Majalah Horison/1972/Nomor 8/Harimau Penjair
Harimau-Penjair
TON NAKAJIMA
LI CHENG terkenal sebagai seorang
jang tjerdas. Pada usia muda sudah
lulus udjian pegawai tinggi dengan hasil
memuaskan. Namanja langsung sadja
ditjantumkan pada daftar militer. Dan
tidak lama kemudian, ia diangkat sebagai
Kapten Pengawal di daerah lembah
Yangtze.
Ia menerima pengangkatan ini. Sajangnja tidak lama karena ia mulai memberontak terhadap tata tertib ketat jang berlaku. Sikap ini lahir dari sifatnja jang angkuh dan ingin bebas. Lagi pula ia meremehkan kedudukan itu karena dinilai terlalu rendah untuk bakatnja. Mengingat kenaikan pangkat dalam dinas pemerintahan memerlukan waktu, ia mengadjukan permohonan berhenti. Li Cheng memutuskan segenap hubungan dengan kerabat dan bekas teman-nja. Lalu tinggal bersama keluarga di tempat asalnja Koulueh untuk memusatkan perhatian kepada penulisan puisi. Tinimbang menghabiskan waktu dari tahun ke tahun sebagai bawahan dalam dinas, mendengarkan perintah para atasan, bukankah lebih baik, pikirja, aku hidup sebagai manusia bebas jang penuh kebesaran sambil menulis puisi. Siapa tahu namaku terpampang sebagai penjair besar?
Sialnja, tekad sadja tidak tjukup mendjadikan seseorang penjair jang berhasil. Tidak terlalu lama Li Cheng sudah menghabiskan harta bendanja. Sesudah itu dirinja mulai bergelut dengan kenjataan hidup praktis. Pemuda berwadjah tampan dengan wadjah bulat jang lulus dengan prestasi Juar biasa pada udjian pegawai tinggi, sudah tiada. Sebagai gantinja tampak wadjah keras dengan pantjaran sinar mata jang mentjerminkan kegagalan mentjapai tudjuan.
Beberapa tahun kemudian ia sudah tidak tahan lagi terhadap kemiskinan jang lahir dari keinginannja untuk menjair. Muntjul kesadaran bahwa sifat angkuhnja harus ditekan dan menerima suatu djabatan agar ia bersama keluarga mendapat makanan dan sandang. Ia melamar pada Badan Pegawai Negeri dan mendapat pekerdjaan sebagai Asisten Kepala Distrik di propinsi timur. Pada saat itu teman²nja sudah menduduki djabatan lebih tinggi sehingga Li Cheng terpaksa menerima perintah dari orang jang dulu dalam daftar lulus djauh berada dibawahnja. Malah kebanjakan dari mereka pernah disebutnja dungu atau kepala batu. Suasana tertekan ini dan sisa penderitaan selama bertahun hidup sebagai penjair, membuat Li Cheng mendjadi pemurung dan penuh kepahitan. Ini berlarut-larut hingga kadang ia berada dibatas antara normal dan tidak normal.
Setahun sesudah memangku djabatan baru, ia dikirim untuk melakukan perdjalanan ke daerah selatan. Dalam perdjalanan itu ia menginap di sebuah losmen dekat sungai Ju. Dan disitulah setjara tiba ia mendjadi gila. Tengah malam terdengar ia mengeluarkan teriakan dahsjat. Dengan wadjah mengerikan dan mata terbelalak ia melompat dari djendela dan sebelum orang dapat menahannja, ia sudah menjuruk diantara kelam. Keesokan harinja regu pentjari langsung dikerahkan, tetapi meskipun mereka sudah mendjeladjahi seluruh perbukitan, toh djedjak Li Cheng tidak ditemukan. Ia djuga tidak kembali lagi dan keluarganja tidak pernah mengetahui nasibnja jang djelas.
Tahun berikutnja seorang penilik sensor Yuan Ts'an dari lingkungan propinsi itu mengadakan perdjalanan keliling atas perintah pemerintah pusat dan bermalam di Shangyu, dekat sungai Ju.
Keesokan pagi ketika ia ingin melandjutkan perdjalanan, tuan tanah setempat memperingati bahwa seekor harimau memakan manusia terlihat berkeliaran di djalan jang menudju ke selatan.
"Orang jang hendak menudju arah itu diandjurkan agar tidak menempuhnja bila hari masih gelap," kata tuan tanah. "Karena itu, bolehkan aku menasehatkan agar bapak menunggu hingga terang hari?"
"Terima kasih," sahut Yuan Ts'an, "tetapi aku membawa pengawal jang gagah berani." Tanpa bitjara lebih landjut ia langsung naik kuda dan meninggalkan losmen itu dengan diiringi pengawalnja.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada ditengah padang rumput jang lebat dibawah penerangan tjahaja bulan. Tiba² seekor harimau melontjat dari sisi djalan. Sambil meraung dengan dahsjat. hewan ilu menerdjang kearah Yuan Ts'an. Pada saat hewan itu terpisah hauja beberapa langkah sadja, setjara mendadak ia berpaling dan kembali masuk ke semak belukar.
Untuk sedjenak keheningan menguasai semuanja. Lalu dari balik semak terdengar suara jang tidak asing lagi: "Masjalah! Hampir sadja!"
Meskipun Yuan Ts'an sangat terkedjut, ia masih mengenali suara itu. "Bukankah itu suara sahabatku Li Cheng?" serunja.
Yuan Ts'an dan Li Cheng menempuh udjian penghabisan bersama dan sedjak itu mendjadi sahabat karib selama beberapa tahun. Hanja seorang seperti Yuan Ts'an jang tjukup sabar dapat mengimbangi sifat Li Cheng jang terkenal keras dan melondjak² itu.
Pertanjaan itu untuk sesaat tidak memperoleh djawaban, hanja suara isak jang aneh. Achirnja terdengar suara jang setengah meratap: "Benar, akulah Li Cheng jang pernah tinggal di Kuolueh. Sahabatmu."
Lupa akan takutnja, Yuan Ts'an turin dari kuda dan menghampiri semak² itu. "Datanglah kemari, kawanku," katanja, "dan kita dapat bertjakap²."
"Wahai," djawab suara itu, "Aku sudah terlandjur salin rupa! Aku malu djika kau melihat bentukku jang sekarang. Aku tahu bahwa tjukup kau sekilas sadja memandangku, maka itu mengisi dirimu dengan ketakutan dan menistakan. Tetapi karena kita sudah bertemu sekarang, aku berharap kau tetap disitu dan kita dapat bertjakap dengan usah saling memandang."
Ketika Yuan Ts'an mengenang kembali pertemuan itu, ia merasakan suatu kegaiban. Tetapi saat itu semuanja tampak biasa. Tepat seperti bila bermimpi, kita tidak mungkin menolak hal-hal jang paling aneh sekalipun. Ia memerintahkan pengawalnja untuk menanti, lalu merapat kan dirinja kepada semak² untuk mulai berbitjara dengan temannja.
Mula² ia mentjeritakan berita² dari ibu kota, gossip terachir mengenai bekas teman² sekolah mereka dan suasana dari pekerdjaannja sekarang. Suara dari balik semak itu mengutjapkan selamat atas pangkat jang ditjapainja. Sesudah itu kesunjian jang mentjengkam menguasai keduanja. Achirnja Yuan Ts'an memaksa diri menga djukan pertanjaan: "Apakah jang terdjadi atas dirimu?"
Dari balik semak² jang tinggi itu suara Li Cheng mentjeritakan kisah ini:
“Setahun lalu aku dikirim ke selatan untuk sesuatu tugas. Di tengah perdjalanan aku menginap di dekat sungai Ju. Aku tjepat masuk kamar dan langsung tertidur. Tetapi sebentar kemudian aku terbangun oleh suatu suara aneh jang memanggil namaku. Aku membuka djendela dan memandang keluar. Dari arah kelam sebuah suara jang tidak djelas memanggilku dan sesuatu mendorong diriku untuk memenuhi panggilan itu.
“Tanpa ragu aku lontjat dari djendela dan berlari diantara kegelapan, Lari terus bagaikan sedang kerasukan tanpa tudjuan jang djelas. Tanpa kutahu lagi diriku sudah berada di djalan setapak jang menudju hutan. Dan jang mengedjutkan, aku melihat diriku berlari diatas keempat anggota tubuh. Aku merasa diriku sanggup berlari lebih tjepat dalam posisi ini. Selagi berlari, terasa kekuatan gaib mengisi tubuhku jang membuatku sanggup melontjat setjara ringan di antara batu²-an dan batang pohon. Lalu terlihat bulu tebal mulai tumbuh diantara djari²-ku, tangan dan bahuku, sebenarnja sudah meliputi seluruh tubuh. Pada saat itu aku sudah terlupa akan suara tadi, tetapi diriku masih tetap meladju ― berlari demi lari itu sendiri, agaknja.
"Ketika matahari mulai memantjarkan sinarnja, aku berhenti di tepi anak sungai dan memandang kearah air jang djernih. Langsung sadja aku melihat bahwa diriku sudah berubah djadi seekor harimau sempurna. Begitu kedjutan pertama hilang, aku dapat menarik napas lega karena semua ini hanjalah mimpi belaka. Memang aku sering mimpi jang buruk, dimana aku sadar bahwa diriku sedang mimpi. Tetapi berdjam² kemudian aku terpaksa menerima kenjataan bahwa semua ini bukanlah mimpi. Saat itulah untuk pertama kalinja aku benar² diliputi ketakutan maha dahsjat. Jang paling kutakutkan ialah perasaan bahwa semua norma² hidup normal sudah hantjur dan sedjak saat itu apapun dapat terdjadi, termasuk jang paling menegrikan.
“Aku berbaring diantara rerumputan dan mulai merenungkan semuanja setjara seksama. Mengapa semua ini terdjadi? Aku menanjakan diri sendiri, tetapi tiada djawaban jang keluar. Sambil merenung di sisi batu, sadarlah aku bahwa semua orang tidak pernah mengetahui pasti mengapa sesuatu menimpa dirinja. Bukankah semua manusia dikontrol seluruh hidupnja oleh kekuatan² jang hanja sedikit ― atau sama sekali, tidak mereka ketahui? Bidjaksana muntjul bila kita me lakukan penjerahan total dan tidak berdjuang melawan nasib sendiri seperti jang kulakukan. Sekarang semuanja sudah terlambat. Hidupku sebagai manusia merupakan sebuah djaring² perdjuangan dan pemberontakan²; pendjernihan tiba ketika semuanja sudah tidak berguna lagi. Aku memandang tubuhku dan berharap lebih baik aku mati sadja.
“Pada saat itu seekor kelintji liwat hanja beberapa meter dari tempat dimana aku mendekam. Dalam waktu sesaat sadja semua unsur kemanusiaan meninggalkan diriku. Ketika kesadaranku pulih, mulutku basah oleh darah segar dan bulu² halus bertebaran tidak djauh. Itulah pengalamanku jang pertama hidup sebagai harimau. Kengerian dan kekasaran jang ku lakukan sedjak itu sudah tidak terhitung.
“Hanja selama beberapa djam dalam sehari kesadaran sebagai manusia muntjul dalam diriku. Pada saat itu aku dapat berbitjara seperti jang sekarang kulakukan denganmu babkan dapat memikirkan hal² jang paling rumit sekalipun. Benar, aku djuga dapat membatjakan bagian² indah dari buku² klasik.
Djuga mampu mengingat peristiwa² mengerikan jang kulakukan selama djadi harimau; di telingaku bergema djeritan para kurban dan seluruh diriku diliputi rasa malu, takut serta menistakan naluri hewaniah diriku.
“Minggu berikutnja djangka waktu kesadaran itu kian pendek sadja. Djika sebelumnja aku terus berpikir bagaimana diriku mungkin berubah djadi harimau, sekarang diriku diliputi pertanjaan lain: bagaimana aku pernah mendjadi manusia? Ini merupakan pertanda jang mengerikan, bukan? Tidak lama lagi semua kenangan masa lampau tersapu bersih dan djiwa manusia jang masih kumiliki untuk tempo² pendek, akan menguap ― tepat seperti istana kuno jang tertutup oleh tanah dan pasir. Pada saat itu aku tidak lebih dari seekor binatang buas belaka, musuh di rimba ini jang bila bertemu denganmu, Yuan Ts'an, sanggup mengojak² dirimu tanpa perasaan djengah sedikitpun......"
Suara itu menghilang untuk sesaat dan Yuan Ts'an hanja mendengar tarikan napas jang berat. Lalu suara itu muntjul lagi tapi terasa dilakukan dengan susah pajah sekali:
“Achir² ini suatu pikiran terus membajangi diriku ― memang tidak orisinil, tetapi sebelumnja tidak pernah kumengerti. Bukankah kita semua ― baik manusia maupun binatang ― pada suatu ketika membentuk udjud lain? Ketika masih muda kita hanja dapat mengingat sedikit sekali kenangan masa sebelumnja, tetapi begitu kita terbiasa dengan bentuk baru itu, kita terdjerumus ke dalam illusi bahwa kita selamanja seperti itu.
“Baiklah, meskipun itu benar, pemikiran² abstrak seperti itu tidak lama lagi akan tersapu dari benakku. Meskipun tanpa ragu aku merasa akan lebih berbahagia bila unsur kemanusiaanku lenjap, toh pikiran kearah itulah jang sangat kutjemaskan, Gambaran akan mendjadi binatang buas jang tidak lagi memiliki kenangan akan bentuk diri sebelumnja, merupakan peristiwa jang tidak mungkin dilukiskan datam kata². Wahai, itulah nasib jang me rungguku, tak mungkin dielakkan lagi...”
Sekali lagi suara itu lenjap. Keheningan menguasai semak belukar dimana mereka berada. Yuan Ts'an dan pengawalnja berdiri dengan napas tertahan, terpukau oleh keheningan jang bening. Lalu, suara itu terdengar sekali lagi:
"Sebelum meninggalkan kebesaran manusia setjara total, aku ingin agar kau meluluskan permintaan ini."
"Katakan," sahut Yuan Ts'an. "Permintaanmu akan dipenuhi."
"Permintaanku hanja ini. Ambisi dari hidupku ialah mendjadi seorang penjair besar, tetapi sebelum terwudjud aku sudah mendjadi begini. Dari banjak sadjak jang kususun, mungkin tidak ada lagi jang masih bertahan. Tanpa ragu kupikir semuanja sudah lenjap bagaikan asap ditiup angin, Sisa dari semua itu tinggal beberapa buah jang masih kuingat. Tulislah sadjak ini dan usahakan agar nasibnja tidak seperti jang menulisnja.
"Djangan kau mengira, kawanku, bahwa
dengan kekuatan sadjak² ini aku akan
mendjadi penjair besar! Jang mendjadi pikiran
ialah diriku tak mungkin meninggalkan
dunia ini tanpa tahu bahwa sekurang²nja
sedjumlah sadjak jang menuntut pengurbanan
dari karier, kekajaan dan achir
tanpa djuga ingatanku, turut lenjap tanpa
bekas."
Yuan Ts'an memerintahkan salah seorang
pengiringnja mengambilkan kwas dan men
tjatat semua sadjak di rerumputan itu.
Dalam suara jang djernih Li Cheng mem
batjakan tiga puluh sadjak aneh bergaja
angkuh dan penuh perasaan mendalam.
Meskipun begitu, selagi Yuan Ts'an menulis
sadjak² itu ia melihat bahwa temannja
tidak mungkin mendjadi penjair besar
seumur hidupnja. Li Cheng memang
seorang penulis jang ahli dan tjerdas, tetapi
ia tidak memiliki pantjaran ketjerdasan
tinggi jang mampu menghidupkan puisi.
Ketika Li Cheng selesai membatjakan sadjak-nja, ia berhenti sebentar lalu menjambungnja dalam nada keras dan agak memandang rendah ― nada jang tetap diingat oleh Yuan Ts'an sedjak masa peladjar mereka:
"Memang absurd sekali. Malam hari ketika berbaring didalam gua, aku mimpi kumpulan sadjakku sudah di djilid mendjadi satu dengan sampul indah dan tergeletak diatas medja seorang tjendekiawan ibukota. Ia mengambil buku itu dengan penuh hormat dan mulai membatja ...... Pikiran jang dungu! Ketawalah! Tertawakan orang dungu ini jang mimpi mendjadi penjair besar tetapi hanja mendjadi harimau!"
Perasaan Yuan Ts'an djauh dari andjuran itu selagi ia mendengarkan suara temannja jang penuh kepahitan. Ia teringat betapa di masa lampau sikap kompleks dari Li Cheng ini merupakan tjiri²-nja jang chas.
"Benar, diriku hanja sasaran tertawan sadja," sambung Li Cheng dalam nada jang mentjibirkan kalimat itu sendiri. "Dan inilah sebuah sadjak terachir, melalui mana kuingin kau mengingat diriku. Aku menjusunnja pada saat salin rupa itu terdjadi ...... sebuah sadjak mengenai seorang dungu seperti aku,"
Yuan Ts'an menjuruh bawahannja melandjutkan tugasnja. Dan Li Cheng mulai membatja:
Musibah datang berturut
Hingga pikiranku menjerah;
Penjakit menggerogoti untuk
Mendjadikan diriku ke bentuk ini.
Sekarang aku menghuni gua kotor
Ketika kau menunggang kereta kentjana.
Malam tadi aku berdiri dipuntjak bukit
Menatap sinar perak rembulan.
Bukan raung barimau jang
bergema diperbukitan,
Tapi djerit penderitaan.
Sementara itu tjahaja rembulan, embun pada rumput dan angin dingin semilir menundjukkan bahwa pagi sudah mendekat. Yuan Ts'an dan pengikutnja telah sadar dari kedjutaan nasib jang menimpa Li Cheng. Mereka tidak lagi takut terħadap harimau-penjair, tetapi mulai kasihan terhadapnja.
„Wahai Betapa tragis nasib manusia!” gumam mereka. „Dengan kepandaian dan bakatnja ― toh nasib menghendaki achir jang begini.”
Lalu suara Li Cheng terdengar lagi.
„Tadi sudah kukatakan bahwa diriku menolak sebab dari perubahan wudjut int. Dan itulah jang kulakukan ketika semuanja baru terdjaḍi. Dalam tahun terachir, aku berpikir diriku telah sanggup menerima sekeping kebenaran.
„Ketika masih mendjadi menusia aku menutup diri dirumah keluarga dan meninggalkan semua orang. Orang mengira sikapku itu menundjukkan keangkuhan dan aneh, tanpa sadar bahwa alasan terbesar lahir dari kehilangan akan kepertjajaan diri sendiri. Aku berterus terang padamu bahwa disiku ― selaku orang paling tjerdas diseluruh kota ― penuh perasaan bangga. Tetapi kebanggaanku merupakan kebanggaan jang malu² ― kebanggaan seorang penakut.
Meskipun telah memutuskan untuk mendjadi penjair, aku enggan beladjar di bawah guru jang ahli atau dengan sesama seniman. Semua itu karena ketakutan akan kejakinan diri sendiri karena setjara tidak sadar aku tjemas bahwa bila bergaul dengan sesama penjair, ketjemerlanganku sebagai seorang genius hanja merupakan kenangan masa lalu belaka.
„Sedang saat itu aku berharap dan setengah jakin bahwa semua kemampuan itu benar suatu kenjataan dan aku memutuskan untuk tidak bergaul dengan orang jang tak mengedjar tudjuan seni. Dengan begitu aku memutuskan hubungan dengan dunia luar dan hidup mengisolasikan diri didalam lingkungan keluarga sadja. Kian lama ketika kesulitan keuangan mulai muntjul, aku malah tambah memandang orang lain sebagai budak dari uang. Tetapi bersamaan dengan itu muntjul ketakutan bahwa diriku bukanlah seorang genius sedjati. Kebanggaan dan kehilangan kepertjajaan kedua unsur itu berketjamuk mendjadi satu bagaikan bagian dari diriku.
„Bukankah pernah dikatakan bahwa alamiah kita merupakan mahluk liar dan tugas kita sebagai manusia ialah mendjadi seorang pelatih jang menahan, luapan² hewaniah. Dan bahkan melatih untuk melakukan tugas jang bertolak belakang dengan kebuasan. Kebanggaan jang sudah kehilangan kepertjajaanku itu merupakan seekor binatang liar dan meskipun aku tjukup memiliki ketjerdasan serta berbudaja, diriku sudah hampir tidak sanggup mengontrol luapan hewaniah itu. Kebanggaan itulah jang merintangi aku mendjadi seorang penjair besar. Aku tahu banjak orang jang lebih tidak berbakat tetapi dapat mentjapai hasil seni memuaskan karena dengan rendah hati mereka menelan karja² orang lain dan mengadakan pengetrapan jang terus menerus. Benar, kebanggaan itulah jang menjeret keluargaku ke dalam djurang kemelaratan dan diriku ke lembah penderitaan! Kebanggaan jang sudah terlalu menguasai diriku itulah jang membuat aku terpaksa mengalami ganti rupa ini ― baik dalam bentuk, maupun djiwa.
„Sekarang waktu untuk menjesal telah berlalu. Hari²-ku sebagai manusia telah liwat dan sisa² terachir dari kemanusiaanku djuga mulai menguap. Alangkah sia²! Sajangnja! Seringkali mendjelang malam aku berdiri sendirian diatas batu²-an itu dan meraung ke arah lembah jang lengang. Tiadakah jang mengerti akan penderitaanku? Hewan ketjil jang mendengar raunganku langsung sadja merapatkan tubuh mereka dengan penuh ketakutan. Gunung² dan pepohonan, rembulan dan embun, mendengar djeritanku dan kagum terhadap keganasan raungan seekor harimau. Aku terdjun kebawah melempar diri ke atas tanah dan terus meraung sepandjang malam. Tetapi tidak seorangpun, tak ada, jang mengerti rasa putus asa jang mentjabik² diriku. Dan begitulah djuga keadaannja ketika aku masih mendjadi manusia.......”
Saat itu kelam hampir tersapu bersih sama sekali. Dari kedjauhan terdengar bunji terompet sang pemburu.
„Saat berpisah telah tiba,” udjar Li Cheng. Djam-djam kegaiban telah berlalu dan sebentar lagi aku mendjadi harimau baik dalam bentuk maupun djiwa. Tetapi idjinkan daku mengadjukan satu permintaan lagi, Bila kau kembali ke utara, datanglah kerumah keluargaku di Kuolueh. Djangan katakan apapun tentang pertemuan ini, sebaliknja katakan bahwa dalam perdjalanan ini kau mendengar berita tentang kematianku. Dan bila mereka kekurangan pangan dan perlindungan, kasihanilah mereka. Aku memohon dengan sangat."
Ketika Li Cheng selesai mengutjapkan kalimat itu, dari balik semak terdengar rintihan jang memilukan. Dengan hati tergugah, Yuan Ts'an berdjandji. Lalu terdengar lagi suara Li Cheng dalam nada jang sinis:
„Tanpa sangsi, kupikir kau sudah menduga bahwa permintaan jang kedua tadi kuadjukan lebih belakang. Dan engkau benar. Itu memang tepat karena aku termasuk orang jang mementingkan perhatian orang terhadap sadjak²-ku lebih dahulu dari pada kepentingan istri dan anak²-ku ketika aku sudah berganti rupa. Disamping itu, bolehkah aku mengandjurkan agar dalam perdjalanan pulang kau menempuh djalan jang lain? Pada saat itu mungkin aku sudah tidak mengenali sahabat lama lagi dan tidak ingin terbit pikiran bahwa djari²-ku akan mengojak tubuhmu sebelum digerogoti. Bila kau ingin mempererat persahabatan kita sekali lagi, pada saat kau tiba dipuntjak bukit jang berikut, berhentilah sedjenak dan menolehlah kebelakang. Saat itu kau akan melihat diriku untuk terachir kalinja dan dengan begitu lenjaplah keinginanmu untuk bertemu lagi."
„Selamat tinggal, kawanku,” kata Yuan Ts'an dengan hormat kearah semak belukar. Dengan gerak jang anggun ia naik kuda dan meninggalkan tempat itu dengan diikuti pengiringnja. Dari balik semak terdengar isakan jang tertahan.
Ketika iring²-an itu tiba dipuntjak bukit, Yuan Ts'an menoleh kebelakang menatap semak belukar jang baru mereka tinggalkan. Tiba seekor harimau melompat dari balik rerumputan. Selama sesaat hewan itu berdiri diatas djalan, lalu menengadahkan kepalanja ke arah rembulan sambil mengeluarkan raungan tiga kali, Selagi gema raungan jang terachir, belum lenjap, harimau itu melompat masuk semak belukar lagi dan hilang dari penglihatan, ***
Terdjemahan: Benjamin W.