian, karena pikirannya tidak konsisten. —

Si kumis tebal membelintang bukan seorang orator. Ia berbicara lamban dengan suara menggeram seperti buldog yang lagi tidur-tiduran melihat seekor tikus kecil mencuri sisa makanannya. Dia bicara tentang tingkah laku orang-orang kecil mencari popularitas setelah seorang pemimpin besar pergi. Orang kecil tidak akan mampu membawa gagasan besar, apalagi membangun satu tindakan besar, dua hal yang penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin besar.

Maka satu-satunya tindakan yang berarti bagi orang kecil yang menggantikan pemimpin besar itu ialah dengan menghancurkan kuburnya dan menghapus namanya dalam buku-buku sejarah. Sehingga dengan perbuatan itu, orang-orang kecil yang berkuasa itu akan kelihatan besar. — Perbuatan itu sama dengan munafik. Suatu kejahatan moral yang tak layak diampuni.

Akan tetapi jika seorang besar meninggal, lalu digantikan oleh orang besar yang sungguh-sungguh besar, peristiwanya sama dengan estafet kepemimpinan. Kewajiban kepemimpinan pengganti ialah membuat sesuatu yang lebih baik, lebih besar, yang betul-betul spektakular. Maka pengganti orang besar itu, pada dasarnya adalah tokoh yang lebih besar.

Tapi kalau penggantinya orang kecil, kebesaran orang besar yang digantikannya itu dihancurkannya. Akibatnya pamor kaum proletar merosot cepat sekali di seluruh dunia. Untung masih ada Mao Tse Tung. —

Seorang yang berwajah klimis, berambut hitam kasar serta bermata sipit menyeletuk di kejauhan: — Tapi menggantiku pun menggerogoti gagasanku setelah aku mati. —

Dan dia itu, si kumis pendek itu, yang ngaku-ngaku bangsa yang superior itu, malah menyiksa bangsanya sendiri. Sehingga bangsa dan negaranya terbelah dua. Bangsanya tidak peduli di mana kuburnya, malah bangsanya itu merasa malu telah melahirkan seorang seperti dia itu, kamrad Gandhi. —

Dengan berteriak-teriak seperti waktu mudanya ketika ia mengerahkan bangsanya memberontak melawan kekuasaan tirani di Afrika Selatan, Gandhi berkata sebelum si kumis pendek bicara lagi: — Nah, saudara-saudara. Sekretaris kita telah datang. Pertemuan sudah bisa dimulai. —

Seketika suara desisan keluar dari seluruh mulut menyuruh setiap orang agar tenang. Tapi seorang laki-laki yang berambut tipis dan bermata bulat berkata pada teman di dekatnya: — Harry, suasana ini bisa kulukis dengan gaya kubisme. Tapi kalau kutukar letak kumis Stalin pada bibir Hitler, dan kumis Hitler pada bibir Stalin, lukisan itu menjadi karikatur. Aku tak suka karikatur. Tapi kau, sebagai pemain sunglap terbesar tentu bisa melakukannya, kiraku. —

— Sudahlah, Pablo, kau kan tahu, yang kusunglap kan diriku sendiri. Bukan orang lain. Sama dengan kau, yang kau lukis kan pikiranmu. Bukan pikiran orang lain. — kata Houdini kepada temannya yang tak lain dari Picasso.

Chairil Anwar yang sejak datang telah duduk di sebelah kiri Gandhi, lalu beralih ke sebelah kanan selagi si berkumis tebal membelintang berbicara.

— Mengapa pindah? — tanya seorang perempuan berambut pirang, bermata mengantuk dan bermulut kecil yang nyaris membuka.

— Dua alasannya. — kata Chairil sambil menggeser duduknya agar merapat dengan perempuan itu. Pertama, di negeriku yang duduk di sebelah kanan dipandang lebih mulia. Bukan karena alasan etiket, melainkan karena alasan protokoler. — Tahu kau apa bedanya itu? —

Perempuan itu menggeleng.

— Yang satu adat dan yang lainnya aturan. Dan kedua, biar aku bisa duduk dekat cewek cantik seperti kau, Tuti. —

— Namaku bukan Tuti. Tapi Marilyn Monroe. — kata perempuan itu.

— Dari mana saja kau, Ril? — tanya Gandhi sekali lagi, setelah bertanya sambil melihat ke kiri. Akan tetapi karena Chairil tidak ada, ia menoleh ke kanan di mana dilihatnya Chairil sedang asyik berbicara pada Marilyn Monroe.

— Lama aku di tempat Maria Callas. Asyik melihat dia lagi main melawan Kennedy bersaudara. — jawab Chairil Anwar.

Sambil menggoyang-goyang tangan Chairil, Marilyn bertanya: — Main apa mereka, Ril? —

— Petak umpet. —

— Ah, masih seperti dulu saja mereka. Suka memetak bumi, lalu melompat-lompat di dalamnya. — kata Marilyn memberengut.

Gandhi menoleh lagi pada Chairil setelah ia melihat Stalin belum akan berhenti berbicara: — Daftar undangan mana, Ril? —

— Tak ada. —

— Lho, bagaimana bisa orang yang mau bicara, Ril? —

— Biarkan saja siapa yang mau bicara. —

— Oh, kau mau seenak perutmu saja, Ril. — kata Gandhi mengomel. Kemudian ia tanya Marilyn Monroe: — Bagaimana kau tahu ada pertemuan sekarang, Marilyn? —

— Aku lihat Chairil berdiri di pundak Amir Hamzah berteriak-teriak: Halo halo halo. Gandhi mau adakan pertemuan penting. Topiknya "adu damai di dunia". Kunjungilah beramai-ramai. Penuh action, sensasi, horor, sadis, sex. Khusus untuk 21 tahun ke atas, terkecuali bayi. Aku tertarik, makanya aku datang. Begitu saja. — kata Marilyn.

— Oh, kau memang terlalu, Ril. Padahal topiknya "damai di dunia damai", bukan "adu damai di dunia". Dan undangan yang aku tandatangani ke mana saja? — kata Gandhi sambil melirik ke arah Stalin yang masih terus menggeram.

— Ada teman-temanku yang berhenti menulis setelah namanya terkenal, kini ingin lagi menulis supaya namanya tidak hilang begitu saja. Menulis buku tebal, katanya. Kepadanya aku kasih kertas undangan itu. —

— Sedari kau masih hidup kau sudah brengsek, Ril. — kata Gandhi pula tanpa menghilangkan perasaan marahnya.

— Hopla. Di sini alam barzakh, lho. Tempat penantian dosa dan pahala kita ditimbang. Dan kau harus tahu, yang akan menimbangnya bukan kau, tokh? — kata Chairil yang akan pergi, karena merasa ia tidak diperdulikan orang.

— Coba kau pikir, belum-belum mereka sudah bertengkar. Kalau mereka tidak datang, pertemuan sudah bisa dimulai dengan tertib. Coba kalau mereka diundang dengan surat, orang-orang macam itu tidak akan datang. Tahu? —

— Siapa yang kau maksud dengan orang-orang semacam itu? — Chairil bertanya.

Gandhi menyebut serentetan nama-nama:

— Baiklah aku mulai dari Stalin dulu. Ia dan Mao sedang jadi bandar rolet Rusia yang dimainkan orang-orang Vietnam. Banyak orang bergerombol di situ. Maka aku sorakan pertemuan yang kau adakan ini. Rupanya Stalin tertarik. Dan memang dia perlu hadir, pikirku. Karena dia yang paling gigih menganjurkan perdamaian dunia. Di mana-mana kaum proletarnya ia gerakkan untuk merebut perdamaian, walau dengan teror dan kekerasan sekalipun.

Perdamaian ia ibaratkan seperti merpati putih yang melayang sendirian di langit merah. Lukisan merpati itu dibuat oleh Picasso. Karenanya pula Picasso pun hadir. Kalau Mao Tse Tung, ia lagi kesepian karena kelompok empatnya belum datang. Ke mana Stalin tentu, ke mana dia. —

— Houdini ikut siapa dia? —

— Ia tidak ikut siapa-siapa. Malah negarawan dan politisi lah yang ikut dia. Untuk belajar sulap, agar pengertian bisa berubah artinya menurut sukanya pemain. —

— Marilyn Monroe? — tanya Gandhi seraya melirik kepada Stalin yang masih belum selesai berbicara.

— Alasannya ada dua. Pertama, di negeriku perempuan cantik selalu dilambangkan sebagai lambang celaka. Perusak moral, yang sama jahatnya dengan madat, maling, mabok, dan main. Perempuan cantik selalu dijadikan umpan untuk merongrong disiplin pejabat negara. Perempuan cantik selalu dicurigai sebagai perusak kedamaian rumah tangga babe-babe yang istrinya telah setua nenek-nenek. Kedua, Marilyn memang aduhai cantiknya. —

— Hitler? —

— Dialah yang paling kuat alasannya untuk hadir. Jauh lebih kuat dari para pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang puluhan orang itu jumlahnya. Tanpa adanya Hitler, orang takkan pernah yakin pada pentingnya perdamaian dunia itu. Khusus untuk Hitler aku sengaja menemuinya menyampaikan undangan. —

— Tapi aku tidak melihat Jenderal Tojo. — kata Gandhi pula.

— Dua alasannya. Pertama dia ngambek, karena waktu dia memprakarsai pertemuan, tidak seorang pun yang hadir. Kedua, ia keberatan Jenderal Marshall ikut hadir. —

— Tapi Marshall pemenang Hadiah Nobel Perdamaian. —

— Justru itu yang dia keberatan. Alasannya, masa seorang Jenderal yang memimpin pembantaian ratusan ribu manusia diberi Hadiah Nobel Perdamaian. Amerika kasih duit pada Eropah itu, kan bertujuan politik saja. Supaya Eropah tidak jadi komunis, kan? Begitu alasan Tojo. —

Gandhi melihat lagi pada Stalin. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan segera menyelesaikan bicaranya. Lalu ia edarkan matanya berkeliling. Sungguh luar biasa banyaknya orang yang hadir. Hampir semuanya ia kenal. Beberapa orang memang tidak dikenalnya. Tapi pikirnya, mungkin jadi orang-orang itu kawannya Chairil Anwar. Yaitu orang-orang terkenal di negeri Chairil, tapi menurut dunia belum. Tak apalah, pikir Gandhi selanjutnya, topik "damai di dunia damai" memang aktual sekali.

Ketika ia melihat Stalin masih belum henti-hentinya menggeram, kerisauan timbul dalam hatinya. Karena belum pertemuan dimulai, Stalin sudah omong sepanjang entah berentah. Barangkali, pikir Gandhi pula, bagi Stalin semua kesempatan hanya miliknya seorang, yang resmi atau tidak resmi, yang sah atau tidak sah.

Kemudian kata hatinya untuk melupakan kerisauannya: ah, di alam barzakh tokh waktu begitu lapang. Selama panggilan untuk antri tuk pemeriksaan belum dibunyi- kan.

— Omong-omong, Ril, apa kau pernah mandi? — tanya Marilyn Monroe. .

Chairil yang sedang mengalai- kan kepalanya ke pangkuan Mari- lyn tersentak duduk. [a baui selu- ruh lekuk badannya sendiri sambil berkata: — Kau menghina, ya? —

— Ah, aku cuma tanya saja. Ti- dak ada vang bau di sini, kok. Aku cuma tanya saja. — kata Marilyn seperti minta maaf.

Ketika tahu Marilyn cuma se- kedar mencan bahan untuk berbi- cara, Chairil mengalaikan lagi ke- palanya ke pangkuan Marilyn. Ke- mudian katanya: — Di negeriku, Marilyn, mandilah yang paling gampang, Karena laut kami juas, sungai kami banyak, danau kami besar-besar, dan hujan kamu lebat. Ketika kecilku di kampung dengan telanjang bulat kami berlari-lari di hujan lebat. Nikmat. Setidak-ti- daknya orang bisa basah karena mandi keringat, tahu? Tapi yang paling ideal di negeriku, bagaima- ha orang bisa hidup yang basah te- rus. Bukan karena air, apalagi ka- rena keringat. Tapi karena jaba- tan. —

— Semacam teka-teki bagiku.—

— Memang kau tidak akan bisa memahami, karena kau belum per- nah datang secara mental ke nege- riku, selain hanya lewat layar pu- tih, — kata Chairil pula. — Tapi omong-omong, Marilyn, bangun- kan aku bila Stalin telah selesai omong. —

Dan Stalin pun selesailah ber. bicara,

Gandhi mengambil palu untuk memulai membuka pertemuan itu. Akan tetapi ketika ia hendak me- ngetok-ngetokkan palu, seseorang mengacungkan tangannya, sehing- ga palu tergantung di awang-awang dalam genggaman Gandhi. — Sau. dara ketua, izinkan saya bicara se. belum acara dimulai. Nanti apabila acara dimulai, lalu usul saya ini di- bicarakan, ketua akan Tepot sendi-

ri. Usul saya begini, saudara ketua. Di negeri kami, bila sidang yang dihadiri oleh banyak orang, seperti sekarang ini, kami biasa menyusun rencana tata tertib lebih dahulu dan rencana-rencana keputusan yang akan diambil, Sehingga da- lam suatu pertemuan besar, para anggota akan lebih mudah diarah- kan, saudara ketua. Boleh saya sampaikan usul saya sebelum rapat dimuali, ketua? Boleh, kan? — Tanpa menunggu persetujuan Gan- ahi, ia meneruskan pembicaraan- nya. — Begini, ketua. dika seba- nyak ini hadirin, apa tidak sebaik- nya sebelum sidang dimulai, peser- ta ini dikelompok-kelompok lebih dahulu. Umpamanya satu kelom- pok terdiri dari orang-orang yang mengangankan perdamaian dunia, tapi tidak pemah merealisasinya secara konkrit. Kelompok ini seba- gai misal, yaitu penyair, pelukis, artis atau orang-orang sebangsa- nya. Kelompok kedua, orang- orang yang selalu mencari dan meéngusahakan perdamaian, tapi tak pernah berhasil. Misalnya orang-orang seperti saudara ketua sendiri, Martin Luther King, para Paus dan atau pemenang Hadiah Nobel Perdamaian atau orang- orang sebangsanya. Kelompok ke- tiga, orang-orang yang melaksana- kannya dengan spontan. Misalnya seperti orang yang berani mengi- barkan bendera putih wakiu pepe. rangan sedang berkecamuk, pelari- an politik yang memilih menying- kirkan diri dari pada terus bentro- kan dengan cara kekerasan, Miéal- Nya orang-orang seperti Trotsky, Petain, Wang Cing Wei, Ciano, Fa- ruk atau orang-orang sebangsanya. Sedangkan yang lain, yang tak ter- golong kepada ketiga kelompok itu tadi, disuruh Mminggir saja, Mi- salnya orang-orang yang jadi dik- tator, apakah dia diktator militer, mpeg fasis atau diktator prole-

Serta merta kegaduhan pun se- olah hendak memecah alam bar- zakh yang selama ini adem ayem

saja. Dan Gandhi_ tiba-tiba ingat bahwa tangannya teracung terus ke atas dengan palu di genggaman- nya. Ia turunkan tangannya.itu pe- lan-pelan. Sedangkan Marilyn Monroe berkata pelan-pelan pada Chairil yang seperti betul-betul la- gi tidur, Menanyakan, apakah orang yang baru bicara itu orang seasal dengan Chairil. Chairil men- jawab lemah: — Ngakli, ya. Kalau dengan gaya omongannya. Kena- pa? —

— Nggak, aku mau tahu saja, kok, —

Suara-suara pro kontra saling mengatasi. Tapi Gandhi tidak ber- maksud mengetek-ngetokkan palu untuk melerai kegaduhan itu. Ka- rena fungsi palu memang tidak ada sebelum sidang .dimulai. Gandhi menoleh pada Chairil yang nam-. paknya betul-betul tertidur di pangkuan Marilyn. Dan Marilyn mengedipkan matanya pada Gan- dhi. Dan Gandhi ingat masa muda- nya ketika di London. Lalu kata- nya,— Bagaimana pendapatmu, Marilyn ? —

— Tentang laki-laki ini? ~

— Oh, tidak. Tentang suasana ini, —

— Eisenstein yang bisa mengu- langnya pada seleloid, barangka- li. — kata Marilyn Monroe. — Ta- pi kata de Mille, malah seluruh angan-angan manusia dapat dipin- dahkan kepada seleloid.—

— Kau Pablo, apa pikiranmu? — tanya Gandhi pada Picasso yang

.sedang mengias-ngiaskan jarinya

di alas duduknya.

Ini namanya_ penyakit. Penyakit menahun yang takkan lenyap-lenyaprtya sampai ke akhir zaman, — kata Picasso pula.

Suara yang hiruk pikuk itu. secara berangsur memperdengar- kan dua jenis suara dalam suatu ritme yang berselang-seling antara pro dengan kontra, Tapi lambat laun kentara pula suara pro mulai menghilang dikalahkan oleh suara kontra yang serempak dengan ga- ya yang menyentak-nyentak. Gan-

BO HORISONKXI/QB——

a dhi pun mengangkat kedua belah tangannya dan mengembangkan- nya ke kiri dan ke kanan seperti orang menyetop mobil waktu minta pertolongan. Dan dengan suara yang parau tapi cukup jelas, berulang-ulang ia memaklumkan bahwa mereka sedang berada di alam barzakh. Cukup lama suasa- na bisa kembali tenang. Dan Chai- ril melepaskan kepalanya dari pangkuan Marilyn. Dan matanya mengedari setiap orang yang ha- dir. Begitu sepinya terasa, Apa bila masih ada penjahit di alam barzakh itu, pikir Chairil, suara jatuhnya mungkin akan kedenga- ran seperti granat meledak. Kegaduhan mulai karena ada usu] untuk membagi hadirin dalam tiga kelompok, sebenarnya ada empat kelompek yang di- maksudkannya. Nampaknya saudara-saudara tidak setuju de- ngan pengelompokan itu, bukan? — kata Gandhi.

— Bukaaaan. — suara menja- wab dengan serempak,

Gandhi bingung juga mema- hami makna jawaban itu. Tapi kemudian ia pikir, mungkin perta- nyaannya yang salah. Lalu diro- bahnya pertanyaannya dengan mengatakan siapa yang setuju pengelompokan agar mengacung- kan tangan. Tapi tidak seorang- pun yang mengacungkan tangan. Ia bertanya lagi. — Apa sebenar- nya yang tidak saudara setujui? —

Stalin segera berdiri untuk ber- bicara. Menyusul pula Mussolini. Tapi Mussolini segera duduk lagi setelah tangannya ditarik oleh Hitler. — Saya tidak suka. Betul- betul tidak suka kalau Trotsky dan cecunguk sebangsanya digo- longkan sebagai pendekar perda- maian, Dialah pengacau terbesar, melakukan tindakan kontra revo- lusi. Menantang kebijaksanaanku. | Karena itu aku menyesalkan kalau antek-antek Trotsky, yang bego itu ikut menyelusup dalam perte- muan ini, Usir dia, kamrad Gan-

| |

dhi,—

Mussolini pun berdiri setelah Stalin berhenti berbicara, — Senor Gandhi. — katanya memulai. — Tadi ada yang bilang; diktator harus menggir. Aku ini El Duce, diktatot dari bangsa Romawi Ba- ru, Aku ini muncul karena cita- cita suci, Di negeri chaos terjadi, kedamaian tidak ada. Harta benda, bahkan nyawa tidak terjamin aman, Bukan hanya oleh karena Mafia saja, tapi juga oleh karena pejabat negara korup. Bersekong- kol dengan Mafia. Malah takut pada Mafia, Pada hal di negeriku ada raja, bahkan ada Paus bertah- ta, Semua orang masa bodoh. Ti- dak tahu pada kehormatan diri dari bangsa Romawi yang agung, dimana umat Nasrani di seluruh dunia telah mempercayakan Paus untuk bersemayam semenjak berabad-abad yang lalu. Maka itu- lah aku tampil sebagai diktator yang mendikiekan kemauan- kemauanku untuk memulikan ke- hormatan bangsa Romawi,—

Mussolini bicara panjang dan meledak-ledak dengan segala argu- mentasinya dalam mengatasi krisis yang dihadapi bangsanya dan da- lam mengangkat martabat bangsa dan negaranya. Tak masuk akal- nya bila suatu negara dan bangsa yang dipercayai dunia sebagai tem- pat bersemayamnya Paus itu, teta- pat bersemayamnya. Paus itu, te- tap menjadi negara kecil yang tak berarti. Untuk itulah ia mencaplok Ethiopia agar jajahan Italia secara berangsur bisa seluas jajahan Pe- rancis dan Inggeris. Albania di- caplok agar Eropah bebas dari kekuasaan Islam, katanya.

~— Tidak semua doktator ber- kadar murni. Misalnya Jenderal Tojo. Dia itu diktator militer. Tujuannya tidak lain selain dan berperang, berperang dan berpe- rang. Seperti wataknya orang mi- liter profesional, yang punya logi- ka: tidak ada arti militer kalau ti- dak ada perang. Penaklukan mere-

HORISON/XX1/89

ka atas negeri orang lain, adalah analogi dari semangat perangnya.— kata Mussolini melanjutkan,

— Bukan itu saja. Motivasinya ingin menjajah, merampok.— Chiang Kai-shek menyela, — Je- pang itu bangsa yang serakah, Mau menang sendiri. Dan karenanya tak malu-malu menjarahi negeri orang lain untuk merampok hasil negeri orang untuk kepentingan bangsanya sendiri. Jika dibiarkan mereka terus, besok-besok akan dibangkrutkannya seluruh dunia dengan menghancurkan bangsa lain melalui perang ekonomi.—

~ Terserah kaulah.— kata Mus- solini memotong kata-kata Chiang. Tapi yang jelas Jenderal Tojo bu- kan type diktator murni. Yang murni, selain aku, adalah Hitler. Ja seorang negarawan yang ingin membealaskan hinaan bangsa lain terhadap bangsanya. Negerinya dipreteli negara-negara kecil, Jaja- hannya dibagi-bagi. Siapa yang mau dihina begitu? Padahal bang- sanya superior seperti bangsa Romawi. Ketika ia minta kembali tanahnya dan jajahannya dengan cara baik-baik, tidak diperdulikan orang, tentu saja ia ambil dengan kekuatan sendiri. Itu bedanya dengan Jenderal Tojo yang ber- semangat perang dan serakah lagi. Sedang diktator lainnya, seperti Stalin yang mengaku sebagai dik- tator proletar itu, di cuma mau menggantikan kedudukan tsar saja. Marxisme hanya alat yang lagi mode di masa itu.—

— Stop, Stop. Stop. Aku tidak suka dihina begitu.— kata Stalin menyela sambil memplintir- plintir kumisnya yang tebal.

Gandhi segera menengahi de- ngan mengucapkan berulang-ulang bahwa mereka sedang di alam barzakh, bukan di alam fana.

Mussolini duduk, Tapi Stalin yang terbiasa tidak suka disang- gah, apalagi dihina, tidak memper- dulikan peringatan. Gandhi itu.— Aku tidak sama dengan tsar. Aku kamrad, bukan paduka yang mu- lia. Aku ingin memerintah menu- rut konsep komunis, demokrasi rakyat. Tapi rakyat Rusia yang sudah terbiasa dengan sistem tota- literisme di bawah tsar sejak ratus- an tahun, tidak paham dengan demokrasi rakyat. Yang mereka tahu, seorang pemimpin harus kuat secara mutlak, Dengan pimp!- nan yang kuat itulah mereka me- rasa terlindung dan mau mematuhi perintah, Hasilnya lihatlah, betapa besarmya Rusia sekarang. Malah ditakuti dunia segala. Jadinya, kamrad Gandhi, orang bego yang mengusulkan agar para diktator minggir, patut dijewer kepala- nya. —

Setelah Stalin duduk, John Lennon pun berdiri sambil menga- cungkan jarinya tinggi-tinggi. — Gandhi, aku tidak mewakili slapa- siapa. Cuma bicara atas nama sen- diri sebagai seniman. Seniman me- mang biasa bekerja sendiri-sendiri. Meski pun begitu naluri seniman tentang buruk dengan baik, adalah sama dengan siapa saja, Bedanya, naluri seniman lebih peka dan sela- lu cenderung pada berbuat baik. Beribu judul buku telah ditulis. Ribuan karya digelarkan atau di- pajangkan, moralnya tetap. Yaitu kemanusiaan yang agung. Penger- tian kemanusiaan tidak berarti membedakannya dengan nilai- nilai moral siapa pun, tapi berada di atas segalanya. Karena seniman tidak bekerja bagi suatu golongan apalagi terikat pada golongan ter- tentu, yaitu golongan yang me- nilai dirinya superior. Nah, Gan- dhi, apabila ada orang yang me- ngatakan seniman hanya mengkha- yalkan perdamaian, tidak melaksa- nakannya, rasanya pandangan itu sumbernya dari masyarakat yang primitif. Dan orang-orang primitif tidak sepatutnya hadir di sini.—

Marilyn yang sambil mengelus- elus pipi Chairil yang cekung keti- ka mendengar John Lennon lagi bicara, bertanya pada laki-laki yang bergolek di pangkuannya itu. — Sebagian aku setuju dengan

i

HORISON/XX1/100

John Lennon. Kau sendiri, Ril? —

Karena Chairil nampaknya ter- tidur, Marilyn menjepit hidung

Chairil kuat-kuat. — Apa? — tanya’

Chairi] sambil duduk dan melihat- lihat keadaan di sekelilingnya. — Aku tertidur. Dalam tidurku, aku berkhayal. Jika semua perempuan

secantik kau dan sebahenol kau,

akan masih adakah definisi cantik dan jelek? —

— Artinya, jika semua laki-laki sama jelek dan sama jalangnya dengan kau, akan masih adakah artinya engkau? — kata Marilyn pula.

Lalu terdengar lagi suara Gan- dhi. la mengharapkan apabila per- temuan sudah dimulai nanti, tidak ada lagi suara-suara yang serba menyalahkan orang lain. Dengan saling menyalahkan, pada hakekat- nya manusia di alam barzakh tetap sama saja dengan manusia di du- nia. Lalu Gandhi memegang palu yang sedari tadi tergeletak di ujung kakinya.

— Tunggu dulu. Tunggu dulu. — kata orang yang tadi, yang me- nurut Marilyn Monroe orang seasal dengan Chairi! Anwar. — Kalau semua orang tidak setuju dengan komentarku tentang kelompok- kelompok orang, okelah. Secara

musyawarah untuk mufakat aku

terima semua argumentasi mereka. Tapi menurut setahuku, tidak se- orang pun yang menolak penge- lompokan mereka. Karena itu, sebaiknya mereka berkelompok- kelompok dulu. Masing-masing kelompok memilih ketua. Dan nantinya, ketua-ketua kelompok itulah yang otomatis jadi juru bicara dan saling berunding atas nama kelompoknya. Dengan demi- kian, pak Sugandhi, pembicaraan tidak bertele-tele. Bisa ringkas dan hasilnya optimal, sesuai dengan targetnya, —

— Usul itu sebaiknya disampai- kan dalam sidang. Bukan di luar sidang. — kata seorang laki-laki yang bulat potongan tubuhnya, mirip seperti Winston Churchil,

Seorang berkulit hitam dengan tubuhnya yang kokoh pun berdiri. — Aku Martin Luther King. Tapi itu tidak penting. Sebagai pendeta, aku keberatan bila orang-orang dikelompok-kelompokan. Umat manusia itu sama di sisi Tuhan.

Mengapa kita mengelompok- ngelompokkan, justeru di alam barzakh ini lagi. —

Hitler berdiri pula. Setelah ia mengacungkan lengannya, ia pun berkata: — Pengelompokan perlu. Karena orang hitam tidak bisa sama dengan orang putih. Orang hitam, meski ratusan tahun sudah tinggal di Amerika atau di Eropah, tetap hitam. Demikian pula orang putih yang ratusan tahun tinggal di Afrika Sealatan, tetap putih. Orang Cina, meski kemana mereka tinggal, setelah ratusan tahun te- tap Cina. Kulitnya tetap kuning dan matanya tetap sipit. Karena itu pengelompokan perlu, —

— Pengelompokan itu mutlak, saudara Gandhi. Tapi alasannya bukan ras atau professi, melain- kan kedudukannya dalam Kera- jaan Tuhan. Kami, orang-orang Israel, adalah pejuang-pejuang Tuhan. Dan kami tidak bisa disa- makan dengan yang lain. Sebelum jupa, aku Weizmann, pendiri Zio- nisme, — kata seseorang yang ber- hidung bengkok.

Setelah Weizmann berbicara, banyak tangan mengacung ke atas. Dan Gandhi menggenggam palu kembali. Hendak diketok-ketok- nya supaya hadirin tenang. Tapi kemudian dia ingat, bahwa palu baru berfungsi dalam sidang. Dan sekarang sidang belum dimulai. Ia letakkan lagi palu itu ke ujung kakinya. Kini ia mengembangkan kedua belah tangannya yang jirus itu sambil berkata dengan suara yang parau mersik. — Saudara- saucara, Jangan lupa, kita inf di alam barzakh. — Ia bicara beru- lang-ulang. Tapi suaranya begitu halus dibandingkan dengan hiruk- pikuk orang-orang yang ingin bi- cara sambil mengacung-acungkan tangan.

Laki-laki pengusul itu, entah dengan cara bagaimana, telah ter- sembul saja di hadapan Gandhi. Ja tidak duduk. Melainkan berdiri. Sehingga terpaksa Gandhi me- negadah memandang padanya, ketika ia melihat sesosok telah Mmenghambat pandangannya.

— Mas Sugandhi, aku ingin membantu. Begini. Sebaiknya di- bentuk saja satu komisi atau panitia ad hoc untuk membicara- kan rencana pertemuan ini dengan

lebih matang. Supaya pertemuan- pertemuan bisa terarah, Tidak kacau balau seperti yang biasa ter- jadi negara-negara liberal, yang sampai ke alam barzakh pun masih berjangkit. Kalau mas Sugandhi setuju, dan saya harapkan setuju saja, aku mengusulkan jumlah ang- gota itu tujuh belas crang. Terma- suk mas Sugandhi dan Chairil Anwar sebagai anggota eks ofisio. Tapi mas Sugandhi jangan lupa menyiapkan suatu pidato penga- rahan, agar kepemimpinan mas Sugandhi mantap, — kata laki-laki itu. seperti tergesa-gesa harus menyelesaikan pembicaraannya.

— Sudah? — tanya Gandhi. — Sudah, mas Sugandhi.— Namaku Gandhi. Bukan Sugandhi, tho mas. — kata Gandhi pula meniru gaya bahasa tamunya. Dan ketika tamunya itu telah pergi Gandhi menoleh ke arah Chairil Anwar untuk menanyakan bagaimana caranya orang itu bisa sampai datang ke pertemuan. Tapi Chairil tidak berada lagi7ci tem- patnya. Marilyn Monroe pun ti- dak.

Ini tidak mengenakan Gandhi. Karena tanpa sekretaris pertemuan tidak mungkin dapat dimulai.

Padang, 11 Januari 1986