Lompat ke isi

Majalah Horison/1970/Nomor 6/Karna dan Kunti

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Majalah Horison
Karna dan Kunti
oleh Rabindranath Tagore, diterjemahkan oleh M. Dawam Rahardjo

KARNA DAN KUNTI

RABINDRANAT TAGORE


Karna :
Aku adalah Karna, putera pahlawan mandala Adhirata, dan aku duduk disini, ditepi bengawan Gangga jang sutji untuk menjembab matahari terbenam. Katakan padaku siapa engkau.

Kunti:
Aku adalah perempuan jang membawa perkenalanmu jang pertama pada tjahaja jang sedang kausembah.

Karna :
Au tak mengerti. Tapi sotjamu mentjair kan hatiku bagaikan tjiuman matahari pagi, melelehkan saldju dipuntjak gunung dan suaramu menumbuhkan duka bitam dalam diriku, noktah diudjung kenangan jang tak terdjangkau oleh ingatanku. Ka- takan perempuan asing, tahasia apakah jang menalikan kelahiranku padamu ?

Kunti:
Sabar anakku. Aku akan mendjawab pa bila selubung gelap telah mulai turun me liputi kelopak sang rina. Tapi sementara itu kukatakan padamu bahwa aku adalah Kunti.

Karna:
Kunti Bunda Ardjuna!

Kunti:
Ja, sesungguhnjalah. Akulah bunda dari Ardjuna, seterumu. Tapi dengan demikian, djangan bentji daku. Masih kuingat dalam simpanan kenanganku, betapa dihari gla- dian perang dipadang Hastina, engkau, se prang botjah jang tak dikenal, menapak de- ngan berani ketengah arena, bagaikan dju- raian fadjar jang pertama diantara bin- tang dilangit malam.

Ab! Siapakah gerangan perempuan jang tak berbahagia itu, jang kedua matanja mengirimkan tjium mendjilati tubuhmu jang ramping dan telandjang lewat ham- buran air mats jang merestu padamu, se dang ia duduk diantara puteri kerajaan dibelakang singgasana? Mengapa ia bunda dari Ardjuna?

Kemudian sang Brahmin jang tangkas memainkan sendjata, menapak kemuka se- raja berkata,,Tak ada pemuda jang ma- sih bidjau muda jang patut menantang Ardjuna dalam perang tanding adu te- naga"..

Engkau tenang tak berkata. Bagai se- gumpal mega mendung kala mentari ter- benam, melampiaskan tjahaja kelam oleh rasa terhina.

Tapi siapakah itu, perempuan jang hati- nja terbakar oleh rasa malu dan amarah, menjala-njala dalam kediamannja? Bunda dari Ardjuna!

Segala pudji bugi Duryudhana, jang me ngetahui betapa nilaimu dan kemudian menganugerahimu mahkota Radja keradja an Anga. Keperwiraanmu mendjuarai Re- lurub Kurawa

Dipenuhi rasa bangga karena nasib jang membawa keberuntungan, Adhirata sang pablawan mandala menerobos dari gerom bolan manusia dan engkau seketika itu djuga menghambur kemuka dan meletak- kan mabkotamu dikakinja, sementara ter- dengar riuh rendah suara para Pendawa tertawa ber-sama kawan mereka.

Tapi adalah seorang perempuan dari golongan Pandawa jang hatinja menggelom bang oleh rasa bahagia, karena ia dapat melihat tentang kebanggaan seorang pab lawan ditengah suara penghinaan. Bubkan perempuan itu Bunda dari Ardjuna!

Каrna:
Tapi apakah jang membawamu, maka engkau datang kemari, wahai Bunda dari para radja?

Kunti :
Aku datang untuk membawa pinta.

Karna :
Perintahkan daku. Bahkan apa sadja, ke lakian dan kehormatan sebagai ksatria jang harus kupersembahkan kebawah duli kakimu.

Kunti:
Aku datang kemari untuk membawamu pergi.

Karna :
Kemana?

Kunti :
Kedalam dadaku jang dahaga akan tjin- tamu, anakku.

Karna :
Beruntunglah daku, wahai Bunda dari lima radja perkasa Tapi dimanakah di- kau bisa menemukan tempat bagiku, se- orang ketjil keturunan orang jang paling рара.

Kunti :
Tempatmu adalah dimuka semua putera* ku jang lain.

Karna :
Tapi karena hak apakah maka aku ha- rus mengambil anugerah itu?

Kunti :
Hak Dewa kepadamu sendiri, karena ia adalah tjinta seorang bunda.

Karna :
Selubung sendja jang belum meliputi bumi. Keheningan menggelombang diatas air. Dan suaramu menuntun daku kedunia hotjah jang kabur dalam himbauan kena- nganku. Betapapun, apakah ini banja su- atu mimpi, atau sebagian dari kenjataan jang dilupakan. Dekatlab, merapatlah ko- hadiratku, letakkan tangan kananmu di- atas keningku. Orang pernah kudengar berkata bahwa dahulunja aku adalah se orang botjah jang ditinggalkan oleh bua- danju kala haji. Mulam, ketika itu aku sedang tidur setengah djaga, seorang pe. rempuan datang padaku, tapi ketika aku berseru Bukalah tjadarmu, perlihatkan wadjahmu padaku!", bajangan wadjah itu lalu menghilang. Adakah mimpi malam jang sama telah datang padaku kimi, ke- tika mataku terdjaga ?

Lihat Dikedjauhan sana, lampu* nam- pak menjala dalam kemah' para puters- mu, nun diseberang sungai, dan ditepiau ini, lihat bertebaran kubah tenda kaum Kurawa-ku, bagai gelombang jang meng- baru dalam deburan badai laut. Sebelum perang menggemuruh diesok hari, dalam perdjoangan melawan himpitan sunji dite- ngah padang menganga, mengapa kini suara seorang ibu dari Ardjuna, musuhku, membawa padaku sebuah berita tentang keibuan jang dilupakan? Dan mengapa namaku barus membawakan ajanjian dari lidahnja untuk merenggut hatiku keluar dari padanja dan saudara lelakinja ?

Kunti
Djangan menunda anakku, mari bersa- maku!

Karna:
Ja, aku akan mengikutmu tanpa mena- nja, tanpa bimbang. Djiwaku menjeru ke pada panggilanmu. Perdjoangan untuk mentjapai kemenangan dan kemasjburan, kemarahan jang memantjar dari api ke- bentjian, tiba berubah mendjadi sesuatu jang tidak benar bagiku, bagai mimpi ma- lam jang mengabur dalam kedjernihan tjaja fadjar. Katakan. Kemana akan kau tuntun daku?

Kunti :
Ketepi lain diseberang sungai dimana lampu menjala berkedjaran dengan njala keputjatan disepandjang tanah pasir.

Karna:
Adakah disana daku akan mendjumpai bundaku jang telah hilang selama ini?

Kunti :
O, Anakku, anakku!

Karna :
Kenapa dulu engkau tinggalkan daku terusir dari tanah asal keturunanku, ter- apung dengan tiada rumah dan kehorma- tan? Kenapa sebuab djurang tak terhing- ga memisahkan daku dari Ardjuna, mem- belokkan hubungan saudara sekandung mendjadi hubungan kebentjian jang tak terpunahkan? Engkau tetap tak berkata. Rasa malumu melintas dalam kegelapan jang membentang dan memberikan daku gelombang gaib 'menggetarkan seluruh ang gotaku. Tinggalkan pertanjaänku tak ter- djawab Djangan sekali kauterangkan pa- daku apa jang menjebabkan dikau mereng gutku dari tjinta kasih bundaku! Hanja katakan padaku mengapa engkau telah datang sendja ini untuk memanggilku kembali pada reruntuban langit jang telah hantjur oleh tanganmu sendiri?

Kunti:
Daku di-kedjar kutuk jang djauh lebih dahsjat dari rasa hinamu, karena meski lima orang putera mengelilingiku, tapi hatiku mengalum seperti hati seorang perempuan jang terenggut sebab kehilangan anaknja. Lewat kojak-mojak karena keengkaran terhadap kelahiran anakku jang pertama, seluruh kesenangan hidupku hilang lenjap tak memberi arti. Pada hari terkutuk itu, ketika aku mengengkari keibuanku, engkau belum bisa mengeluarkan sepatah katapun, dan hari ini bundamu jang chianat memohon akan kata²mu. Biarkan permaafanmu membakar hatinja bagai api jang mendjilati segala dosa²nja.

Karna:
Bunda! Terimalah air mataku!

Kunti:
Aku datang bukanlah dengan harapan untuk memenangkan engkau kembali kedalam rangkuman lengan²ku, tapi aku datang untuk memulihkan hakmu kembali padamu. Datang dan terimalah djulukan putera radja, tempat kedudukanmu diantara saudara²mu.

Karna:
Jang lebih benar ialah bahwa aku adalah putera seorang pahlawan mandala dan tiadalah aku menginginkan kemegahan asal keturunan jang lebih luhur.

Kunti:
Djadilah engkau seperti jang seharusnja. Datang dan menangkan kembali kerajaan jang sudah mendjadi hakmu!

Karna:
Haruskah dikau, jang sekali telah me nolak ku mendapatkan tjinta bundaku, sekarang membudjuk dengan sebuah keradjaan? Ikatan darah jang telah pupus sampai akar'nja telah mati dan takkan bakal kembali tumbuh. Malu akan mentjoret dikeningku pabila daku memanggil ibunda dari radja sebagai ibuku dan melepaskan ibuku jang tinggal dalam rumah seorang pahlawan!

Kunti:
Engkau sungguh agung anakku! Betapa hukuman Dewa telah tumbuh dari sebesar bidji sawi mendjelma kedalam sebuah kehidupan jang besar. Baji jang terlantar, dibuang oleh ibunja sendiri, lalu mendjelma mendjadi seorang lelaki jang melalui segala kebalauan peristiwa, ditakdirkan untuk menghantjurkan saudara²nja sendiri.

Karna:
Bunda, djangan takut! Aku tahu dengan pasti bahwa kemenangan telah menantikan kaum Pandawa. Meski tenang dan damai suasana malam ini, tapi hatiku penuh diliputi irama pertaruban tanpa harap, meluntjur dalam djurang putus asa. Mintalah padaku untuk tidak meninggalkan mereka jang telah pinasti untuk kalah. Biarlah Pandawa memenangkan mahkota selama mereka harus begitu. Daku akan tinggal disini, dalam putus asa dan ketiadaan harapan.

Pada malam kelahiranku, engkau telah meninggalkan ku dalam telandjang dan tiada bernama, ditakdirkan untuk berdjalan menudju kekehinaan. Tinggalkan daku sekali lagi dengan tiada kasihan dalam kepastian harapan untuk kalah dan mati!

Terdjemahan:
M. Dawam Rahardjo