Lompat ke isi

KARTINI (2025)

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Film pendek edukasi kolosal produksi Tamatan As-Sheba yang menggambarkan perjuangan R.A. Kartini dalam menuntut hak pendidikan bagi perempuan Nusantara melawan belenggu adat istiadat.
Warna (info)
Dialog
Adegan
Cerita
thumbtime=
Berikut ini adalah transkripsi dari sebuah film. Isi di bawah ini mewakili teks atau dialog lisan yang ditranskripsikan langsung dari video film yang disediakan di atas. Pada ukuran layar tertentu, setiap baris diwakili oleh stempel waktu di sebelahnya yang menunjukkan kapan teks tersebut muncul di video. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Help:Film.


Film dimulai dengan menampilkan cuplikan film Kartini lainnya.

Jangan sekali-kali kamu gunakan sekolahmu!

Bilang saja kamu merasa terkungkung dengan adat istiadat.

Batalkan perkawinan ini.

Tidak bisa Nyi.

Nyi ndak mau kawin dengan laki-laki yang sudah beristri.

Video ini ditujukan kepada mendiang RA. Kartini atas jerih payah dan derap juangnya mengubah polarisasi tradisi masyarakat yang membelenggu kaum wanita pada masanya.

Teruntuk seluruh guru di Indonesia, juga guru-guru hebat kami, atas pengorbanan dan dedikasinya dalam menemani langkah kami dalam berproses. Doa-doa baik tak lelah kami langitkan.

Jepara, 1879

Presented by: As-Sheba

Kartini
[melamun]

Ibu
Nduk, ora usah muluk-muluk
Arti: Nak, tidak usah muluk-muluk!

Kita ini perempuan, buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi!

Ora wangun rasane, nggak pantes apa kata orang nanti.

Kartini
La teng nopo, Bu? Bukankah justru kita yang seharusnya belajar?

Ibu
Ndak, jangan melanggar tradisi!

Kartini
Kenapa? Apa karena kita wanita?

Ibu
Enggak, bukan karena itu, Nduk.

Kartini
Enggak, Bu!

Ibu
Kartini!

Kartini
[tersadar]

[menulis surat]

kepada: Estella Zehandellar.
Aku telah ikut membantu membuka jalan menuju ke arah perempuan Bumiputra yang Merdeka dan berdiri sendiri.

Ialah seorang wanita, murid, anak, juga guru yang menginspirasi masyarakat indonesia kala Ia merombak kultur budaya dan membebaskan emansipasi kaum wanita.

Semarang,1887

Kartini
Perempuan itu harus mikul dhuwur mendem jero.

kita harus belajar, Nduk.

Agar kita bisa memerdekakan hak kita,juga memerdekakan bangsa kita.

MUrid
Nopo saget, Nyai?

Artinya: Apa bisa, Nyai?

Kita bahkan tidak pernah mengenal ataupun menyentuh satu pun buku.

Kartini
Nduk buku bukan hanya untuk orang kaya atau orang besar.

Buku adalah cahaya yang dapat mengeluarkan kita dari kegelapan.

Apapun latar belakang kita.

Kepada para masyaikh kami, guru-guru kami, yang selalu membimbing kami, kami ucapkan Selamat Hari Guru. doa-doa kami selalu menyertai Panjenengan. terkhusus kepada Beliau, Almukarram Agus H. Ibnu Atho’illah semoga Beliau senantiasa diberi kesehatan dan kesembuhan oleh Allah SWT.

Kami, santri Al-Rifa’ie berharap, para guru tak lelah merangkul, dan bersedia mengulurkan tangannya pada kami. Agar kita selalu beriringan bersama, bergerak serentak memandang satu tuju yang sama. Dengan segala kecerobohan kami, jangan pernah tinggalkan kami. Sehingga kita bisa menggerakkan bersama kapal Al-Rifa’ie berlayar dalam menggapai impian yang tinggi.

Murid 1
Selamat hari guru!

Murid 2
Happy Teachers Day!

Murid 3
Selamat hari guru!

Murid 4
Selamat hari guru!

Murid 5
Selamat hari guru!

Murid 6
Selamat hari guru!

Murid 7
Selamat hari guru!

Murid 8
Selamat hari guru!

CREDIT

Title:

Habis Gelap Terbitlah Terang

Story by:

Syakhia Widya Mukti
Evi Marisa Muharromah

Edited by:

Logita Eva Rahmawati

Nayla Nur Elsyada

Syakhia Widya Mukti

Directed by:

Evi Marisa Muharromah

Galuh Ananta

Safira Sahda Putri Fatur

Cast:

Cindy Salsabila Riski

Salsabila Azamatul

Nanda Firjatullah

Sheli Tri Amanda

Avidatul Nur

Marshela Ashifa

Special thanks to:

Allah SWT

Seluruh keluarga Dzurriyah Pondok Modern Al-Rifa’ie 1

Wali kelas letting kelas 6

Anggota tamatan As-Sheba