Sitti Nurbaya: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tidak ada perubahan ukuran ,  6 bulan yang lalu
</poem>
 
Tatkala Nurbaya membaca syair ini, erlinangberlinang-linanglah air matanya, karena untungnya pun sedemikian pula.
matanya, karena untungnya pun sedemikian pula.
 
:"Adikku Nurbaya!" demikianlah bunyi surat itu, ketika terus dibaca oleh Nurbaya, "Begitulah penanggunganku. Bukan sedikit beratnya perceraian ini rasanya. Bukannya engkau saja yang terbayang di mataku, tetapi ibu-bapa, handai tolan, dan teman sejawatku, yang kutinggalkan di Padang, semuanya tiada hendak luput dari mataku. Dahulu aku dimanjakan oleh ibu-bapakku. Sekaliannya telah disediakan, telah diselenggarakan. Akan tetapi sekarang haruslah aku sendiri mengerjakannya. Pakaianku harus kucuci, kulipat dan kusimpan sendiri; bilik dan tempat tidurku harus pula dibersihkan sendiri. Sepatuku pun tak ada orang lain, yang akan menggosoknya. Kehidupanku tiadalah bebas, karena tinggal di dalam sekolah. Tidur di dalam sebuah kamar panjang; bersama-sama dengan teman-teman yang lain, sebagai serdadu dalam tangsi. Hanya akulah yang dapat sebuah kamar sendiri sebab tak cukup tempat bersama-sama dengan yang lain.
"Adikku Nurbaya!" demikianlah bunyi surat itu, ketika terus
dibaca oleh Nurbaya, "Begitulah penanggunganku. Bukan
sedikit beratnya perceraian ini rasanya. Bukannya engkau saja
yang terbayang di mataku, tetapi ibu-bapa, handai tolan, dan
teman sejawatku, yang kutinggalkan di Padang, semuanya
tiada hendak luput dari mataku. Dahulu aku dimanjakan oleh
ibu-bapakku. Sekaliannya telah disediakan, telah
diselenggarakan. Akan tetapi sekarang haruslah aku sendiri
mengerjakannya. Pakaianku harus kucuci, kulipat dan
kusimpan sendiri; bilik dan tempat tidurku harus pula
dibersihkan sendiri. Sepatuku pun tak ada orang lain, yang
akan menggosoknya. Kehidupanku tiadalah bebas, karena
tinggal di dalam sekolah. Tidur di dalam sebuah kamar
panjang; bersama-sama dengan teman-teman yang lain,
sebagai serdadu dalam tangsi. Hanya akulah yang dapat
sebuah kamar sendiri sebab tak cukup tempat bersama-sama
dengan yang lain.
 
:Pukul sepuluh malam haruslah tidur, tak boleh bercakapcakap lagi atau bekerja terus. Pukul enam pagi haruslah bangun; setelah makan, sekolah pun mulai, pukul delapan. Pelajaran tiada sebagai di sekolah kita di Padang, karena sekaliannya diserahkan kepada yang belajar sendiri.
Pukul sepuluh malam haruslah tidur, tak boleh
bercakapcakap lagi atau bekerja terus. Pukul enam pagi
haruslah bangun; setelah makan, sekolah pun mulai, pukul
delapan. Pelajaran tiada sebagai di sekolah kita di Padang,
karena sekaliannya diserahkan kepada yang belajar sendiri.
 
:Bila hendak pandai rajin-rajinlah; jika tidak, tahu sendiri..
 
:Pukul satu berhentilah sekolah, akan tetapi terkadang-kadang petang hari masuk pula.
petang hari masuk pula.
 
:Sesungguhnya aturan ini baik, karena dengan demikian dapatlah kami belajar hidup sendiri. Apabila kita telah besar kelak, tentulah begitu juga jadinya. Masakan selalu akan bergantung kepada ibu-bapa sahaja? Sungguhpun demikian, bagiku yang belum biasa hidup sedemikian berat rasanya. Akan tetapi lama-kelamaan lenyap juga keberatan itu. Sekarang ini telah mulai biasa aku sedikit pada aturan itu dan tiadalah berat benar lagi rasanya sebagai bermula. Barangkali engkau belum tahu, hampir pada tiap-tiap sekolah tinggi ada suatu adat, yang dinamakan dalam bahasa Belanda "ontgroening"<ref>Perpeloncoan.</ref>.
Sesungguhnya aturan ini baik, karena dengan demikian
dapatlah kami belajar hidup sendiri. Apabila kita telah besar
kelak, tentulah begitu juga jadinya. Masakan selalu akan
bergantung kepada ibu-bapa sahaja?
Sungguhpun demikian, bagiku yang belum biasa hidup
sedemikian berat rasanya. Akan tetapi lama-kelamaan lenyap
juga keberatan itu. Sekarang ini telah mulai biasa aku sedikit
pada aturan itu dan tiadalah berat benar lagi rasanya sebagai
bermula. Barangkali engkau belum tahu, hampir pada tiap-tiap
sekolah tinggi ada suatu adat, yang dinamakan dalam bahasa
Belanda "ontgroening"<ref>Perpeloncoan.</ref>.
 
:Adat ini memang ada baiknya, karena maksudnya dengan bersuka-sukaan, mengajari murid-murid yang baru masuk, supaya tahu adat-istiadat, tertib sopan kepada teman sejawatnya atau orang luar pun dan berani atas kebenaran.
bersuka-sukaan, mengajari murid-murid yang baru masuk,
supaya tahu adat-istiadat, tertib sopan kepada teman
sejawatnya atau orang luar pun dan berani atas kebenaran.
 
:Bila ontgroening itu dipandang sebagai permainan saja, tiadalah mengapa; akan tetapi terkadang-kadang kasar dilakukan, sehingga boleh mendatangkan kecelakaan kepada muridmurid yang dipermainkan itu. Permainan yang kasar ini, pada pikiranku, tak baik diteruskan. Misalnya aku dengar pada sebuah sekolah menengah, ada permainan yang dinamakan "melalui selat Gibraltra."
Bila ontgroening itu dipandang sebagai permainan saja,
tiadalah mengapa; akan tetapi terkadang-kadang kasar
dilakukan, sehingga boleh mendatangkan kecelakaan kepada
muridmurid yang dipermainkan itu. Permainan yang kasar ini,
pada pikiranku, tak baik diteruskan. Misalnya aku dengar pada
sebuah sekolah menengah, ada permainan yang dinamakan
"melalui selat Gibraltra."
 
:Engkau tentu masih ingat dalam ilmu bumi, selat Gibraltar itu, ialah suatu selat yang sempit, antara ujung tanah Sepanyol dan benua Afrika.
itu, ialah suatu selat yang sempit, antara ujung tanah
Sepanyol dan benua Afrika.
 
:Demikianlah diperbuat oleh murid-murid kelas tinggi suatu selat yang sempit, yang dijadikan oleh kira-kira dua puluh murid yang tua-tua, yang berleret dalam dua baris. Sekalian rnurid baru, haruslah berjalan seorang-seorang melalui selat ini dan tiap-tiap murid kelas tinggi yang berdiri itu meninju dan menyepak murid-murid baru ini, sehingga ia tertolak dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sampai ke luar dari selat siksaan itu. Kemudian murid baru itu diangkat bersama-sama, lalu dicemplungkan ke dalam suatu kolam.
Demikianlah diperbuat oleh murid-murid kelas tinggi suatu
selat yang sempit, yang dijadikan oleh kira-kira dua puluh
murid yang tua-tua, yang berleret dalam dua baris. Sekalian
rnurid baru, haruslah berjalan seorang-seorang melalui selat
ini dan tiap-tiap murid kelas tinggi yang berdiri itu meninju
dan menyepak murid-murid baru ini, sehingga ia tertolak dari
kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sampai ke luar dari selat
siksaan itu. Kemudian murid baru itu diangkat bersama-sama,
lalu dicemplungkan ke dalam suatu kolam.
 
:Apakah faedahnya permainan yang kasar serupa ini? Istimewa pula sebab ia boleh mendatangkan bahaya.
Istimewa pula sebab ia boleh mendatangkan bahaya.
 
:Tambahan lagi, pada sangkaku, dan demikian, murid-murid itu jadi ber-musuh-musuhan dan berdendam-dendaman.
itu jadi ber-musuh-musuhan dan berdendam-dendaman.
 
:Misalnya seorang anak Sunda yang kurang suka kepada anak Jawa atau yang telah mendapat siksaan dari orang anak Jawa, tatkala ia mula-mula masuk, menaruh dendam dalam hatinya dan berniat hendak melepaskan dendamnya kelak kepada anak Jawa. Dengan demikian persahabatan antara kedua suku bangsa ini, yang diharapkan akan diperoleh karena percampuran dalam sekolah, boleh menjadi kurang dan akhirnya menjadi putus.
Misalnya seorang anak Sunda yang kurang suka kepada anak
Jawa atau yang telah mendapat siksaan dari orang anak Jawa,
tatkala ia mula-mula masuk, menaruh dendam dalam hatinya
dan berniat hendak melepaskan dendamnya kelak kepada
anak Jawa. Dengan demikian persahabatan antara kedua suku
bangsa ini, yang diharapkan akan diperoleh karena
percampuran dalam sekolah, boleh menjadi kurang dan
akhirnya menjadi putus.
 
:Untunglah permainan yang kasar itu tak ada pada sekolah kami dan sekalian aturan ontgroening pada sekolah ini, sesungguhnya permainan atau sesuatu yang memberi paedah, misalnya murid-murid yang baru itu disuruh bernyanyi, menari atau memencak, menurut aturan negeri masing-masing, di hadapan murid kelas tinggi.
Untunglah permainan yang kasar itu tak ada pada sekolah
kami dan sekalian aturan ontgroening pada sekolah ini,
sesungguhnya permainan atau sesuatu yang memberi paedah,
misalnya murid-murid yang baru itu disuruh bernyanyi, menari
atau memencak, menurut aturan negeri masing-masing, di
hadapan murid kelas tinggi.
 
:Oleh sebab murid-murid yang masuk sekolah ini, sebagai telah kukatakan dalam suratku dahulu, datang dari beberapa negeri, seperti Padang, Batak, Deli, Palembang, Jakarta, Sunda, Jawa; Madura, Ambon, Manado, dan lain-lainnya, bermacam-macam lagu yang didengar, dinyanyikan dalam berbagai-bagai bahasa dan bermacam-macam pulalah tari dan pencak yang dipertunjukkan. Suatu tari yang hebat yaitu tari orang Manado, yang dinamakan "cakalele," tak ada ubahnya dengan pencak orang yang hendak perang, dengan tempik soraknya.
Oleh sebab murid-murid yang masuk sekolah ini, sebagai
telah kukatakan dalam suratku dahulu, datang dari beberapa
negeri, seperti Padang, Batak, Deli, Palembang, Jakarta,
Sunda, Jawa; Madura, Ambon, Manado, dan lain-lainnya,
bermacam-macam lagu yang didengar, dinyanyikan dalam
berbagai-bagai bahasa dan bermacam-macam pulalah tari dan
pencak yang dipertunjukkan. Suatu tari yang hebat yaitu tari
orang Manado, yang dinamakan "cakalele," tak ada ubahnya
dengan pencak orang yang hendak perang, dengan tempik
soraknya.
 
:Lain daripada permainan yang, telah kuceritakan itu ada pula permainan yang mengadu kekuatan, misalnya berhelahelaan tali berlumba-lumba, melompat tinggi dan mengadu kekuatan badan. Yang terlebih lucu ialah disuruh membeli minyak sesen ke kedai, dalam sebuah botol yang besarnya hampir sebesar aku. Lucu benar rupanya murid itu berjalan pulang balik memikul botol yang sebesar itu untuk tempat minyak harga sesen.
Lain daripada permainan yang, telah kuceritakan itu ada
pula permainan yang mengadu kekuatan, misalnya
berhelahelaan tali berlumba-lumba, melompat tinggi dan
mengadu kekuatan badan. Yang terlebih lucu ialah disuruh
membeli minyak sesen ke kedai, dalam sebuah botol yang
besarnya hampir sebesar aku. Lucu benar rupanya murid itu
berjalan pulang balik memikul botol yang sebesar itu untuk
tempat minyak harga sesen.
 
:Ada pula yang disuruh memburu ayam liar, yang dilepaskan dalam pekarangan sekolah. Ayam ini harus dapat ditangkap oleh dua orang murid. Kasihan melihat kedua murid itu berlelah payah menangkap ayam ini. Akan tetapi untunglah, setelah tertangkap dipotong dan dimasak atau digoreng.
Ada pula yang disuruh memburu ayam liar, yang dilepaskan
dalam pekarangan sekolah. Ayam ini harus dapat ditangkap
oleh dua orang murid. Kasihan melihat kedua murid itu
berlelah payah menangkap ayam ini. Akan tetapi untunglah,
setelah tertangkap dipotong dan dimasak atau digoreng.
 
:Ada pula yang disuruh berpakaian yang indah-indah, seboleh-bolehnya pakaian hitam yang tebal. Kaumaklum Nur, Jakarta sangat panas hawanya, sehingga murid itu kepanasan karena pakaiannya itu. Setelah berpakaian indah-indah itu, disuruhlah ia berjalan sepanjang jalan raya. Tiap-tiap orang yang tertemu, dengan tiada memandang bangsanya, haruslah diberinya tabik dengan mengangkat topinya. Sebagai telah kuceritakan, kota Jakarta itu sangat ramai; orang yang lalulintas di jalan raya beratus-ratus banyaknya dengan tiada berkeputusan. Memberi tabik itu, walaupun tiada seberapa berat, tetapi karena banyak orang yang bertemu, dalam setengah jam saja pun telah lelah murid itu.
Ada pula yang disuruh berpakaian yang indah-indah,
seboleh-bolehnya pakaian hitam yang tebal. Kaumaklum Nur,
Jakarta sangat panas hawanya, sehingga murid itu kepanasan
karena pakaiannya itu. Setelah berpakaian indah-indah itu,
disuruhlah ia berjalan sepanjang jalan raya. Tiap-tiap orang
yang tertemu, dengan tiada memandang bangsanya, haruslah
diberinya tabik dengan mengangkat topinya. Sebagai telah
kuceritakan, kota Jakarta itu sangat ramai; orang yang
lalulintas di jalan raya beratus-ratus banyaknya dengan tiada
berkeputusan. Memberi tabik itu, walaupun tiada seberapa
berat, tetapi karena banyak orang yang bertemu, dalam
setengah jam saja pun telah lelah murid itu.
 
:Orang yang diberi tabik, bermacam-macam kelakuannya.
 
:Yang telah tahu akan permainan ini, tersenyum; tetapi yang belum tahu terkadang-kadang marah, karena pada sangkanya ia diperolok-olokkan. Ada yang tiada mengindahkan suatu apa, ada yang menertawakan murid itu, ada yang bingung tiada mengerti itu dan ada pula yang membalas tabik itu dengan lebih hormat, sebab pada sangkanya bukan permainan, melainkan sesungguh-nyalah ia diberi hormat oleh orang yang tiada dikenalnya tetapi sangat memuliakannya. Anak-anak di jalan raya menyangka murid itu miring otaknya, sehingga dipermain-mainkannya dan diganggunya mereka. Berbagaibagailah ragam orang-orang itu. Mereka itulah yang ditonton oleh murid-murid kelas tinggi, yang mengikut dari jauh.
Yang telah tahu akan permainan ini, tersenyum; tetapi yang
belum tahu terkadang-kadang marah, karena pada sangkanya
ia diperolok-olokkan. Ada yang tiada mengindahkan suatu apa,
ada yang menertawakan murid itu, ada yang bingung tiada
mengerti itu dan ada pula yang membalas tabik itu dengan
lebih hormat, sebab pada sangkanya bukan permainan,
melainkan sesungguh-nyalah ia diberi hormat oleh orang yang
tiada dikenalnya tetapi sangat memuliakannya. Anak-anak di
jalan raya menyangka murid itu miring otaknya, sehingga
dipermain-mainkannya dan diganggunya mereka. Berbagaibagailah
ragam orang-orang itu. Mereka itulah yang ditonton
oleh murid-murid kelas tinggi, yang mengikut dari jauh.
 
:Yang kurang lucu, yaitu disuruh makan obat kina, yang sangat pahit itu atau disuruh mencium sebangsa hawa yang sangat busuk atau disuruh makan pisang sesisir di hadapan bangkai. Ada seorang murid yang sangat penjijik, disuruh makan pisang itu. Jangankan termakan olehnya, bahkah segala yang ada dalam perutnyalah keluar semua. Kasihan! Sungguh permainan yang baru kuceritakan itu kurang lucu, tetapi ada juga mengandung suatu pelajaran. Dokter itu harus tahan bau busuk dan rasa yang pahit, serta tak boleh takut dan geli melihat mayat; sebab itulah diajar di sana. Akhirnya setelah itu disuruh tidur di kamar mati. Akan tetapi terlebih dahulu baiklah kuceritakan kepadamu apa bagianku dan bagian Arifin, daripada permainan yang telah kaudengar tadi, karena pada sangkaku tentulah engkau ingin juga hendak mengetahui hal itu. Arifin disuruh memencak, berhela-helaan tali, membeli minyak dengan botol besar, memburu ayam dan makan pisang dekat bangkai. Alangkah suka hati Bakhtiar, apabila dilihatnya Arifin, sebagai anjing mengejar ayam ke sana kemari! Akan tetapi pada sangkaku, walau perut Bakhtiar sekalipun, tiadalah 'kan dapat menghabiskan pisang sekian banyaknya itu di tempat yang sedemikian."
Yang kurang lucu, yaitu disuruh makan obat kina, yang
sangat pahit itu atau disuruh mencium sebangsa hawa yang
sangat busuk atau disuruh makan pisang sesisir di hadapan
bangkai. Ada seorang murid yang sangat penjijik, disuruh
makan pisang itu. Jangankan termakan olehnya, bahkah
segala yang ada dalam perutnyalah keluar semua. Kasihan!
Sungguh permainan yang baru kuceritakan itu kurang lucu,
tetapi ada juga mengandung suatu pelajaran. Dokter itu harus
tahan bau busuk dan rasa yang pahit, serta tak boleh takut
dan geli melihat mayat; sebab itulah diajar di sana. Akhirnya
setelah itu disuruh tidur di kamar mati. Akan tetapi terlebih
dahulu baiklah kuceritakan kepadamu apa bagianku dan
bagian Arifin, daripada permainan yang telah kaudengar tadi,
karena pada sangkaku tentulah engkau ingin juga hendak
mengetahui hal itu. Arifin disuruh memencak, berhela-helaan
tali, membeli minyak dengan botol besar, memburu ayam dan
makan pisang dekat bangkai. Alangkah suka hati Bakhtiar,
apabila dilihatnya Arifin, sebagai anjing mengejar ayam ke
sana kemari! Akan tetapi pada sangkaku, walau perut Bakhtiar
sekalipun, tiadalah 'kan dapat menghabiskan pisang sekian
banyaknya itu di tempat yang sedemikian."
 
Ketika itu tersenyumlah Nurbaya, sebab teringat kepada Bakhtiar.
Bakhtiar.
 
:"Aku disuruh bernyanyi, menari, makan kina, dan tidur di kamar mati. Kamar mati ini, ialah bilik tempat menyimpan mayat. Di sana ada rangka tulang orang (tulang-belulang) yang gunanya untuk pelajaran, digantungkan pada suatu tiang. Pada suatu malam, kira-kira pukul setengah sembilan, disuruhlah aku ke sana dengan murid yang penjijik tadi. Anak ini bukan penjijik saja, tetapi teramat penakut pula. Aku, meskipun tiada tahu apa-yang akan terjadi atas diriku, tiadalah aku tinggal saja dalam bilik ini, beberapa lamanya.
"Aku disuruh bernyanyi, menari, makan kina, dan tidur di
kamar mati. Kamar mati ini, ialah bilik tempat menyimpan
mayat. Di sana ada rangka tulang orang (tulang-belulang)
yang gunanya untuk pelajaran, digantungkan pada suatu
tiang. Pada suatu malam, kira-kira pukul setengah sembilan,
disuruhlah aku ke sana dengan murid yang penjijik tadi. Anak
ini bukan penjijik saja, tetapi teramat penakut pula. Aku,
meskipun tiada tahu apa-yang akan terjadi atas diriku,
tiadalah aku tinggal saja dalam bilik ini, beberapa lamanya.
 
:Untuk peringatan permainan saja. Kami duduk di atas kursi dekat sebuah meja, berhadap-hadapan; aku melihat kepada rangka itu dan temanku membelakang ke sana. Pada sangka kami, kami hanya disuruh tinggal saja dalam bilik ini, beberapa lamanya. Untuk perintang waktu, kami bercakap-cakap menceritakan hal ihwal masing-masing, kusuruh ceritakan olehnya negerinya dan aku pun bercerita pula tentang kota Padang.
Untuk peringatan permainan saja. Kami duduk di atas kursi
dekat sebuah meja, berhadap-hadapan; aku melihat kepada
rangka itu dan temanku membelakang ke sana. Pada sangka
kami, kami hanya disuruh tinggal saja dalam bilik ini, beberapa
lamanya. Untuk perintang waktu, kami bercakap-cakap
menceritakan hal ihwal masing-masing, kusuruh ceritakan
olehnya negerinya dan aku pun bercerita pula tentang kota
Padang.
 
:Sejak asyik kami bercakap-cakap itu, tiba-tiba kulihat rangka tadi mengangkat tangannya, sebagai menggamit aku dari jauh, dan matanya sebagai menyala. Walaupun aku tidak penakut dan yakin, mustahil tulang-belulang pandai bergerak. tetapi tatkala kulihat hal itu, berdebar juga hatiku. Akan tetapi heranku itu tiadalah kuperlihatkan kepada temanku, karena aku khawatir, kalau-kalau ia menjadi takut; lalu kuperbuat purapura asyik mendengarkan ceritanya, tetapi mataku acap kali juga melihat kepada rangka tadi.
Sejak asyik kami bercakap-cakap itu, tiba-tiba kulihat
rangka tadi mengangkat tangannya, sebagai menggamit aku
dari jauh, dan matanya sebagai menyala. Walaupun aku tidak
penakut dan yakin, mustahil tulang-belulang pandai bergerak.
tetapi tatkala kulihat hal itu, berdebar juga hatiku. Akan tetapi
heranku itu tiadalah kuperlihatkan kepada temanku, karena
aku khawatir, kalau-kalau ia menjadi takut; lalu kuperbuat
purapura asyik mendengarkan ceritanya, tetapi mataku acap
kali juga melihat kepada rangka tadi.
 
:Kedua kalinya diangkatnya tangannya, lebih tinggi daripada bermula, lalu digerak-gerakkannya jarinya, sebagai hendak memanggil. Melihat hal ini terkejutlah aku, dan karena itu temanku itu pun menoleh ke belakang.
bermula, lalu digerak-gerakkannya jarinya, sebagai hendak
memanggil. Melihat hal ini terkejutlah aku, dan karena itu
temanku itu pun menoleh ke belakang.
 
:Tatkala dilihatnya tangan rangka itu bergerak-gerak dan matanya sebagai berapi, menjeritlah ia sekuat-kuatnya, lalu melompat memeluk aku, sehingga, terbaliklah kursi dan meja, yang dekatnya itu. Sebab aku dipeluknya tiba-tiba dengan erat dan ditariknya ke belakang, terbaliklah pula aku bersamasama dengan dia. Akan tetapi leherku tiadalah terlepas dari pelukan temanku itu, sehingga aku hampir tercekik. Dengan susah payah, baru dapat kulepaskan tangannya dari leherku.
Tatkala dilihatnya tangan rangka itu bergerak-gerak dan
matanya sebagai berapi, menjeritlah ia sekuat-kuatnya, lalu
melompat memeluk aku, sehingga, terbaliklah kursi dan meja,
yang dekatnya itu. Sebab aku dipeluknya tiba-tiba dengan erat
dan ditariknya ke belakang, terbaliklah pula aku bersamasama
dengan dia. Akan tetapi leherku tiadalah terlepas dari
pelukan temanku itu, sehingga aku hampir tercekik. Dengan
susah payah, baru dapat kulepaskan tangannya dari leherku.
 
:Setelah terlepas aku dari pelukannya, rebahlah temanku itu ke lantai, tiada khabarkan dirinya lagi. Mukanya pucat, peluhnya bercucuran dan badannya gemetar. Tatkala kulihat halnya yang sedemikian, bingunglah aku, tiada tahu apa yang hendak kuperbuat.
ke lantai, tiada khabarkan dirinya lagi. Mukanya pucat,
peluhnya bercucuran dan badannya gemetar. Tatkala kulihat
halnya yang sedemikian, bingunglah aku, tiada tahu apa yang
hendak kuperbuat.
 
:Kemudian larilah aku ke luar, minta tolong. Seketika itu juga kelihatan olehku dua orang murid kelas tinggi, entah dari mana datangnya, tiada kuketahui, lalu bertanya mengapa aku berteriak. Setelah kuceritakan kepadanya, apa yang terjadi, kami angkatlah bersama-sama murid yang pingsan tadi ke tempat tidurnya, lalu diobati merekalah temanku itu, sampai baik pula. Sungguhpun demikian masih belum dapat ia berkata-kata; rupanya masih sangat terperanjat dan takut.
Kemudian larilah aku ke luar, minta tolong. Seketika itu
juga kelihatan olehku dua orang murid kelas tinggi, entah dari
mana datangnya, tiada kuketahui, lalu bertanya mengapa aku
berteriak. Setelah kuceritakan kepadanya, apa yang terjadi,
kami angkatlah bersama-sama murid yang pingsan tadi ke
tempat tidurnya, lalu diobati merekalah temanku itu, sampai
baik pula. Sungguhpun demikian masih belum dapat ia
berkata-kata; rupanya masih sangat terperanjat dan takut.
 
:Kemudian dibujuklah kami oleh kedua murid kelas tinggi tadi.
 
:Dikatakannya, mustahil tulang-belulang orang yang telah mati dapat bergerak pula. Sekalian yang kami lihat tadi, tentulah penglihatan karena takut saja, lalu dibawalah aku oleh seorang dari mereka kepada rangka tadi dan dipegangpeganglah tulang-tulang itu. Sesungguhnya tiadalah ia dapat bergerak.
dapat bergerak pula. Sekalian yang kami lihat tadi, tentulah
penglihatan karena takut saja, lalu dibawalah aku oleh
seorang dari mereka kepada rangka tadi dan dipegangpeganglah
tulang-tulang itu. Sesungguhnya tiadalah ia dapat
bergerak.
 
:Pada keesokan harinya, barulah aku dapat tahu, apa sebabnya maka rangka itu bergerak. Tangannya diikat dengan dawai yang halus, lalu ditarik-tarik dari luar, dan matanya yang menyala itu, karena diberi suatu obat yang bercahaya di tempat yang gelap. Sungguhpun sekalian itu hanya permainan yang gunanya akan menghilangkan takut dan untuk menyatakan, bahwa segala hantu dan setan itu hanya penglihatan mereka yang takut saja, tetapi murid yang ketakutan tadi, tiga hari lamanya demam. Demikianlah percobaan di Sekolah Dokter Jawa.
Pada keesokan harinya, barulah aku dapat tahu, apa
sebabnya maka rangka itu bergerak. Tangannya diikat dengan
dawai yang halus, lalu ditarik-tarik dari luar, dan matanya
yang menyala itu, karena diberi suatu obat yang bercahaya di
tempat yang gelap. Sungguhpun sekalian itu hanya permainan
yang gunanya akan menghilangkan takut dan untuk
menyatakan, bahwa segala hantu dan setan itu hanya
penglihatan mereka yang takut saja, tetapi murid yang
ketakutan tadi, tiga hari lamanya demam. Demikianlah
percobaan di Sekolah Dokter Jawa.
 
:Ah, ya, hampir lupa aku menceritakan hal ihwal Bakhtiar. Ia sekarang rupanya kurus sedikit; barangkali sebab terlalu berat bekerja menggergaji dan mengetam kayu, inilah kerjanya mula-mula sehari-hari. Makan rupanya tak dapat sekehendak hatinya. Acap kali aku bertemu dengan dia pada petang hari.
Ah, ya, hampir lupa aku menceritakan hal ihwal Bakhtiar. Ia
sekarang rupanya kurus sedikit; barangkali sebab terlalu berat
bekerja menggergaji dan mengetam kayu, inilah kerjanya
mula-mula sehari-hari. Makan rupanya tak dapat sekehendak
hatinya. Acap kali aku bertemu dengan dia pada petang hari.
 
:Baginya dan bagi Arifin pun permulaan ini rupanya susah dan berat. Tetapi tak jadi apa, karena segala permulaan itu tentulah berat dan susah. Apabila telah biasa kelak, tentulah akan hilang juga segala kesusahan dan keberatan itu. Kedua mereka acapkali teringat kepadamu dan kepada ibu-bapaknya serta handai tolannya di Padang. Mereka berpesan kepadaku supaya menyampaikan salamnya kepadamu, bila aku berkirim surat jua kepadamu.
Baginya dan bagi Arifin pun permulaan ini rupanya susah dan
berat. Tetapi tak jadi apa, karena segala permulaan itu
tentulah berat dan susah. Apabila telah biasa kelak, tentulah
akan hilang juga segala kesusahan dan keberatan itu. Kedua
mereka acapkali teringat kepadamu dan kepada ibu-bapaknya
serta handai tolannya di Padang. Mereka berpesan kepadaku
supaya menyampaikan salamnya kepadamu, bila aku berkirim
surat jua kepadamu.
 
:Sehingga inilah dahulu, adikku Nurbaya! Dengan segera engkau akan mendapat kabar pula daripadaku. Jika tiada aral melintang pada hari Ahad yang akan datang ini, kami akan ber-jalan jalan ke Bogor, melihat-lihat kots itu dan melihat istana serta Kebun Raya di sana. Jika jadi perjalanan itu tentulah akan kuceritakan pula kepadamu sekalian yang telah kulihat di sana.
Sehingga inilah dahulu, adikku Nurbaya! Dengan segera
engkau akan mendapat kabar pula daripadaku. Jika tiada aral
melintang pada hari Ahad yang akan datang ini, kami akan
ber-jalan jalan ke Bogor, melihat-lihat kots itu dan melihat
istana serta Kebun Raya di sana. Jika jadi perjalanan itu
tentulah akan kuceritakan pula kepadamu sekalian yang telah
kulihat di sana.
 
:Tolonglah sampaikan sembah sujudku kepada orang tuamu dan orang tuaku serta salam tazimku kepada sekalian handai tolan, teman sejawat kita, dan sambutlah peluk cium dari kekasihmu yang jauh ini.
dan orang tuaku serta salam tazimku kepada sekalian handai
tolan, teman sejawat kita, dan sambutlah peluk cium dari
kekasihmu yang jauh ini.
 
:SAMSULBAHRI
Tambahan: Suratmu yang terkirim pada hari Jumat yang
telah lalu, sudah aku terima dengan segala selamatnya dan
sangatlah sedih hatiku mendengar, engkau belum dapat
melipur kesedihan perceraian kita. Oleh sebab itu
perbanyaklah sabar dan tetapkanlah hatimu, Nur, serta
tawakal kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Mudah-mudahan
lekas hilang segala kesusahan kita itu dan lekaslah pula
disampaikan-Nya segala maksud dan hajat kita. Dengan kapal
ini ada kukirimkan pada seorang kita yang pulang ke Padang,
untuk ayahku buahbuahan sedikit sebagai salak, sauh manila,
dan jeruk. Untuk engkau telah kupisahkan dalam bungkusan
itu. Terimalah pemberianku ini dan makanlah dengan
sedapnya. Aku sendiri yang membeli dan melihatnya, yang
lain belum dapat kukirimkan kepadamu waktu ini.
 
:Tambahan: Suratmu yang terkirim pada hari Jumat yang telah lalu, sudah aku terima dengan segala selamatnya dan sangatlah sedih hatiku mendengar, engkau belum dapat melipur kesedihan perceraian kita. Oleh sebab itu perbanyaklah sabar dan tetapkanlah hatimu, Nur, serta tawakal kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Mudah-mudahan lekas hilang segala kesusahan kita itu dan lekaslah pula disampaikan-Nya segala maksud dan hajat kita. Dengan kapal ini ada kukirimkan pada seorang kita yang pulang ke Padang, untuk ayahku buahbuahan sedikit sebagai salak, sauh manila, dan jeruk. Untuk engkau telah kupisahkan dalam bungkusan itu. Terimalah pemberianku ini dan makanlah dengan sedapnya. Aku sendiri yang membeli dan melihatnya, yang lain belum dapat kukirimkan kepadamu waktu ini.
Setelah dibaca oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan
diletakkannya ke atas dadanya, ke tempat jantungnya yang
berdebar; kemudian disimpannya dalam lemari pakaiannya,
bersama-sama dengan surat yang lain, yang telah diterimanya
dari kekasihnya itu.
 
Setelah dibaca oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan diletakkannya ke atas dadanya, ke tempat jantungnya yang berdebar; kemudian disimpannya dalam lemari pakaiannya, bersama-sama dengan surat yang lain, yang telah diterimanya dari kekasihnya itu.
Tatkala itu datanglah kusir Ali dari rumah Sutan Mahmud
membawa sekarung buah-buahan untuk Sitti Nurbaya. Tak
dapatlah dikatakan girang hatinya menerima kiriman itu, lalu
dengan segera dibukanya dan dilihatnya isinya. Rupanya
masih baik sekali buah-buahan itu, tak ada yang busuk, lalu
dimakannya dan dibagikannya kepada segala isi rumahnya,
serta dikatakannya buah-buahan itu datang dari kekasihnya.
 
Tatkala itu datanglah kusir Ali dari rumah Sutan Mahmud membawa sekarung buah-buahan untuk Sitti Nurbaya. Tak dapatlah dikatakan girang hatinya menerima kiriman itu, lalu dengan segera dibukanya dan dilihatnya isinya. Rupanya masih baik sekali buah-buahan itu, tak ada yang busuk, lalu dimakannya dan dibagikannya kepada segala isi rumahnya, serta dikatakannya buah-buahan itu datang dari kekasihnya.
Sayang ayahnya pada waktu itu tak ada di rumah, pergi ke
Padang Panjang menguruskan perniagaannya, karena ruparupanya
segala toko yang biasa mengambil barang-barang
dari padanya, kurang suka lagi memesan apa-apa ke tokonya.
 
Sayang ayahnya pada waktu itu tak ada di rumah, pergi ke Padang Panjang menguruskan perniagaannya, karena ruparupanya segala toko yang biasa mengambil barang-barang dari padanya, kurang suka lagi memesan apa-apa ke tokonya.
Setelah dimakan oleh Nurbaya buah-buahan itu,
berbaringbaringlah ia di atas tempat tidurnya sampai jauh
malam, mengenangkan halnya. Kemudian dikeluarkannyalah
segala surat-surat dari Samsulbahri, lalu dibacanya pula
sehelai-sehelai. Dengan tiada diketahuinya tertidurlah ia.
 
Setelah dimakan oleh Nurbaya buah-buahan itu, berbaringbaringlah ia di atas tempat tidurnya sampai jauh malam, mengenangkan halnya. Kemudian dikeluarkannyalah segala surat-surat dari Samsulbahri, lalu dibacanya pula sehelai-sehelai. Dengan tiada diketahuinya tertidurlah ia.
Tiba-tiba kira-kira pukul dua malam, terbangunlah ia
daripada tidurnya dengan terperanjat, karena didengarnya
bunyi tabuh pada segala tempat sangat dahsyat, memberi
tahu ada rumah terbakar. Mendengar bunyi tabuh itu,
melompatlah ia dari tempat tidurnya, lalu membuka jendela
rumahnya akan melihat dan manakah api itu. Kelihatan
olehnya langit di sebelah tenggara merah warnanya yang
menyatakan di sanalah kebakaran itu, tetapi rupanya jauh.
 
Tiba-tiba kira-kira pukul dua malam, terbangunlah ia daripada tidurnya dengan terperanjat, karena didengarnya bunyi tabuh pada segala tempat sangat dahsyat, memberi tahu ada rumah terbakar. Mendengar bunyi tabuh itu, melompatlah ia dari tempat tidurnya, lalu membuka jendela rumahnya akan melihat dan manakah api itu. Kelihatan olehnya langit di sebelah tenggara merah warnanya yang menyatakan di sanalah kebakaran itu, tetapi rupanya jauh.
Tatkala itu kelihatan Penghulu Sutan Mahmud keluar dengan
bendinya dari rumahnya. Rupanya akan pergi ke tempat
kebakaran itu.
 
Tatkala itu kelihatan Penghulu Sutan Mahmud keluar dengan bendinya dari rumahnya. Rupanya akan pergi ke tempat kebakaran itu.
Supaya dapat kita ketahui di mana kebakaran ini, marilah
kita tinggalkan Sitti Nurbaya di rumahnya dan kita ikuti
Penghulu Sutan Mahmud. Setelah sampai ia ke pasar
Kampung Jawa, bertanyalah Penghulu itu kepada orang jaga
yang ada di sana, di manakah kebakaran itu. Jawab mereka,
di Pasar Gedang, lalu Sutan Mahmud menyuruh mencambuk
kudanya ke sana. Di tengah jalan banyak kelihatan orang yang
telah keluar dari rumahnya, karena terkejut mendengar bunyi
tabuh. Makin dekat Sutan Mahmud ke Pasar Gedang, makin
banyaklah orang tampak di jalan raya. Ada yang berjalan
cepat-cepat, ada yang berlari menuju api itu, ada yang
berteriak dan ada pula yang menangis, takut kalau-kalau
rumahnya atau rumah keluarganya yang terbakar. Pompa air
pun telah dikeluarkan, ditarik cepatcepat menuju kebakaran
itu.
 
Supaya dapat kita ketahui di mana kebakaran ini, marilah kita tinggalkan Sitti Nurbaya di rumahnya dan kita ikuti Penghulu Sutan Mahmud. Setelah sampai ia ke pasar Kampung Jawa, bertanyalah Penghulu itu kepada orang jaga yang ada di sana, di manakah kebakaran itu. Jawab mereka, di Pasar Gedang, lalu Sutan Mahmud menyuruh mencambuk kudanya ke sana. Di tengah jalan banyak kelihatan orang yang telah keluar dari rumahnya, karena terkejut mendengar bunyi tabuh. Makin dekat Sutan Mahmud ke Pasar Gedang, makin banyaklah orang tampak di jalan raya. Ada yang berjalan cepat-cepat, ada yang berlari menuju api itu, ada yang berteriak dan ada pula yang menangis, takut kalau-kalau rumahnya atau rumah keluarganya yang terbakar. Pompa air pun telah dikeluarkan, ditarik cepatcepat menuju kebakaran itu.
Akhirnya tiada dapat lagi Sutan Mahmud berbendi, sebab
terlalu banyak orang di jalan raya, sehingga segala kendaraan
ditahan, tak boleh terus. Sutan Mahmud turun dari atas
bendinya, lalu berjalan kaki, diiringkan oleh seorang-orang
jaga, menuju tempat kebakaran itu. Di situ nyatalah oleh
Sutan Mahmud, bahwa yang terbakar itu ialah toko Baginda
Sulaiman, ayah Nurbaya; yang sebuah telah habis dimakan
api, sedang yang sebuah lagi tengah, terbakar dan ketiga
rupanya tak dapat ditolong lagi, istimewa pula karena pompa
tak dapat bekerja, sebab tak ada air. Barang-barang suatu
pun tak dapat dikeluarkan, karena api sangat cepat makannya
dan udara di sana sangat panas, sehingga seorang pun tak
ada yang berani mendekat. Polisi-polisi hanya menjaga dari
jauh saja, supaya jangan terjadi kecelakaan apa-apa. Bunga
api bermain ke udara, sehingga menjadi merahlah langit di
sana. Terkadang-kadang kedengaran bunyi peletusan, disertai
oleh bunga api yang membangkit ke atas. Bunyi kayu meletus
adalah sebagai mercun dibakar. Di dalam bunga api yang
berkabut itu, kelihatanlah kelelawar beterbangan ke sana
kemari, karena kepanasan.
 
Akhirnya tiada dapat lagi Sutan Mahmud berbendi, sebab terlalu banyak orang di jalan raya, sehingga segala kendaraan ditahan, tak boleh terus. Sutan Mahmud turun dari atas bendinya, lalu berjalan kaki, diiringkan oleh seorang-orang jaga, menuju tempat kebakaran itu. Di situ nyatalah oleh Sutan Mahmud, bahwa yang terbakar itu ialah toko Baginda Sulaiman, ayah Nurbaya; yang sebuah telah habis dimakan api, sedang yang sebuah lagi tengah, terbakar dan ketiga rupanya tak dapat ditolong lagi, istimewa pula karena pompa tak dapat bekerja, sebab tak ada air. Barang-barang suatu pun tak dapat dikeluarkan, karena api sangat cepat makannya dan udara di sana sangat panas, sehingga seorang pun tak ada yang berani mendekat. Polisi-polisi hanya menjaga dari jauh saja, supaya jangan terjadi kecelakaan apa-apa. Bunga api bermain ke udara, sehingga menjadi merahlah langit di sana. Terkadang-kadang kedengaran bunyi peletusan, disertai oleh bunga api yang membangkit ke atas. Bunyi kayu meletus adalah sebagai mercun dibakar. Di dalam bunga api yang berkabut itu, kelihatanlah kelelawar beterbangan ke sana kemari, karena kepanasan.
Sejam kemudian daripada itu, habislah ketiga toko Baginda
Sulaiman terbakar dengan isi-isinya. Tinggal abu dan
bekasbekas rumah saja lagi.
 
Sejam kemudian daripada itu, habislah ketiga toko Baginda Sulaiman terbakar dengan isi-isinya. Tinggal abu dan bekasbekas rumah saja lagi.
Usaha yang bertahun-tahun, pencarian yang sekian lama,
habis dimusnahkan api dalam sejam. Tatkala itu berembuslah
angin topan, disertai oleh hujan yang sangat lebat sehingga
api dalam sekejap mata pun padamlah.
 
Usaha yang bertahun-tahun, pencarian yang sekian lama, habis dimusnahkan api dalam sejam. Tatkala itu berembuslah angin topan, disertai oleh hujan yang sangat lebat sehingga api dalam sekejap mata pun padamlah.
Terlambat! Bila sejam lebih dahulu datang hujan yang
sekian lebatnya, barangkali dapat juga ketolongan sebuah
toko dengan isinya. Tetapi bukan demikian halnya. Adalah
sebagai hendak dipeliharakan Tuhan sekalian toko lain yang
berdekatan di sana, dan hanya toko Baginda Sulaiman sahaja
yang harus dimakan api.
 
Terlambat! Bila sejam lebih dahulu datang hujan yang sekian lebatnya, barangkali dapat juga ketolongan sebuah toko dengan isinya. Tetapi bukan demikian halnya. Adalah sebagai hendak dipeliharakan Tuhan sekalian toko lain yang berdekatan di sana, dan hanya toko Baginda Sulaiman sahaja yang harus dimakan api.
Tatkala datang angin dan hujan ini, sekalian orang yang
ada dekat kebakaran itu, larilah pulang ke rumahnya masingmasing.
 
Tatkala datang angin dan hujan ini, sekalian orang yang ada dekat kebakaran itu, larilah pulang ke rumahnya masingmasing.
Yang dapat berteduh, berteduhlah dekat-dekat di
sana. Hanya saudagar-saudagar yang telah mengeluarkan
barang-barangnya dari tokonya yang ribut memasukkan
barang-barangnya kembali. Sutan Mahmud pun dengan
segera mencari bendinya, lalu pulang ke rumahnya dengan
perasaan yang sedih dan heran.
 
Yang dapat berteduh, berteduhlah dekat-dekat di sana. Hanya saudagar-saudagar yang telah mengeluarkan barang-barangnya dari tokonya yang ribut memasukkan barang-barangnya kembali. Sutan Mahmud pun dengan segera mencari bendinya, lalu pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sedih dan heran.
"Ajaib," katanya dalam hatinya ketika pulang itu." Apakah
sebabnya lekas amat api itu makan, dan apakah sebabnya
maka bukan toko yang kedua terbakar, sesudahnya toko yang
pertama? Bolehkah jadi api itu melompat dari toko yang
pertama ke toko yang ketiga, melalui toko yang di tengahTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tengah? Dan apakah sebabnya maka kedua toko yang diujung
itu hampir serentak terbakar, sebagai disengaja dibakar orang,
bukan terbakar sendiri? Akan tetapi siapa pula yang akan
berbuat sedemikian? Baginda Sulaiman tak ada musuhnya.
 
"Ajaib," katanya dalam hatinya ketika pulang itu." Apakah sebabnya lekas amat api itu makan, dan apakah sebabnya maka bukan toko yang kedua terbakar, sesudahnya toko yang pertama? Bolehkah jadi api itu melompat dari toko yang pertama ke toko yang ketiga, melalui toko yang di tengah-tengah? Dan apakah sebabnya maka kedua toko yang diujung itu hampir serentak terbakar, sebagai disengaja dibakar orang, bukan terbakar sendiri? Akan tetapi siapa pula yang akan berbuat sedemikian? Baginda Sulaiman tak ada musuhnya.
Lagi pula apakah sebabnya hujan ini datang, tatkala ketiga
toko itu telah habis terbakar? Mengapakah tidak lebih dahulu?
Apakah sebabnya dan apakah maksudnya sekalian ini?"
 
Lagi pula apakah sebabnya hujan ini datang, tatkala ketiga toko itu telah habis terbakar? Mengapakah tidak lebih dahulu? Apakah sebabnya dan apakah maksudnya sekalian ini?"
Demikianlah pikiran Sutan Mahmud dalam bendinya, karena
 
tak mengerti akan kejadian yang ganjil ini. Tiada berapa
Demikianlah pikiran Sutan Mahmud dalam bendinya, karena tak mengerti akan kejadian yang ganjil ini. Tiada berapa lamanya kemudian sampailah ia ke rumahnya.
 
== VIII. Surat Nurbaya Kepada Samsulbahri ==
3.347

suntingan

Menu navigasi

Perkakas pribadi

Ruang nama

Varian

Lainnya

Komunitas

Bagikan