Majalah Horison/1966/Nomor 1/Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini
GOENAWAN MOHAMMAD
I
MUNTJULNYA BUKU- BUKU puisi Fridolin Ukur, Supawarna Wiraatmaja Mohammad Saribi karja teater Mohammad Dipenogoro serta novel djumil Suherman pada awal tahun 60-an pada hemat saja telah memertegas kehadiran suatu genre "sastra keagamaan". MEskipun sedjarah kesusasteraan kita telah menghasiakn penulis sematjam Hamka djauh seblum tahun 60-an, namun rasanya genre baru ini dengan sikapnya yang chusus telah mendesak kita untuk mengakui kehadirannja jang berbeda dengan kehadiran karja sastra hamka jang mendahuluinya. Apakah sikapnya jang chusus itu? Apabila baik Tenggelamnya Kapal Van der Wijck maupun Dibawah Lindungan Ka'abah menitikberatkan kehidupan beragama sebagai latarbelakang, maka karja jang saja sebut diatas tadi lebih menitikberatkan kehidupan beragama sebagai pemetjah persoalan. demikianlah Fridolin Ukur memilih Immanuel, Mohammad Saribi meng qur'an-kan puisinya atau menokohkan Nabi Muhammad s.a.w dan Diponegoro menokohkan ibrahim sebagai lambang iman jang menang dalam menghadapi iblis. Oleh sebab itilah saja ingin memberikan batasan terhadap genre sastra ini sebagai genre sastra jang bermaksud (dengan sadar) memberikan djawaban kepada situasinja dengan berbasiskan sistem nilai jang bersifar tradisionil keagamaan. kehadiran sastra keagamaan ditengah2 kita pastilah mempunjai latarbelakangnja sendiri. Mengetahui latarbelakang ini adalah perlu, sebab dari sana kita akan bisa melihat adakah genre sastra ini hanja bersifat sementara ataukah ia tjukup mempunjai landasan jang kokoh buat hidupnya dikemudian hari.
II
ADA dua hal jang saja kira bisa diketengahkan sebgai motif jang melatarbelakangi hadirnya genre sastra tersebut. Pertama adalah motif2 didalam kesusastraan, jakni pengaruh penggolongan didalam masjarakat. Identitas seseorang dalam dunia kepengarangan dianggap sangar perlu hingga kita sering melihat bahwa penilaian jang tinggi diberikan orang kepada pengarang2 jang "telah mempunjai identitas tersendiri". Hal ini adalah lajak unsur2 pribadi banyak berpengaruh dalam hasil karja. Dalam pada itu pengaruh dunia kritik kita sedjak beberapa tahun jang silam setjara langsung maupun tak langsung telah menjebabkan proses pentjarian identitas itu mempunjai pola umum sebagai berikut: seorang sastrawan dengan identitas tertentu adalah seorang pengarang jang banjak menulis soal2 kehidupan tertentu. Demikianlah Djamil Suherman beridentitas dengan dunia pesantrian, dan Bur Rasuanti dengan kehidupan jang penuh protes dari buruh-minjak. Pola umum ini kian lama mengkristal hingga pengelihatan kita kepada identitas seorang pengarang adalah pengelihatan kita kepada "apa" jang sering dikitakannja. Untuk mendapatkan identitasnya sesuai dengan pola umum tersebu, ada pengarang jag bersibuk-diri dengan mentjungkil pengalaman2 dari hidup keagamaan sebagai apa jang sering disebut "wilyah jang belum banjak digarap dalam dunia kesusasteraan kita". Dalam hal ini saja kira Djamil Suherman-lah jang merupakan pelopornja pada achir tahun limapuluhan, sebagai jang kini terdapat dalam kumpulannja Umi Kalsum. Meskipun disini kehidupan beragama masih dititikberatkan sebagai pemetjaha persoalan, namun perkembangan selandjutnya (dari dan dengan identitas jang diperoleh sebagai seorang pengarang keagamaan ) menundjukkan jang sebaiknja: Perjalanan ke Achirat mulai menempatkan kehidupan beragama sebagai pemetjahan persoalan ; dengan kata lain novel jang baru saja sebut itu telah merupakan tjontoh dari genre sastra keagamaan. Adapun motif2 diluar-kesusasteraan, jakni pengaruh penggolongan serta rivalitas antar-golongan didalam masjarakat, terutama mendapatkan udara jang baik dipertengahan tahun 50-an dan sesudahnja dengan adanya pemilihan umum dan menandjakanja persaingan politik sesudah itu - sehingga getaran kesadaran golonganpu telah melahirkan istilah2 seperti "kesusastraan Islam" "Kesusastraan Kristen/Katholik". "Kesusastraan proletariat", jang kian hari kian djelas terdengar meskipun kebanjakan tetap tidak djelas untuk diterangkan. Nampak bahwa terbitnja koran2 partai dengan lain2 berkalanja, lahirnya lembaga2 kebudajaan dengan seksi-seksinja, makin setjara gampang membuat klasifikasi jang sulit itu. Sedjalan dengan ini orangpun mulai berfikir-fikir tentang perlunja kesusastraan dari golongan agama dan mulai tampilnja pengarang2 jang mengadakan commitment dengan agamanja sebagian besar dari sanalah lahirnja genre sastra keagamaan jang kita bitjarakan soal2 ini. Namun persoalan jang penting jang kita hadapi bukanlah motif2 mana jang paling dominan jang telah mendorong
hadirnja sastra keagamaan itu, melakukan adalah motif itu mempunyai dasar² jang kuat dan masuk akal (logis): bukan sentiment perasaan belaka), sebagian adalah pertandangan ungkapan dari pengarang² keagamaan untuk memberikan djawaban kepada persoalan² dewasa ini, dengan berbasalkan sistem nilai² baru jang bersifat tradisionil keagamaan.
Untuk itu baiklah kita mengadakan sedikit penindjuan dan penelitian terhadap motif² jang telah disebutkan tadi.
- III -
APABILA motif utamanja adalah penjaring identitas dengan menjeriteg posisi apa-apa tentang kehidupan bersama, dan soedah ada perdjatan identis jang sudah maka ada dua kritik jang harus mendapat perhatian bahwa kehadiran sastra keagamaan dalam motif itu tidak bersangkut djawab, dan karenanja harus memulai dengan segera. Kritik pertama ialah bahwa sustlai atau sorem literasi sastra jang dilihatkan atas dasar hasil pertjiriaan identitas belum berhasil membitjarakan hal² jang berses: sesungguhnja baru merupakan eksperimen² seorang individu jang keres mendjangnja masih harus ditunggu. Kritik kedua ialah, bahwa tjara pertjarian identitas dengan menghususkan dirinja pada persoalan lingkungan hidup tertentu adalah tjara jang salah. Sebab Djamal Suherman, misalnja adalah esalen hasilkan identitasnja itu tidak berhenti menulis segala sesuatu tentang dunia pesantritan? Identitas bersumber pada kepribadian seorang pengarang, dan sikap keluar dari kepribadian itu berupa sikap-hidup, sehingga identitas seorang pengarang tidak bisa ditentukan kepada apa² jang (kerenja) dihasilkannja, tetapi ditentukan oleh “apa² dan-bagaimana” mengkalimkan.
Sementara itu apabila motif utamanja adalah akibat rivalitas golongan dalam masjarakat, jang berupa rivalitas politik, sehingga sastra keagamaan merupakan sendjata didalam rivalitas itu, maka ada tiga titik jang akan diterima dalam sastra keagamaan jang dihasilkan dari motif ini: pertama, lebih dapat kesan bahwa jang terlibat dan memmasukkan dirinja dalam rivalitas politik lama kelamaan akan kehilangan sumber² rohani; menjadi kosong akan apa sebagai perjuangan politik dengan sendirinja menundukkan kekuasaan, untuk membentuk kohesi dalam golongan lambatnja. Semaki hebat pergolongan itu, semaki bersalarl kepercayaan adanya kekuasaan itu. Langsung maupun tak langsung tekanan² dipergunakan, sehingga agama tetap dengan alat setadjat tentral dari sikap jang demokratis. Tekanan² melahirkan hipokrit: manusia tidak lagi bebas, dunia agama bukan tempat merupakan kekuatan rohaniah, tetapi sudah merupakan kekuatan djasmaniah jang mengontrol tindak-tanduk manusia. Manusia lama kelamaan tidak lagi menjembah Tuhan, tetapi menjembah agama dengan segala aturannja-aturannja jang lentur. Inilah adalah tanda chess dari agama jang sudah merupakan sumber apa jang dinamakan oleh Marx “alienasi”, yakni dimana “hidakninja sendiri tidak di bawah kekuasaan, tetapi malah menrupakan kekuatan jang asing bagi dirinja, berada diatas kekuatannja dan melawan dirinja.” Dengan kata lain, orang sudahl tidak lagi berkuasa atas sembahjang, tetapi ia bahkan dikuasai ia oleh sembahjangnja itu. Sembahjang jang tak diutjapkan dalam alimensi apa pun ini malah bukan alam untuk manusia, tetapi manusia itu jang untuk agama. Ambisi kekuasaan jang diperojangkarkan oleh pimpinan² agama tidak akan menjebahkan agama bersifat “totaliter”.
Dengan demikian djudjat jang kedua, dan chususpunya terdapat dalam bidang kesusastranaan; ialah hilangnja vitali-tas jang asal dari kesusastraan itu, sebab dia diselitkan sebagai sekedar alat dalam menetjapai ambisi politik, sebagai sekedar propaganda. Sifat “totaliter” agama itu sering nampak dalam pelarangann buku² kesusastraan tertentu, watak prohibisionis, atau diengan indah tjaris kesusastraan “serir” ditjaga baik. Bahkan, sifat “totaliter” dan watak prohibisionis itu meluas dengan ganggansanja kepada kehidupan kerejat lainnya: pembunuhan al-Halladj, pembakaran buku-buku Hamzah Fansuri, penolakan terhadap seni-patong.
Dengan bersembojan “seni adalah dari da’wah” kadang kita melihat orang mendesakkaan agar saja² sudji² diselipkan dalam sebuah repertoire…
Adapun sifat jang ketiga sangat erat hubungannja dengan “persoalan” nasional kita sekarang. “Persoalan” nasional kita sekarang tidak bisa diselesaikan dengan memperhatikan “clash of interest” jang bersifat politik bersama ambisi² politiknja. Gosip² anti–ressoal nasional, jand ditindjal serta kerja keras dari sudut ideologis negara selama ini tinggal diformulasikan lebih landjot, tidak diberi dengan begitu sadja diredster dari dunia tindalan politik, misalnja dengan penjugatan partai, tetapi djuga dengan “tindakan” kultural. Agama harus dimasukkan dengan tindakan² kultural itu! Tak lain adalah bersikap kreatif, jang memang kita kesah tjara heratif: hidup jang dialektik, seingga sebagai matjan ontomik seseorang ada demi sepatak lain lentur, demikian pula sebagai matjan fantasmode dan segatilan seketjernise. Bagi hidup keagamaan sendiri sikap kreatif itu amat diperlukan untuk membawa agama kearah modernisasi dalam tjara berfikir, dan dengan demikian djuga modernisasi seluruh masjarakat.
Setelah kita menindjau dan menilai motif² jang kita sebutkan diatas, djalas kiranja bahwa kita belum dapat menemukan alasan² jang bertanggung djawab bagi genre sastra keagamaan itu untuk hadir dalam kesusastranaan kita dewasa ini. Meskipun demikian, adalah hal itu berarti tidak mungkinlah sastra keagamaan diketerpkanakan? Dalam pertundjang les hibun huus, pertandjian itu adalah pertandjian: dapatkah agama menjelaskan perosoman² kita dewasa ini? Tak dapatlah orang² sekarang mendjadikan “sintesis nilai²” jang berasal tradisionil keagamaan itu untuk menjelaskan dan merobah wajah persoalan² masjarakat?
- IV -
TENTU SAJA kita belum lagi pergangan hasil² jang telah saja toeh djelaskan dalam sastra keagamaan di atas, dan hal itu pun mendesakbet kekid-tnumakan teknek dan larh’ lepat seperti dalam bab ke-III telah diuraikan, kita samal belum menemui alaslan jang bertanggung djawab kich kehadiran genre itu ditengah kita.
Pertandjian tentang dapat atau tidak–nja orang² sekarang menggunakan kenilai² jang bersifat tradisionil keagamaan sebagai basis buat mendjab wab persoalan² masjarakat pada hemsaja bisa diselesaikan apakah setiap teori terlebih dahulu apakah semuginja persoalan² kita dewasa ini.
Persoalan dewasa ini dalam setelah jang besar adalah persoalan² menuju persatuan nasional jang akan diunembangkan dengan persatuan antar huas², jang alat-alatnja direalisir dengan peremohaan kemerdekaan, pembinaan perekonomian sosialis, perbaikan sepindan pendidikan dan lain². Tudjuan dari sedjadji kita adalah kemerdekaan dan pembungan terpelanjot tiap² kita, dan saja kira hal ini dapat lebih teggi diusahkan apabila kesempatan² untuk bersikap dan bertindak kreatif diperluas.
Adakah agama bisa mengusahakan mengusahaknja Bisa, apabila ia kemibali kepada “api’nja jang tak kundjung padam, dan bukannja Memamerkan arang serta abu jang telah habis digunakan untuk menjalakan api itu. Dengan kata lain, agama harus kembali kepada wa taknja jang revolusioner, jang membebaskan, dan bukan bertahan dalam wataknja jane tonservatif dan prohibisionis, jang menimbulkan alienasi seperti disinjalir oleh Marx. Kearah ini agama harus bersikap demokratik, melemparkan amibisi² kekuasaannja djauh² dan menganggap dirinja sebagai sesuatu jang dilahirkan untuk kebaikan tiap* manusia, ja. untuk melajani manusia. Dalam buku Systematic Theolognja jang terkenal Paul Tillich dengan tepat mengatakan, bahwa persoalan jang timbul dewasa ini bukanlah persoalan "peng-kristen-an kebudajaan dan masjarakat”, tetapi persoalan tertjiptanja suatu keadaan dimana "alienasi diri dalam bidup kita seratasi”, suatu keadaan dimana ada "perhubungan dan persatuan kembali, kreativitas, arti dan harapan.”
Dan dalam pendemokratisan sikap agama itv kesusastraan dapat memban- tunja dalam banjak thal, sebab semangat kesusastraan, vitalitasnja jang asli, adalah demokratik. Seorang pengarang bukan sekedur bertanggung dja wab kepada ‘keselamatan djasmaniahnja, tetapi terutama kepada "social cosnciense of man”-nja. Djuga pentjarean effek kesusastraan tidaklah berasul dari ambisi² kekuasaan — seorang pengarang tak hendak menguasai pembanjanja dalam arti mengontrol pribadinja — melainkan sekedar keinginan mengadakan komunikasi. Tetapi dalam hendak membantu agama kearah sikap jang demokratik itu sesuai dengan wataknja kesusasteraan harus membebaskan diri dari tekanan² kekuasaan agama, atau kalau tidak dia akan berhenti sebagai kesusastraan jang tak akan ada gunania dalam menjelamatikan agama dari "penjakit"-nja. Untuk ini dari kalangan agama, terutama pemimpin-pemimpinnja, harus diperdjoangkan hilangnja prasangka² jang biasa terha-dap kesusastraan dan kesenian² lain hilangnja watak prohibisionis jang tjrewet. Ja, agama harus menaruh kepertajaan kepada kesusastraan, sebagai suatu kegiatan imsanijah jang tak akan habis dan bersifat esensial bagi manusia itu sendiri
Tidakkah merupakan suatu kontra diksi bila dikatakan bahwa kesusasteraan jang bebas dari kekuasaan agamalah jang djustru bisa menolong agama itu sebagai sumber alenasi ? Tidak, apabila seperti Denis ce Rougemon dalam pidatonja tentang Religion and the Mission of the Artist dimuka Konperensi tentang dunia Kresten doo Kesenian di Celigny tahum 1950 kita djuga mengatakan bahwa “seni adalah suatu penggladian seluruh kehadiran manusia, bukan utk menjaingi Tuhan, tetapi untuk menjesuaikan diri setjara lebih baik dengan TjiptaanNja, untuk lebih mentjintai Tjiptaan itu, dan untuk meneguhkan kembali diri kita kepadanja. Djuga tidak, apabila kita memahami kata² Nabi Muhammad jang berbunji "Tumbuhkanlah sifat² Tuhan dalam dirimu", jang bagi Iqbal antara lain berarti agar kita djuga kreatif sebagaimana Tuhan sendiri. Dengan demikian pertolongan kesusastraan kepada agaa tidak terletak dalam membantu menambah djumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan kembali, terlepas dari segal penjakit hipokrisi.
Dalam pada itu dari fihak sastrawan² sendii bukannja tidak perlu mengetahui arti dari tradisi? agama. Tradisi² dalam sedjarah hidup manusia adalah pembantu proses "learning" (beladjar)-nja dalam mengatasi kesulitan². Oleh sebab itu tradisi harus memiliki sifat jang transforabel, sifat² jang membedakan-nja dari sekedar dogma. Demikiam pula sistem nilai? jang bersifat tradisionil keagamaan adalah pegangan jang bukannja tidak berfaelah Penolakan humanis me abad ke20 jang dibarat dipelopori oleh eks estensialisme Sartre terhadap nilai² jang pernah ada pada hemat saja merupakan suatu sikap jang berbahaja. Utjapannja dalam L’Existensialisme est un Homanisme bahwa "Dibelakang kita dan juga didepan kita, kita tidak mempunjai daerah nila jang tjerah” serta kalimatnja dilain bagian bahwa "............ bila saja menjisihkan Tuhan Sang Bapa, maka haruslah ada seseorang jang menebukan nilai²” bisa menimbulkan anarki .penemuar” nilai² jang akan sangat berbahaja apabila djustru penemunya adalah seorang Hitler. Dengan kalimat lain semua ini bisa kita katakan, bahwa bepertjajaan itu kepada manusia bukeanlah kepertjajaan romantik jang memisahkan satu kurun masa dari proses sedjarah sebelumnja, dimana tradisi merupakan salah satu sokoguru dari sedjarah jang akan, datang.
Saling pertjajemempertjajai, pengaruh-mempengaruhi seperti diatas antara agama dengan kesusastraam pada achirnja mérupalran dasar jang baik bagi lahinnja serta matangnja sastra keagamaan kita. Sebab perhubungan seperti itu adalah perhubungan antara tradisi dan perkembungan, sehingga posisi sastra keagamaan itu dewasa ini harus terletak antara kenjataan adanja sistem nilai² jang tradisionil dengan kenjataan adanja ‘sodrat manusia untuk merdeka dan berkembang, jang mani festasinja antara lain berwudjud kesusastraan.
Masalah jang rasanya djuga penting difikirkan ialah bagaimanakah sastra dalam genre ini muntjul dengan hasil² jang lebih baik setelah menemukan alasan jang bertanggung-djawab bagi kehadiranja?
Sesuai dengan wataknja jang demokratik, caja menjetudjui pendapat bahwa tugas kesusastraan bukanlah memberikan pertanjaan. Seorang pengarang jang biasa memberikan djawaban jg telah slap kepada pembatja dalam menghadapi persoalan² hidupnja alan tidak membantu sipembatja dengan baik. Demikian pula apabila sastra keagamaan berusaha mendjawab persoalan²² jang timbul dalam situasi sekarang dengan cara menjodorkan djawaban jang sudah djadi, rapih dan korek — dengan gaja ke,,chotbah-chotbah”-an sedikit — maka ia akan menjebabkan kita sebagai pembatja mendjadi djemu dan malas. Diachir pertundjukan teater, diachir sebuah sadjak, dipenutup sebuah novel, seorang pengarang haruslah mengetuk pembatjanja dengan sebuah pertanjaan jang menggoda, hingza sang pembatja berusaha sendiri menemukan djawaban nja, cuatu djawaban jang dengan demikian akan bersemi dalam dirinja dan bukan suatu djaweban jang sudah tersedia setjara gampang. Saja kira prinsip ini sesuatu dengan posisi sastra keagamaan itu dan fungsinja jang chusus: fumgsi jang tida’ bermaksud untuk menglslam-kan pembatja atau mengKristen-kannja, melainkan fungsi untuk membantu pemibatja dalam menjelesaikan sendiri persoalan hidupnije
Dari sinilah mut sastra keagamaan bisa diperbaiki, sebob prinsip tersebut sesuai dengan kodrat kesusastraan, jakni demokratik, sechingga pada perkembangan selandjutnja sastra ‘keagamaan tidak identik dengan chotbsh” jang dibungkus dalam sadiak. novel ataupun repertoire d
Toh dasar² Kehadirannja telah bisa ia pertangungdjawabkan
- V -
DEMIKIANLAH dengan menjaden bahwa wudjuan terachir adalah kemer- dekaan manusia. dan bukan kekuasaan Kristen atau Islam, bahwa tudjuan terachir bukanlah djumlah jang banjak hidup rohaniahnja, sastra keagamaan akan menempati tempat jang wadjar bagi setiap genre sastra lainnja.
Jang terpenting dari harapan² kepada genre sastra ini adalah bahwa ia akan bisa mempengaruhi pemeluk² suatu agama tertentu untuk lebih toleran terhadap golongan² lain, bekerdja sama bagi kemerdekaan manusia; sebab sebagai kesusastraan ia bisa mengilhami kreatifitas, persatuan dan gotong-rojong antara golongan. Masalah² jang kita hadapi sekarang adalah tuntutan akan hal² tersebut.
Sedjarah akan tjenderung mengikis sektarisme, fanatisme dan kekolotan, dan berbahagialah sastra keagamaan apa bila ia sadar akan kehendak sedja rah ini. * * *
Djakarta, 7 Djuli 1964
