Lompat ke isi

Majalah Horison/1966/Nomor 2/Kematian

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Kematian
oleh Lu Hsun, diterjemahkan oleh Boen L.

KEMATIAN
Oleh
Lu Hsun

DARI REDAKSI
Lu Hsun adalah seorang pengarang Tiongkok, jang dilahirkan pada tahun 1881. Mula-mula dia masuk kefakultas kedokteran di-Djepang tapi kemudian meninggalkan studinja untuk terdjun kedunia sastra. Karja-karjanja diterbitkan, baik sebagai buku maupun dalam madjalah-madjalah. Dia meninggal pada tanggal 19 Oktober 1936. Lu Hsun banjak menulis esei-esei. Eseinja „Kematian” ini, dituliskan sebulan sebelum dia meninggal. Perasaannja jang halus, membuat dia merasa akan adjalnja jang sudah mendekat. (Bandingkan dengan Chairil Anwar). Esei ini kami kemukakan kepada pembatja HORISON, karena kami anggap bahwa esei ini setjara ramah berusaha menarik simpati pembatjanja — tentu sadja setjara Lu Hsun.

Ketika sedang menjiapkan kumpulan dari karja Kaethe Kollwitz untuk diterbitkan aku minta nona Agnes Smedley menulis kata pengantarnja. Ini sangat kebetulan sekali sebab kedua mereka merupakan dua arang sahabat karib. Begitu pendahuluan itu selesai aku minta agar tuan Mao Tun jang menterjemahkannja dan sekarang tulisan itu telah terbit dalam bahasa Tionghoa. Satu nukilan dari padanja berbunji sebagai berikut.

Pada tahun belakangan ini Kaethe Kollwitz — jang tak pernah memakai gelar jang diberikan kepadanja — banjak membuat sketsa, lukisan tinta serta pinsil, ukiran kaju dan lukisan2 lainnja. Bila kita mempeladjari semua Ini, maka akan tampak dua pembagian: pada masa mudanja tampak bahwa pemberontakan merupakan tema utama, tetapi achir ini digantikan dengan kasih sajang seorang bunda, naluri seorang ibu, semangat ingin membantu dan kematian. Semua karjanja dipengaruhi oleh pikiran tentang penderitaan, tragedi dan sebuah keinginan jang berlebihan untuk melindungi jang tertindas.

Suatu ketika aku pernah bertanja kepadanja: „Mengapa sebagai ganti dari pada tema pemberontakanmu dulu, tampaknja sekarang engkau tak dapat menghapuskan pikiran mengenai kematian?” Ia mendjawab dengan dukatjita: Mungkin sebab kian lama diriku kian tua......

Pada alinea itu aku berhenti. Aku kira pada tahun 1910 ketika ia mulai memakai tema kematian, pada waktu itu ia berusia belum lebih dari pada empat-puluh tiga atau empat puluh empat. Aku terhenti memikirkan hal itu tentu sadja sebab teringat umurku sendiri. Tetapi kira2 dua belas tahun jang lalu, seingatku, aku tidak pernah memikirkan kematian. Kita tak usah mejangsikan lagi bahwa hal itu sedjak lama kita anggap hanja sebagai suatu hal jang tak penting sehingga kita kurang memperhatikannja, tak pernah seperti orang² Eropa memikirkannja dengan sungguh. Kebanjakan orang asing mengatakan bahwa bangsa Tionghoa sangat takut akan kematian. Tetapi hal ini tidak benar — jang sebenarnja, kebanjakan dari bangsa kami mati dengan tidak mengetahui sama sekali akan arti dari kematian.

Kepertjajaan akan hidup selandjutnja setelah kematian menguatkan ini. Seperti jang setiap orang ketahui, kami bangsa Tionghoa pertjaja akan setan (achir2 ini sering dise- but „roh” atau „hantu”); dan sebab ada setan, sekurang2nja kita dapat hidup seba- gai setan bila tidak dapat lagi hidup sebagai manusia jang tentu sadja lebih baik dari pada tidak mendjadi apa2 lagi. Tetapi chajalan mendjadi setan ini tampaknja berbeda se- suai dengan apa jang dimiliki oleh orang itu. Orang miskin membajangkan bahwa bila mereka meninggal roh mereka akan masuk kebadan orang lain, sesuai dengan adjaran Buddha. Tentu sadja pemikiran ten- tang perpindahan roh pada adjaran Buddha merupakan suatu proses jang pelik sekali, tidak begitu sederhana; tetapi orang miskin biasanja merupakan orang2 jang tak peduli dan mengabaikan semua ini begitu sadja. Itulah sebabnja mengapa banjak pendjahat jang tak memperlihatkan rasa takut ketika dibawa ketempat penggantungan tetapi ma- lah berteriak: Dua puluh tahun jang akan datang aku akan mendjadi seorang pendja- hat lagi!" Bahkan sesuai dengan kepertja- jaan jang tersebar luas bahwa setan me- makai pakaian jang dipakainja ketika ia meninggal dan orang miskin biasanja tidak mempunjai badju bagus maka mereka tak dapat membajangkan diri mereka djadi se- tan jang elok rupa dan akibatnja mereka merasa lebih baik bila mereka langsung di- lahirkan kembali sebagai baji jang telan- djang. Pernahkah engkau melihat baji jang baru dilahirkan memakai badju goni penge mis atau badju berenang? Tidak, belum pernah. Mungkin ada orang jang menjang- gah:

„Bila engkau pertjaja akan perpindahan hidup, pada kehidupan kemudian engkau mungkin berubah mendjadi lebih buruk atau mendjadi binatang buas — suatu pikiran jang menakutkan sekali!” Tetapi orang miskin tidak berpikir seperti itu.

Mereka pertjaja sekali bahwa mereka tidak pernah melakukan dosa begitu besar sehingga harus dihukum mendjadi bina- tang buas: mereka tidak mempunjaj kedu- dukan atau uang untuk dapat melakukan dosa itu.

Tetapi djuga orang2 jang mempunjai ke dudukan, kekuasaan dan uang tidak per tjaja bahwa mereka akan mendjadi bina- tang buas. Kalau tidak mereka berpaling keadjaran Buddha untuk mendjadi sutji, mereka akan mempeladjari Confusius dan kembali ke-tjara2 dulu untuk mendjadi pe- ngikut Confusius. Seperti ketika hidup me- reka ingin mentjapai klas jang tertinggi, setelah mati mereka ingin mempertahankan posisi ini. Bagi jang tidak mempunjai ba- njak uang, karena mereka djuga berharap dapat dibebaskan dari perpindahan hidup itu sebab mereka tidak mempunjal ambisi jang muluk atau rentjana jang hebat, mereka tinggal menanti sadja dengan tenang. Sekitar usia lima pu- luhan mereka mentjari tanah kuburan, membeli sebuah peti mati dan membakar kertas-an untuk persedian dikehidupan nanti mengharapkan agar tjutju serta anak². nja sembahjang bagi mereka setiap tahun- nja. Kehidupan ini tentu sadja lebih se- nang dari pada kehidupan didunia ini. Bila sekarang aku sudah mendjadi setan dengan banjak keturunan didunia manusia, aku tak perlu lagi mendjual artikelku satu persatu, atau menanjakan pembajaranku kepada Pe- nerbit Peihsin. Aku dapat berbaring de- ngan senang dalam nanmu-ku atau peti kaju, sedang pada setiap perajaan atau pada Tahun Baru sebuah pesta dan setumpuk uang kertas disediakan dihadapanku. Itulah hidup!

Umumnja orang miskin ingin tjepat dilahirkan kembali, sedang jang senang ingin mendjadi setan selama mungkin. Kaum jang senang ingin mendjadi setan selama mungkin sebab hidup mereka selama mendjadi setan (kata ini kedengarannja berlawanan sekali tapi aku tak menemui tjara pengutjapan jang lain) merupakan kelandjutan dari hidup sebagai manusia dan mereka belum djemu akan hidup itu. Tentu sadja ada penguasa jang keras dan berdisiplin jang mengatur soal pendjelmaan ini tetapi mereka djuga akan menerima hadiah sogokan dari setan kaja tersebut, seperti halnja pembesar jang baik didunia ini.

Kemudian ada golongan jang berpikir lebih sederhana, jang tak pernah berpikir tentang kematian meskipun kematian sudah diambang pintu, dan aku termasuk golong- an ini. Tiga puluh tahun jang lalu ketika masih mahasiswa kedokteran aku berpikir tentang adanja djiwa, tetapi tak mengeta- hui kelanjutannja. Belakangan aku berpi- kir apakah mati itu sakit atau tidak, dan menjimpulkan bahwa hal itu ber-beda menurut tjara matinja Kemudian aku ber- henti berpikir. Selama sepuluh tahun be- lakangan ini aku sering menulis tentang kematian teman, tetapi tak pernah me- ngenai diriku sendiri. Dua tahun bela- kangan ini aku sering sakit dan sakitnja ugak parah, sehingga mengingatkan aku akan kelandjutan usiaku.. Tentu sadja aku sering diingatkan tentang usia-tuaku ini oleh pe- ngarang2 lain, sesnai dengan rasa persaha- batan mereka atau rasa permusuhan mereka.

Sedjak tahun jang lalu bila sedang ber- baring dikursi rotanku setelah sembuh dari sakit, aku berpikir tentang apa jang harus kulakukan bila telah sehat, artikel apa jang harus dikarang, buku apa jang harus diter- djemahkan atau diterbitkan.

Rentjana kutentukan, dan kuachiri de ngan:,,Baiklah tetapi aku harus buru2". Perasaan buru ini, jang sebelumnja tak pernah kurasakan, menundjukkan bahwa setjara tak sadar aku teringat akan usia- ku. Tetapi belum djuga aku berpikir se- tjara langsung mengenai kematian".

Baru tahun ini ketika sakit agak parah aku berpikir tentang kematian. Pada mulanja aku mengobatinja seperti dulu2 sadja, me- njerahkannja kepada dokter Djepang te- manku, S. Meskipun bukan seorang spesialis tuberculosis ia kaja dengan pengalaman dan mengenalku dengan baik karenanja ia bitjara dengan terus terang. Tentu sadja, meskipun betapa baik hubungan seorang dokter dengan pasiennja, tentu ada sedikit jang dirahasiakan tetapi se-kurang2nja tiga kali ia pernah memperingati aku meskipun aku sendiri tak pernah menghiraukannja atau mentjeritakannja kepada orang lain. Mungkin sebab penjakitku telah larut dan serangan jang terachir begitu berbahaja, maka beberapa teman tanpa setahuku me- ngundang seorang dokter Amerika D untuk memeriksa. Dia seorang dokter ba rat spesialis tuberculosis satu-nja di Shang- hai. Setelah selesai memeriksa, meskipun ia memudji daja tahanku sebagai bangsa Tionghoa, ia mengatakan bahwa saatku te- lah dekat, dengan tambahan bahwa djika aku seorang Eropa pasti aku telah tiada sedjak lima tahun jang lalu. Pernjataan ini membuat teman2-ku menangis. Aku tidak minta agar dia mengobatiku sebab sebagai seorang jang dididik setjara Barat tentu dia tak dapat mengobati orang jang telah lima tahun mati. Tetapi hasil pemeriksaan Dr. D-sesungguh-nja tepat sekali. Belakangan aku mengambil potret sinar X pada bagian dada dan semua hasil pemeriksaannja ter tera disitu.

Meskipun aku tidak terlalu memperbati kannja, hal itu agak mempengaruhi djuga: aku menghabiskan waktuku dengan berba- ring, tanpa kekuatan untuk berbitjara atau membatja dan tak tjukup kuat untuk me- megang sebuah surat kabar. Sebab batiku belum dapat,,setenang sebuah sumur tua", aku terpaksa berpikir, dan kadang aku ber- pikir djuga tentang kematian. Tetapi bukan berpikir,,dua puluh tahun jang akan da tang aku akan mendjadi pendjahat lagi" atau berpikir bagaimana aku dapat mem- perpandjan hidupku dalam peti nanmu, melainkan pikiranku mengembara pada hal mendjelang kematian. Baru sekarang aku merasa pasti bahwa orang takkan ber- ubah menjadi setan. Timbul pikiran un- tuk menul s surat warisan dan aku ber- pikir: Bila aku seorang besar dengan ba njak kekajaan, putera2ku, menantu ku dan jang lainnja pasti telah menjuruhku mem- buat surat tsb. sedjak dulu2; tetapi seka- rang belum ada jang mengingatkannja kepa- daku. Meskipun demikian aku akan mem- buatnja sebuah. Aku berpikir tentang be berapa hal jang akan kupesankan pada ke luargaku, diantaranja ialah:

  1. Djangan menerima satu senpun untuk ongkos penguburan. Ini tidak berlaku bagi sahabat lama,
  2. Kerdjakan semuanja dengan tepat, kuburlah aku dan semuanja selesai.
  3. Djangan lakukan upatjara peringatan
  4. Lupakan aku dan uruslah urusan kalian sendiri ― bila ini tidak kalian lakukan, bodoh sekali.
  5. Bila anak telah dewasa dan bila mereka tidak punja keahlian suruh mereka melakukan pekerjaan ketjil untuk mendapatkan pentjaharian. Djangan menjebabkan mereka mendjadi pengarang atau seniman dimulut sadja.
  6. Djangan terlalu pertjaja akan djandji orang lain.
  7. Djangan bergaul dengan orang jang menjakiti orang lain tetapi menentang pembalasan dendam dan mengandjurkan toleransi,

Disamping itu ada beberapa hal lain jang aku lupa. Aku djuga ingat ketika demam, terbajang kebiasaan orang" Eropa jakni diambang kematian mereka mengadakan se matjam upatjara dimana ia minta maaf pada orang lain dan memaafkan orang lain jang bersalah padanja. Sekarang aku mempunja banjak musuh dan apa djawab anku bila ada orang modern jang mena njakan pendapatku mengenai itu? Setelah berpikir selama sedjenak aku memutuskan: Biarkan mereka terus membentjiku. Aku djuga tidak ingin memaafkan seorang pun dari antara mereka itu.

Untung tak ada kebiasaan sematjam itu dan aku djadi tidak usah menjinggungaja dalam pesan.

Aku hanja berbaring dengan tenang, ka- dang diganggu oleh suatu pemikiran jang menekan.

Bila ini proses kematian, sesungguhnja itu tidak sakit. Mungkin pada achirnja ti dak seperti ini benar, tetapi meskipun be- gitu sebab hanja sekali dalam hidup aku alami hal itu, aku akan dapat menghada- pinja. Kemudian datang perbaikan Dan sekarang aku berpikir apakah ini be- nar2 perasaan jang timbul sebelum adjal seorang jang benar2 akan meninggal barang- kali tidak memikirkan itu. Apa jang se sungguhnja akan terdjadi, aku sendiri ma sih belum tahu.

5 September 1936. Dari Selected Works of Lu Hsun. vol-4 Alih-basa : Boen 1. Djudul asli: Death