Lompat ke isi

Majalah Horison/1986/Nomor 7/Kucing Gubernuran

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Bertanya Kerbau Pada Pedati
oleh Ali Akbar Navis

Kucing Gubernuran

A. A. NAVIS

Kalau Panitia Pengarah cerdik tentu ia tidak akan meletakkan Banda sebagai pembawa makalah pada ‘session’ sesudah makan siang. Banda suaranya rata bagai bunyi lebah terbang melingkar di ruang sempit, Apalagi topiknya kadaluwarsa dengan uraian serba mengutip macam-macam pidato orang-orang resmi dan berbagai macam undang-undang, lengkap dengan nomor dan tahun diterbitkan. Akibatnya tentu saja banyak peserta yang mengantuk, Lalu, untuk mengatasi kantuk, orang sering ke luar ruangan. Entah untuk membasuh muka, entah kencing atau mencari teman ngobrol. Saya pun mengantuk. Meski telah ke luar dan membasahi muka kuyup-kuyup, namun kantuk segera menyerang lagi sebaik saya duduk di kursi. Karena kantuk yang tak tertahankan itu, saya lagi-lagi menggerutui Panitia Pengarah. Saya pun mengomel pada teman di samping saya dengan mengatakan bahwa birokrat seperti Banda tidak sepatutnya diajak serta dalam seminar itu, meski karena alasan basa-basi karena kantornya ikut membiayai seminar.

Untuk mengatasi kantuk, saya bolak balik buku catatan saya. Saya tertegun pada ucapan-ucapan Prof. Alatas, sarjana ahli ilmu korupsi itu. Dalam catatan saya tertera: — Hubungan tikus dengan pembangunan. Sensus tahun 1963 di Indonesia menyebutkan bahwa 30% hasil padi habis dimakan tikus. Jumlah itu dapat memberi makan penduduk Singapura selama 16 tahun. Kalau pemerintah mau membangun dengan hasil yang maksimal, perlu diprogramkan pula upaya pemberantasan tikus. Dengan membiarkan tikus bersimaharajalela, lambat-laun binatang itu akan mempengaruhi tabiat manusia juga. Karena itu berantaslah tikus, agar manusia tidak berperangi tikus.

Tiba-tiba bahu saya ditepuk teman di samping saya sambil berkata: — Lihat tuh, Pak Mangku. Apa yang dicatatnya begitu asyiknya?—

— Barangkali berkiat untuk melawan kantuk. — kata saya, — Dari pada ngobrol, itu lebih sopan.—

Kemudian perhatian saya terpusat juga pada Pak Mangku. Antara kantuk dan usaha melawannya, saya ingat pada masanya jadi gubernur. Ingat padanya sebagai gubernur, saya pun jadi ingat pula pada beberapa orang yang pernah jadi gubernur. Yang pernah datang dan pergi mendiami bangunan besar yang disebut orang sebagai gubernuran, tempat saya menghadiri seminar ini. Gubernuran itu semenjak dulunya sudah rumah kediaman gubernur juga. Ketika jabatan gubernur di pindahkan ke kota lain, jadilah ia rumah residen.

Dan sejak Indonesia merdeka, jabatan gubernur diadakan lagi, maka gedung itu kembali jadi ramah gubernur. Tapi pada zaman Jepang, ia ditempati oleh panglima militer. Dimulai dari zaman itulah tikus pun mulai berkembang di sana, Telah macam-macam cara untuk membasminya setelah Jepang pergi. Misalnya dengan perangkap, dengan menyebarkan racun tikus dan bahkan dengan memelihara kucing, Tapi kemudian menurut kisahnya dengan memelihara kucinglah usaha pembasmian yang paling efektif.

Upaya pertama pembasmian ialah dengan memasang perangkap. Tapi hasiinya sangat minim. Rupa-rupanya setelah sekali perangkap itu berhasil, tikus yang Jain tidak mau terjebak lagi. Lalu disebarkanlah racun di setiap pelosok, Namun racun menimbulkan masalah baru. Tikus yang termakan racun, menemui ajalnya di sebarang tempat. Bahkan ada yang mati di kamar tidur atau di kamar kerja gubernur. Lambat-laun bau busuk menyebar ke seluruh pelosok gubernur. Mula-mula bau busuk itu memang menyebalkan, namun kemudian semua hidung penghuni menjadi imun. Imunisasi pada indra hidung nampaknya menular kepada semua staf kantor gubernur, terutama pada mereka yang sering datang menghadap. Malahan orang-orang yang datang sekali-sekali pun hi dungnya imun. Karena tidak seorang pun yang menutup hidungnya di gubernuran itu.

Ketika gubernur berganti, gubernur baru serta merta membaui kebusukan yang menyebar itu. Tindakan pertama yang dilancarkannya ialah membasmi kebusukan itu secara tuntas. Macam-macam caranya. Seluruh bangunan dicuci dan dibilas dengan karbol. Peralatan diganti dengan yang baru, Dan sewaktu-waktu perfume spray disemprotkan, Lebih-lebih bila tamu dari pusat datang. Sehingga kebusukan bisa tersamarkan,

— Bagaimana pun usaha saudara menutup-nutupinya, namun yang busuk itu tetap terbau juga, Saudara gubernur.— kata menteri ketika hendak kembali ke Jakarta setelah sehari menginap di gubernuran.

Gubernur lalu memanggil staf nya untuk membicarakan bau busuk yang tak kunjung hilang itu. Tapi tak seorang pun dapat menemukan caranya. Karena dalam pikiran mereka, jika pun masih ada bau, taklah mungkin itu disebabkan bangkai tikus. Gubernuran telah lama dibersihkan. Kalau pun masih ada satu dua bangkai tikus yang tertinggal dulunya, pastilah sudah mengering dan tidak bau lagi. Namun, soalnya menteri telah berkata.

Maka diundanglah Prof. Alatas untuk membantu memecahkan masalah, Dan meski pun profesor itu ahli di bidang korupsi, tapi ketika baru saja ia sampai di gubernuran, ia sudah tahu apa yang sedang melanda gubernuran itu.

— Di gubernuran itu terlalu banyak tikus, Pak Gubernur. Baiknya diberantas dengan cara alamiah. Peliharalah kucing.— kata profesor itu seraya membarut-barut jenggotnya yang hitam lebat itu.— Memakai perangkap tidak efektif. Sekali perangkap itu berhasil, maka tikus lain akan menghindar, meski dikasih umpan yang luar biasa daya tariknya, IQ tikus bukan main tingginya, Pak Gubernur,—

Maka di peliharalah lima ekor kucing dengan komposisi satu jantan dan empat betina. Tak seorangpun yang tahu apa alasan komposisi itu yang dipakai. Profesor itu tak pernah menganjurkannya, Mungkin ahli psikologi yang dapat menjawabnya.

Tapi kucing mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi, Meski tingkat kesuburan tikus lebih tinggi. Namun kehadiran kucing, yang kian lama kian banyak itu, betulbetul menyebabkan semua tikus lari kucar-kacir. Mereka berpindah ke gedung-gedung sekitarnya. Gubernuran kini betul-betul bersih dari tikus. Bau pesingnya pun, yang selama ini menggoda hidung para tamu, sudah lenyap, Perfume spray tak lagi perlu disemprotkan pada waktu-waktu bertamu.

Memelihara kucing akan memerlukan biaya yang khusus. Bukan hanya untuk makannya saja, tapi juga untuk menggaji tenaga yang spesial, di samping seorang dokter hewan yang akan mengontrol kesehatannya. Sebab kucing yang tak terawat akan menyebarkan kutu-kutu, Tapi yang terutama kucing bisa ketularan rabies, Nyawa gubernur dan nyawa-nyawa staf yang berjabatan tinggi itu bisa terancam. Pemerintah bisa runyam juga karenanya, bukan? Memang biayanya menjadi tinggi. Tapi beruntung saja tidak sampai memerlukan pengesahan DPRD, asal dapat dicarikan dari anggaran lain-lain yang syah. Lagi pula terasa tidak lucu apabila anggaran belanja untuk memelihara kucing sampai dibicarakan pada anggota DPRD, yang umumnya sangat kritis itu.

Kehadiran kucing betul-betul efektif. Meski tidak seekor pun tikus yang pernah ditangkap kucing-kucing yang banyak itu, karena telah keburu lari ke rumah-rumah tetangga atau bersembunyi ke tempat yang aman, namun pada hakekatnya kucing-kucing itu tidak pernah bertugas. Dalam pengertian membasmi tikus. Oleh karena perawatan yang baik dan nilai gizi makanannya yang tinggi, populasinya menjadi berlipat dari bulan ke bulan. Dan badannya gemuk-gemuk, Langkahnya menjadi dambin. Dan setiap kursi tamu menjadi tempat bergelung enak-enakan, Tidur pun juga di kursi. Dan kalau ada tamu, sulit mengusirnya pergi. Perlu digendong dulu untuk menyingkirkannya.

Saatnya sudah tiba untuk dirasionalisasi sampail pada jumlah yang pas untuk’ mencegah rembesan tikus dari luar. Akan tetapi gubernur sudah terbiasa dengan kucing yang banyak, Sedang tingkah laku anak-anaknya yang kecil-kecil itu menjadi hiburan yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak gubernur sendiri. Mereka, kucing-kucing itu, telah menjadi makhluk yang tak terpisahkan dari lingkungan gubernur.

Kucing termasuk binatang yang paling rendah IQ—nya. Malah lebih rendah dari tukus. Dan kemanjaan yang telah diberikan gubernur kepadanya, ada kalanya mereka seperti bersikap kurang ajar pada para tamu-tamu gubernur sendiri, Selain tidak mau beranjak dari kursi yang bakal diduduki tamu, malah ada kalanya juga mereka tega mengencingi celana tamu atau melompat ke pangkuan ibu-ibu yang, tengah mendengar wejangan. Namun demikian tak seorang pun yang jera datang ke gubernuran.

Tapi ketika gubernur kedatangan duta besar dari negara sahabat, tingkah laku kucing itu menimbulkan kegemparan. Isteri gubernur bagai terkena histeria, Mukanya merah dikala tamunya masih ada, tapi menjadi pitam ketika tamunya pergi. Soalnya terjadi insiden kecil karena ulah kucing itu. Semuanya mengeong-ngeong kasmaran sepanjang malam, sehingga duta besar dan isterinya tidak bisa tidur.

— Enyah kucing itu semua. — teriak istri gubernur setelah tamunya pergi.

Tapi persoalannya tidak semudah teriakan itu. Karena kucingkucing itu telah berjasa mengamankan gubernuran dari tikus-tikus,

Seorang pengusaha yang telah berhasil menebas habis hutan pada sebuah pulau, hingga pulau itu menjadi kuning jika dilihat dari udara, mendengar juga insiden itu. Ia datang membawa seekor kucing dalam sebuah kardus.

— Di sini sudah terlalu banyak kucing.— kata istri gubernur sedikit tengik, berbeda dari biasanya bila kedatangan tamu yang seorang ini.

Tapi kucing ini bukan kucing pribumi, Bu. Kucing pribumi memang suka mengacau. Makan banyak, kerjanya hanya tiduran saja. Potongannya pun jelek. Kucing ini kucing Parsi, Bu. Tapi aku bawa dari Hongkong. Sebelum ke Hongkong, aku sudah punya yang jantan. Aku bawa dari Paris. Tapi ketika aku kembali dari Hongkong kemarin, tahunya kucing dari Paris sudah mati. Digilas mobil, Bu, Jadi aku bawa saja yang ini sekarang. Kapan-kapan aku ke luar negeri lagi, akan aku cari pasangannya. Biar Ibu punya sepasang Kucing multinasional.—

Istri gubernur merasa terpikat sekali melihat kucing yang berbulu tebal dan bermaita jeli itu. Setelah membarut-barut bulunya yang tebal itu selagi di pangkuannya, istri gubernur itu berkata pula. — Bagaimana ia bisa bergaul dengan kucing-kucing di sini?. —

Pengusaha yang tidak mengetahui sejarah kucing gubernuran itu, hanya menjawab dengan singkat; —Buang semua, Bu.—

Akan tetapi istri gubernur tidak tega melenyapkan semua kucing itu dari rumahnya. Gubernur pun tidak tega. Katanya:—Meski saya sanggup membasmi pencoleng-pencoleng di kantor saya, tapi untuk membasmi kucing-kucing yang ada di sini, tidak manusiawi —

— Ah, bereslah itu, Pak Gubernur.—kata pengusaha itu lagi,

Dan ketika gubernur dan istrinya kembali dari luar negeri memenuhi undangan duta besar yang pernah jadi tamunya itu, didapati rumahnya terasa begitu sepi. Ada sesuatu yang dirasanya hilang. Lama ia termangu-mangu memikirkan apa yang telah terjadi sepeninggalnya, Kemudian ketika sepasang kucing Parsi mengeong-ngeong keluar dari kamar tidur anaknya, tahulah ia bahwa puluhan kucing yang telah menjadi makhluk yang tak terpisahkan dari lingkungan gubernuran itu, telah tiada.

Dan gubernur tidak menanyakan kepada siapa pun bagaimana kucing-kucing itu lenyap. Malah dalam hatinya bersyukur, Karena ketika ia di Roma, ia telah melihat kucing begitu banyaknya di Colloseum, bangunan purbakala yang sebagiannya telah runtuh itu. Ada perasaan ngeri ketika ia melihat kucing-kucing itu bercokol di bawah relung-relung yang suram di kala senja.

Konon kucing-kucing gubernuran itu dimasukan ke dalam sebuah truk, lalu dilemparkan di tengah hutan yang jauh. Hutan yang belum ditebas oleh pengusaha itu. Dan kucing-kucing itu, sebagaimana manusia juga, yang selama ini hidup dimanjakan, lalu tiba-tiba terlempar ke hutan belantara, banyak yang menemui ajalnya. Tapi yang kuat, hidup dengan liar sesuai dengan hukum rimba yang berlaku, Dan sekali waktu, yang masih hidup itu menemukan jalan pulang, Didapati mereka gubernur sedang tidur siang di samping istrinya. — Gubernur, apa dosa kami, makanya kami disingkirkan? Apakah karena kami cuma pribumi? Pada hal kami telah berjasa membasmi tikus,—

Gubernur terbangun karena digoyang-goyang istrinya, sebab ia berteriak-teriak dalam mimpinya. Berkali-kali ia membaca Istigfar. Namun sejak itu kondisi fisiknya sangat melorot, bersamaan dengan kelelahan pada mentalnya. Sehingga pemerintah terpaksa menggantinya dengan orang yang lebih muda, Akan tetapi pada waktu itu, tikus-tikus telah mulai lagi bersarang di gubernuran.

Dan ketika saya menggangkat kepala, Pak Mangku masih juga menulis dalam buku catatannya. Tapi jari jemarinya telah begitu sering memijit-mijit pangkal hidungnya. Hanya beberapa orang saja yang masih bertahan duduk di tempatnya. Sedangkan Banda masih terus membaca makalah di mimbar. Dan kantuk saya pun mulai menyerang lagi,

Padang, 5 Oktober 1984