Majalah Horison/1966/Nomor 1/KUBURAN KERAMAT
Mochtar Lubis
KUBURAN KERAMAT
TELAH SEMINGGU lamanja orang dikampung djadi heboh. Orang tua2, jang pandai2, guru2 desa, Pak Lurah dan pembantu2nja semua ibu2 dan djuga orang2 muda, malahan kanak2pun tak tentunja membitjarakannja.
"Nista benar," kata Hadji Engkos,
"Amat memalukan," sahut Pa Lurah.
"Murtad," kata Hadji Abdullah, sambil menggontjang-gontjang tongkat kaju besinja keatas. Dan djanggutnja jang pandjang dan putih ter-gontjang2 pula penuh amarah. Air maa menggenang dimatanja jang telah tua dan agak kabur.
"Satu hinaan terhadap agama kita tak kurang dari satu hinaan."
Hadji Engkos membenarkan, mengangguk2kan kepalanja.
"Orang kafir dan munafik, jang berani mengaku mereka adalah orang Islam modern. Penipu dan pembohong." Hadji Abdullah tua berseru, sambil memukul medja amat keras dengan tongkatnja.
Pak Lurah terlompat, agak terkedjut.
"Dan aku akan kehilangan pekerjaanku," ratap Pak Kentong. Suaranya mengandung rasa putus asa dan kebingungan jang besar.
"Dan desa kita akan kehilangan daya tariknya yang amat besar," kata Pak Lurah dengan sedih.
"Rakyat desa2 lain akan tak lagi mau datang kemari, dan kita akan rugi banjak," seru Pak Ketjil, tukang warung didesa.
"Tjelaka, tjelaka," Pak Lurah mengomel sedih.
"Dan kalian sudah melihat bagaimana mereka menanam pohon2 Nasrani di sekeliling tempat mereka nedak membangun mesdjid mereka?" tanja Pak Ketjil dengan suara gemetar.
"Orang2 kafir jang terkutuk" kata Hadji Engkos gusar.
"Engkau tahu, mereka hendak memindahkan kuburan keramat di puncak bukit?" bisik si Amat ketjil anak Pak Lurah, kepada kawannja Andja. "Kata ajah, mereka telah memberi tahu ajah, bahwa mereka hendak membongkar kuburan keramat, dan memindahkan tulang-belulang Kjai Hadji Maulana Arabi."
"Aduh, beraninja, mengapa?" tanja Andja ketjil, agak takut. "Kata ajah mereka akan membangun sebuah mesdjid dipuntjak bukit." Amat ketjil merasa dirinja penting.
Beberapa kanak2 lain datang. Djuga beberapa orang muda datang mendengarkan Amat ketjil. Amat merasa dirinja djadi lebih penting lagi.
"Kata ajah mereka telah membeli ketiga bukit itu dan sepotong tanah jang luas dipinggir sungai. Kata ajah mereka hendak mendirikan sebuah pesantren modern. Disana nanti tidak sadja membatja Qur'an jang akan diadjarkan, akan tetapi djuga pengetahuan modern."
"Apa itu pengetahuan modern?" seseorang bertanja.
Amat ketjil diam, agak malu.
"Uh, aku tak tahu," katanja kemudian dengan enggan. Merasa tak senang ditanja demikian sulit.
"Tapi aku tahu," katanja kemudian dengan bangga, "mereka hendak membongkar kuburan keramat dan memindahkannja dari puntjak bukit. Mereka akan membangun sebuah mesdjid disana."
"Aduh, itu bahaja sekali," seru seorang muda, "mau mati mereka apa?" "Mereka tak tahu itu kuburan keramat?" tanja jang lain dengan heran.
"Barangkali mereka belum pernah mendengar tjerita tentang orang kulit putih jang tak mau pertjaja bahwa itu adalah kuburan keramat, dan telah menghina kuburan dengan meletakkan sepatunja keatas batu nisan. Dia akan mati beberapa hari kemudian," Amat ketjil bertjerita.
"Dan Hamzah tua jang mengangkat sumpah palsu dikuburan keramat dan terus mati kedjang?" kata Andja.
"Dan kedjadian2 mudjizat jang dilakukan kuburan keramat jang lain?" kata seorang lain pula.
"Aduh, ibuku sendiri pergi kesana dan minta rahmat, dan seminggu kemudian nenek meninggal, dan ibu mendapat warisan sawah jang luas," seorang bertjerita.
"Kalian kan ingat Siti Aisah," kata seorang muda, "dia telah kawin dengan
Pak Hadji Engkos selama lima tahun dan tak dijuga dapat anak. Dan Hadji Engkos katanya bendea memperlajari ilmu karena itu. Lalu Alasmi pergi diberi kuburan keramat dan minta diberi anak. Setelah sembilan dia lalu melahirkan bayi, bujang.
Dan barangkalai, djika kuburan keramat mereka bonkar, dikutuk dosa besar, akan dapat tjelaka; tanja Amat betji dengan geram.
“Bini pertjayaan Amat lagi menundjuk bukti rasa takut dalam hati mereka. Ada jang sampai merasa gemetar memikirkan betapa tjelakanya djika kuburan keramat didjadi dibongkar. Tidak! Kalau, bisik mereka dalam hati, kuburan keramat tak boleh dibongkar.
Ibu dan wanita² didesa lebih lagi heboh karena kabar tentang pembongkaran kuburan keramat. Djika kuburan keramat dibongkar, tidaklah keselamatan masanja dan keluaran gawatlah hilang? Lalu lamentau lagi nerofa akan dapat pergi untuk minta tolong? Untuk melaksanakan harapan dan mimpi² mereka? Kemana akan pinta tolong tatkala merajakat suami minta tolong? Atau memet tjinta sama muda? Untuk suami, minta naik gaji, minta naik sikit djadi sembun, minta orang gila dan waras minta obat hati sakit?
Selama mereka ingat, kuburan keramat telah ada disana, dengan astanja dari kain kuning, dan telah dipelihara turun temurun oleh keluarga Pak Kebong. Bagi mereka dan bagi seluruh desa kuburan keramat merupakan pula lambang dari kebaikan hidup desa itu masa sendiri.
Bukan, bukan lambang sadja, akan tetapi hal obahinja secara suah, tempat kajat hidup desa mereka terletak dengan amanja djika dilanda oleh keadaan jama gawat. Seperti ketika petjah sahaja pes didoeari mereka, berkat soed’jan’ dan doa² mereka dikuburan keramat, desa mereka telah luput dari serangan pes. Demikian pula ketika Gunung Api meletus entah tudjuh puluh tahun jang lalu; kuburan keramatlah jang menjemalmatkan desa mereka. Djuga ketika wabah kolera mengamuk sesudah masa perant djioa perangam. Kuburan keramat tetap melindungi desa mereka. Kuburan keramat adalah sjelamat dari hidup mereka. Kuburan keramat memberi arti pada hidup mereka, memberi djalan pada mereka, memberi harapan pada mereka.
Dan kini orang tak perkenai datang dan hendak membongkar dan mengambil keramat?
Tidak! Seribu kali tidak! Seru orang² kampung dalam hati mereka. Lebih baik mati dari membiarkan kuburan keramat mereka dirobohkan dan dibongkar.
Dalam sebuah rapat besar yang diadakan dengan amat buru rencana pembongkaran itu telah diambil oleh jang semen. Mereka harus melawan, dengan segala kekuatan jang ada dalam mereka. Mereka mesti menegahi kuburan keramat mereka dibongkar.
Mereka memutuskan untuk mengirim Pak Lurah dan Pak Hadji Engkos, dua orang tertua didesa, dan jang dianggap paling bidjak sama pula, pergi berunding dengan orang tua orang itu.
Pada hari jang telah ditetapkan Pak Lurah dan Hadji Engkos dan dengan satu paju mendaki bukit, jang terletak diluar desa, untuk bertemu dengan Sanusi, orang muda jang diangkat pemin pin pesantren modern. Sanusi masih muda. Umurnja baru dua puluh tahun atau paling tua tjapouluh enam. Ketika Pak Lurah dan Hadji Engkos dekat tipunjuk bukit, tempat kuburan keramat, mereka melihat Sanusi sedang mengawasi pemantauan pohon² Nasrani. Mereka berenti, terheran melihat dengan sanang jang agak marah, akan tetapi karena napas mereka sendiri masih sesak habis mendaki bukit, Sanusi rena rabut mesmiskar jang menedoh fong fathat kebawah bukit. Sanusi tak mendengar pula mereka.
Sanusi baru mengangkat kepala, tang padah terlelot ketika Pak Lurah dan Hadji Engkos telah berdiri disebelah dia, dan menegurnya.
“Assalaamu’alaïkum.”
Sanusi terbeling pula mereka, agak terkejut.
Pak Lurah dan Hadji Engkos merasa senang melihat Sanusi terkejut. Bagi mereka ini hal lain sebuah tanda, bahwa Sanusi merasa dirinya berdosa.
“Kami datang, untuk berbunding dengan tuan tentang kuburan keramat. Kami djadi utusan semua orang desa dan kami datang dengan maksud damai,” kata Pak Lurah dengan suara resmi, dengan sikap jang sopan sekali.
Sanusi meluruskan badannja, mengu pasrukan tangannja kesisi telajanana jang berwarna biru tua, dan dia mengulurkan tangan bersalaman.
“Wa’alaïkumsalam,” katanya, dan dia pun meminu lalu mereka jang sanang hati. “Maupun gerna bapak² datang dengan maksud damai, dan untuk berunding. Kami pun juga mau berunding dan menjelaskan kepada penduduk desa tentang tudjuan kami di tanah itu. Angalat kepada pemimpin² desa jang begiat hidup pada segoen bapak² bapak² desa, kami menghormati sangat dan dari tadisi. Kampung masa diam dan kerja bersama dengan rakyat desa.
Sanusi tidak segera Pak Lurah dan Hadji Engkos itu kessebab pohon Nasrani dan keramaian kuburan itu. “Batu-batu ditinggari dari batu² kecil berwarna kelabu. Itu lemah keramat jang telah dikubur. Ini lemah keramat jang tudju muljadi. Dan musti jang lambat menutupi batu² itu harus dimusnahkan bersama dengan tanda² dan keramatnja kuburan. Alangkah hebatnja kejadian² dan kesemanja kesemanja.
Diatas kuburan terpasang atap daun² tangan tuang jang digantung tinggi dari futhud jang telah dikait, dan seluruhnja ini kemudian dilindungi lagi di radjuk dan atas pileh sebuah atap jang terpasang diatas langit² kayu besar, jang dirikul leh tong² besar. Sadaji’ rid’ and dari laut, bunga melati, bunga mawar dan kenanga menutupi kuburan² keramat sesuai dengan perintah pujaan menselipkan satu saat berhenti. Diluar tembok kuburan tumbuh subur pohon kemboja jang besar dan tua. Dan kebangtoja dikaliskan tiga telen kambing jang diberikan sebagai korban oleh seorang raki jang lai dari desa lain.
Ajani² hidup djuga dianantari orang ke kuburan keramat, akan tetapi setelah susana lama beberapa saat saja. Tanda kemudian lalu masuk kedalam pek kubur djikup DJu Kentong dan Hadji lain dikese. Mereka itu, mengadakan up pembakaran ja didil’ sari sad’ hari dengan lantarkan² tekelubur keramat, kembang² jam, watu perak dan tembaga perak kertas, potongan² kain, dan sebagainja.
Pak Kentong sendiri bersilap seperi helas disamping kuburan keramat, dengan telunpu membat Al Qur’an, menjadikanja turusnja jang keremat, yang sadarwidjai air ajahnja, seperti ajahnja mewarisnja dari ajahnja, dan demikian seterusnja.
Melihat kubur keramat mereka ja sido itu, hati Pak Lurah dan Hadji Engkos itu tambah terketuk untuk membela kuburan keramat mereka, api djan saja akan terjadi. Dengan emem bela napas panjang, mereka berpaling kepada Sanusi. Didalam pondok ada beberapa mjedi dan keris. Diatas meja terletak kertas² putih besar dengan rajatan² ganer penuh dan gendub-gendub¹ dari pohon². Sunusi membenarkan xu’koel, menurunkan bunyi² sun meletika kata itumj untuk ja kermet hur tembus karena akan di duduki.
Kemuian, dia sesudah duduk, dan de atas meja asawakan rokok besar dan pembunjara. Akmes takut. Pak Lurah dan Hadji Engkos inteolah desa dan hati. Mereka berpikir ada baik sekali mereka…
merokok rokok jang diberikan seorang
nusub.
Tetapi menelaa mendoa dengan sini perti djuga, dan beranak bahwa mera- ka suka mendoa rokok bilamana roko besar, dan lebih sukar makan rokok roti besar.
Atas nama semua rakjat jang baik didaho Tjilgoeno, ”kata Pak Lurah, ”dan ini datang kenari untuk memeriksa ja- ngan dulu sampai kepada utut kampung dengan sampai menongkrak kuburan keramat. Perbuatan itu akan me- rusakkan ruh Tseramat Kiai Hadji Mau- lana Arah, dan pasti akan membawa tjelaka dan kesengsaraan kepada desa- penduduk desa kami dan djuga pada diriku sendiri. Soeng belarasan dan ke- naskan orang orang akan berdosa. De mikianlah kata saya.”
”Saja soedah mendengar dari Pak Lurah. Termasuk saja ustjapkan,” balas Soeara pebri homat pula, akan tetapi soekali bobah moel menjelatakan se ins. kuburan keramat itu.”
”Ahem, ahem,” Hadji Engkos meng- ger ger boncongkongkan. Ini kemarahan jang sangat djoelos. Dia harus datang ke- si kuburan keramat, dan akan djel terangkan alas sesa maha ini udjang sekor adjar ini, jang datang membawa piku len mohon kedesaan.”
”Tjeritanga pendjang sekali.” ~ ”Kebiasaan ini, pesan keadaan penting initinja. Kuburan ama; tuanja, hingga sla seorang djuga harus hidup kini da- desal apalagi pada sabda kuburan itu dyai dipintjak bukit dulu untuk me nungkan Kiai Hadji Maulana Arah. Ramsan tahun jang lalu. Dulu’ sekali. Sebelum Goenoeng Krakatau meletos. Sebelum Parangin Diponegoro. Sebelum goenoeng meletus. Masih djamann orang Wiyah belum bergama Islam. Seorang keramat datang kepada Djawa dari ne- geri Arab — Kiai Hadji Maulana Arah. Tetapi orang di Djawa tak mau percaya pada adjaran-agama Islamiah, dan selalu meminta supaja dia membuat kan rempat anda Tuhan jang maha “She, dan tentang kekoeatan” jang ada pade Tuhan. Talulah, bahwa didjamanan itu seroet sagai kami masih djoernih se- kali. Akan tetapi pada suatu hari, ketika orang desa menuntut supaja dia men tjelaskan kekoeatsaan Tuhan, maka Had- ji Maulana kemudian berkata — ‘Sae moenja supaja Tuhan menunjukkan, air sungai untuk se-hari-nja, dan dengan dernilakatan agar dapat menundukkan kesombongan hart orang kampoeng.
Tan tilah” air sungai jang djoernih Itula menjadi keras. …dan hingga sekarang air sungai tetap kering, dan meski Desa pun harus berganti nama, dipul jadi neger, air kering. Dan achirnja pendu- duk desa lain berobat, dan mesoekko agama Islam. Hadji Maulana dipo nga- rasoekan hal: gaui In berkat keluasaan Tuhan. Dia pun mendadakan agar ku- bang turen, kefujur masas zaman—ke- tul lima, di perum menjoekankan se- gala pengakir. jang tadnadi dapat boer- dau, dan o’lo dapat berangkat ke Mekkah. dan mengeremeng serbanjang, dan kem bali lagi dalam seledap mata sadja. Se- moenja binatang djuta han itu berani menjengur dirinja. Semua ular dan ka landjang masuk, dan mengusirnja. Be- situlah keramatnja dia. Dan ketika dia wafat, maka satu hari lamana djadi ge- lud. Penaklain dia dikuburkaan diatas pundak bukit, dan kuburannja tetap ke amat sejak itu. Dan masih banjak kejadian2 kedjadian2 serba lain djang dibuat oleh kerbuatannja, seperti …”
Akan tetapi Sasmil mengangkat te- ngannja, tersenyum dan berkatan.
”Terima kasih hanjak Pak. Akan te- tapi kami djas tetapșa diigsa merog- bangkor kuburan keramat, akan tetapi kami akan menjoengkaraken dengan pe- noeh chirmat dan hormat pada kekoe- asaan-nja; dan kamai telah mendapat tempat jang bok untuk kuburan itu. Ini” lebih dekat kepada desa tergendoendoe.”
“Dan lebih mudah bagi orag desa mendoatangna, dia kini dipindahkan ke- ……..”
”Akan tetapi itu murad, melanggar keramat. Dilarang oleh Qur’an memin dah dan memindahkan kuburan,” kata Hadji Engkos, semhi berbojinkapak se suatu dalam bahasa Arab. Samsul Isar menghela desu, memu tjapkan sesuatu dalam bahasa Arab, dan mengatakan, bahwa tak ada tertulis dalam Qur’an larangan memongkar kub- turan, keramat atau tidak.
“Tapi aku kemari gertjagi pada uta- pamit, anak muda, kata Hadji Engkos, “menurut engkau dan kelihatannja fasih berbahasa Arab dan hapal Qur’an serta hadits. Dan engkau tak serupa dengan anak2 muda Islam jang biasa. Malahan engkau sangat mai menanam pohon Nasrani,” serunja với suara meneng. “Maka Sesuai berodha djadi sungguh.” ”Pohon Nasrani?” dia tertenggu set bentar. “Oh, itu bukan pohon Nasrani, itu pohon djemara.” “Bukan, dapat tau namakan pohon djemara, akn tetapi ajen sebenama itu adalah pohon Nasrani. Sering dit- nam dhalaman gereja2 dia dipakka kan daon Keristeny untuk hiasi raja me- reka.”
Samsul menarik napas. Berdiri, dan pgeri keseubhan, medja, dan mendjamai sebuah buku.
Dibukannja buku, dan diperlihatkan- nja kepada Hadji tua dan Pak Lurah
sebuah potret sebuah mesjid jang be- sar, dan rumah2 dikelilingi oleh po- hon2 djemara jang tinggi. “…Lihatlah, kakek,” ini potret mesuh mesjid be- sar di Kairo. Dikelilingi oleh pohon de- mara, bukan pohon Nasrani. Dan lihat- lah,” dia menunjuk lembaran buku lain, ”ini sebuah mesjid di Leba non, djuga dikelilingi pohon djemara. dan ini, dan sebuah mesjid di India, djuga dikelilingi …dan ini, dan ini,” dia membuka bu- turan tur, medal potret mesjid pohon de- mara, banjak pohon djemara. Bapak Had- ji bermaksud menetakkan, bahwa orang Me- sird, Arab orang rade Tionghoa Islam ka umu semuanya adalah orang kafir! karena mereka menanam pohon dje- mara dihalaman mesjid mereko.“
Beberapa waktu Hadji Engkos ter- sendu. Berat sekali baginja untuk me- ngaku dan menjerah pada anak muda itu dalam tingkat pertama perundingan mereka. Satu kerpulan fakta jang ber asar. Akan tetapi dia tak dapat berbo- hong sesuat apa, ketjuali mengakui berha- nana tidak benar.
”Baik, baiklah,” dia mengaku, “baiklah kita namakan pohon ‘tje moroes’ itoe serupa sadja dengan pohon Nasrani jang diperkenalkan oleh orang Nasrani untuk mengadjak Hari Natal mereka, dan sadja tidak akan mau men- anamja dihalaman mesjid kami.” Had- ji Engkos melotot pada Samsul.
Samsul tersenyum sadja, menutup bu- ku, dan berkata, ”Pak hadji dan Pak Lu- rah jang mulia. Kami datang kemari atas dasar orang Muslim jang baik. Kami hendid menamnbuhkan sebuah persa- tuan haru. Kami akan menghaploeskan sela di adjaran agama Islam, semata tetapi djuga ingin mengetahui jasen djar- lam. Kami hendak mendidik pemimpin pemimpin agama tokoan huru, jang akan menjadi pemimpin agama didesa-de- desa. Mereka tidak sadja harus mengerti di pemimpin agama, melainka harus da- hura menjadi pemimpin masjarakat. Mereka tidak lasi boleh mendapat “hal kai dari pemberian’ rad raja, tak eng- ka mereka jang mesti membantu rakjat. Mereka mesti dapat memberi makanan dan memimpin orang desa bagaimana adan memperbaiki panen, bagaimana membangun irigasi jang lebih baik, ba- gaimana memperbaiki ternak, bagaimana membangun kandang2 ajam jang le- bih baik, dapur jang lebih baik, sogot bagaimana memperbaiki kesehatan desa, bagaimana hidup lebih baik dari keadaan kekoetaan alam jang melingkungi desa
Halaman:Horison 01 1966.pdf/10 Halaman:Horison 01 1966.pdf/11
