Majalah Horison/1970/Nomor 6/Karna dan Kunti
KARNA DAN KUNTI
RABINDRANAT TAGORE
Karna :
Aku adalah Karna, putera pahlawan
mandala Adhirata, dan aku duduk disini,
ditepi bengawan Gangga jang sutji untuk
menjembab matahari terbenam. Katakan
padaku siapa engkau.
Kunti:
Aku adalah perempuan jang membawa
perkenalanmu jang pertama pada tjahaja
jang sedang kausembah.
Karna :
Au tak mengerti. Tapi sotjamu mentjair
kan hatiku bagaikan tjiuman matahari
pagi, melelehkan saldju dipuntjak gunung
dan suaramu menumbuhkan duka bitam
dalam diriku, noktah diudjung kenangan
jang tak terdjangkau oleh ingatanku. Ka-
takan perempuan asing, tahasia apakah
jang menalikan kelahiranku padamu ?
Kunti:
Sabar anakku. Aku akan mendjawab pa
bila selubung gelap telah mulai turun me
liputi kelopak sang rina. Tapi sementara
itu kukatakan padamu bahwa aku adalah
Kunti.
Karna:
Kunti Bunda Ardjuna!
Kunti:
Ja, sesungguhnjalah. Akulah bunda dari
Ardjuna, seterumu. Tapi dengan demikian,
djangan bentji daku. Masih kuingat dalam
simpanan kenanganku, betapa dihari gla-
dian perang dipadang Hastina, engkau, se
prang botjah jang tak dikenal, menapak de-
ngan berani ketengah arena, bagaikan dju-
raian fadjar jang pertama diantara bin-
tang dilangit malam.
Ab! Siapakah gerangan perempuan jang tak berbahagia itu, jang kedua matanja mengirimkan tjium mendjilati tubuhmu jang ramping dan telandjang lewat ham- buran air mats jang merestu padamu, se dang ia duduk diantara puteri kerajaan dibelakang singgasana? Mengapa ia bunda dari Ardjuna?
Kemudian sang Brahmin jang tangkas memainkan sendjata, menapak kemuka se- raja berkata,,Tak ada pemuda jang ma- sih bidjau muda jang patut menantang Ardjuna dalam perang tanding adu te- naga"..
Engkau tenang tak berkata. Bagai se- gumpal mega mendung kala mentari ter- benam, melampiaskan tjahaja kelam oleh rasa terhina.
Tapi siapakah itu, perempuan jang hati- nja terbakar oleh rasa malu dan amarah, menjala-njala dalam kediamannja? Bunda dari Ardjuna!
Segala pudji bugi Duryudhana, jang me ngetahui betapa nilaimu dan kemudian menganugerahimu mahkota Radja keradja an Anga. Keperwiraanmu mendjuarai Re- lurub Kurawa
Dipenuhi rasa bangga karena nasib jang membawa keberuntungan, Adhirata sang pablawan mandala menerobos dari gerom bolan manusia dan engkau seketika itu djuga menghambur kemuka dan meletak- kan mabkotamu dikakinja, sementara ter- dengar riuh rendah suara para Pendawa tertawa ber-sama kawan mereka.
Tapi adalah seorang perempuan dari golongan Pandawa jang hatinja menggelom bang oleh rasa bahagia, karena ia dapat melihat tentang kebanggaan seorang pab lawan ditengah suara penghinaan. Bubkan perempuan itu Bunda dari Ardjuna!
Каrna:
Tapi apakah jang membawamu, maka
engkau datang kemari, wahai Bunda dari
para radja?
Kunti :
Aku datang untuk membawa pinta.
Karna :
Perintahkan daku. Bahkan apa sadja, ke
lakian dan kehormatan sebagai ksatria
jang harus kupersembahkan kebawah duli
kakimu.
Kunti:
Aku datang kemari untuk membawamu
pergi.
Karna :
Kemana?
Kunti :
Kedalam dadaku jang dahaga akan tjin-
tamu, anakku.
Karna :
Beruntunglah daku, wahai Bunda dari
lima radja perkasa Tapi dimanakah di-
kau bisa menemukan tempat bagiku, se-
orang ketjil keturunan orang jang paling
рара.
Kunti :
Tempatmu adalah dimuka semua putera*
ku jang lain.
Karna :
Tapi karena hak apakah maka aku ha-
rus mengambil anugerah itu?
Kunti :
Hak Dewa kepadamu sendiri, karena ia
adalah tjinta seorang bunda.
Karna :
Selubung sendja jang belum meliputi
bumi. Keheningan menggelombang diatas
air. Dan suaramu menuntun daku kedunia
hotjah jang kabur dalam himbauan kena-
nganku. Betapapun, apakah ini banja su-
atu mimpi, atau sebagian dari kenjataan
jang dilupakan. Dekatlab, merapatlah ko-
hadiratku, letakkan tangan kananmu di-
atas keningku. Orang pernah kudengar
berkata bahwa dahulunja aku adalah se
orang botjah jang ditinggalkan oleh bua-
danju kala haji. Mulam, ketika itu aku sedang tidur setengah djaga, seorang pe.
rempuan datang padaku, tapi ketika aku
berseru Bukalah tjadarmu, perlihatkan
wadjahmu padaku!", bajangan wadjah itu
lalu menghilang. Adakah mimpi malam
jang sama telah datang padaku kimi, ke-
tika mataku terdjaga ?
Lihat Dikedjauhan sana, lampu* nam- pak menjala dalam kemah' para puters- mu, nun diseberang sungai, dan ditepiau ini, lihat bertebaran kubah tenda kaum Kurawa-ku, bagai gelombang jang meng- baru dalam deburan badai laut. Sebelum perang menggemuruh diesok hari, dalam perdjoangan melawan himpitan sunji dite- ngah padang menganga, mengapa kini suara seorang ibu dari Ardjuna, musuhku, membawa padaku sebuah berita tentang keibuan jang dilupakan? Dan mengapa namaku barus membawakan ajanjian dari lidahnja untuk merenggut hatiku keluar dari padanja dan saudara lelakinja ?
Kunti
Djangan menunda anakku, mari bersa-
maku!
Karna:
Ja, aku akan mengikutmu tanpa mena-
nja, tanpa bimbang. Djiwaku menjeru ke
pada panggilanmu. Perdjoangan untuk
mentjapai kemenangan dan kemasjburan,
kemarahan jang memantjar dari api ke-
bentjian, tiba berubah mendjadi sesuatu
jang tidak benar bagiku, bagai mimpi ma-
lam jang mengabur dalam kedjernihan
tjaja fadjar. Katakan. Kemana akan kau
tuntun daku?
Kunti :
Ketepi lain diseberang sungai dimana
lampu menjala berkedjaran dengan njala
keputjatan disepandjang tanah pasir.
Karna:
Adakah disana daku akan mendjumpai
bundaku jang telah hilang selama ini?
Kunti :
O, Anakku, anakku!
Karna :
Kenapa dulu engkau tinggalkan daku
terusir dari tanah asal keturunanku, ter-
apung dengan tiada rumah dan kehorma-
tan? Kenapa sebuab djurang tak terhing-
ga memisahkan daku dari Ardjuna, mem-
belokkan hubungan saudara sekandung
mendjadi hubungan kebentjian jang tak
terpunahkan? Engkau tetap tak berkata.
Rasa malumu melintas dalam kegelapan
jang membentang dan memberikan daku
gelombang gaib 'menggetarkan seluruh ang
gotaku. Tinggalkan pertanjaänku tak ter-
djawab Djangan sekali kauterangkan pa-
daku apa jang menjebabkan dikau mereng gutku dari tjinta kasih bundaku! Hanja
katakan padaku mengapa engkau telah
datang sendja ini untuk memanggilku kembali
pada reruntuban langit jang telah hantjur
oleh tanganmu sendiri?
Kunti:
Daku di-kedjar kutuk jang djauh lebih
dahsjat dari rasa hinamu, karena meski
lima orang putera mengelilingiku, tapi
hatiku mengalum seperti hati seorang perempuan
jang terenggut sebab kehilangan
anaknja. Lewat kojak-mojak karena keengkaran
terhadap kelahiran anakku jang pertama,
seluruh kesenangan hidupku hilang
lenjap tak memberi arti. Pada hari terkutuk
itu, ketika aku mengengkari keibuanku,
engkau belum bisa mengeluarkan sepatah
katapun, dan hari ini bundamu jang
chianat memohon akan kata²mu. Biarkan
permaafanmu membakar hatinja bagai api
jang mendjilati segala dosa²nja.
Karna:
Bunda! Terimalah air mataku!
Kunti:
Aku datang bukanlah dengan harapan
untuk memenangkan engkau kembali kedalam
rangkuman lengan²ku, tapi aku datang
untuk memulihkan hakmu kembali
padamu. Datang dan terimalah djulukan
putera radja, tempat kedudukanmu diantara
saudara²mu.
Karna:
Jang lebih benar ialah bahwa aku adalah
putera seorang pahlawan mandala dan
tiadalah aku menginginkan kemegahan asal
keturunan jang lebih luhur.
Kunti:
Djadilah engkau seperti jang seharusnja.
Datang dan menangkan kembali kerajaan
jang sudah mendjadi hakmu!
Karna:
Haruskah dikau, jang sekali telah me
nolak ku mendapatkan tjinta bundaku, sekarang
membudjuk dengan sebuah keradjaan?
Ikatan darah jang telah pupus
sampai akar'nja telah mati dan takkan
bakal kembali tumbuh. Malu akan mentjoret
dikeningku pabila daku memanggil
ibunda dari radja sebagai ibuku dan melepaskan
ibuku jang tinggal dalam rumah
seorang pahlawan!
Kunti:
Engkau sungguh agung anakku! Betapa
hukuman Dewa telah tumbuh dari sebesar
bidji sawi mendjelma kedalam sebuah
kehidupan jang besar. Baji jang terlantar,
dibuang oleh ibunja sendiri, lalu mendjelma
mendjadi seorang lelaki jang melalui
segala kebalauan peristiwa, ditakdirkan
untuk menghantjurkan saudara²nja sendiri.
Karna:
Bunda, djangan takut! Aku tahu dengan
pasti bahwa kemenangan telah menantikan
kaum Pandawa. Meski tenang
dan damai suasana malam ini, tapi hatiku
penuh diliputi irama pertaruban tanpa harap,
meluntjur dalam djurang putus asa.
Mintalah padaku untuk tidak meninggalkan
mereka jang telah pinasti untuk kalah.
Biarlah Pandawa memenangkan mahkota
selama mereka harus begitu. Daku akan
tinggal disini, dalam putus asa dan ketiadaan
harapan.
Pada malam kelahiranku, engkau telah meninggalkan ku dalam telandjang dan tiada bernama, ditakdirkan untuk berdjalan menudju kekehinaan. Tinggalkan daku sekali lagi dengan tiada kasihan dalam kepastian harapan untuk kalah dan mati!
Terdjemahan:
M. Dawam Rahardjo