Ilmu Bumi Kabupaten Lima Puluh Kota
ILMU BUMI
KABUPATEN
LIMA PULUH KOTA
Gaja baru
Untuk murid-murid Sekolah Dasar Kelas III dikabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnja
oleh
N A H A D I
dan
A. D A N H O E R I
.//.
Tjetakan ketiga.
.//.
Penerbit: C. V. "I N D A H" BUKITINGGI PAJAKUMBUH 1971
ILMU BUMI
KABUPATEN
LIMA PULUH KOTA
Gaja baru
Untuk murid-murid Sekolah Dasar Kelas III dikabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnja
oleh
N A H A D I
dan
A. D A N H O E R I
.//.
Tjetakan ketiga.
.//.
Penerbit: C. V. "I N D A H" - BUKITINGGI - PAJAKUMBUH.
- 1 9 7 1 BAHAGIAN CHUSUS.
KABUPATEN LIMA PULUH KOTA.
Peladjaran ke: 11 ASAL USUL NAMANJA
P A D A zaman dahulu belum semua daerah didiami oleh manusia. Lalu turunlah 50 orang ninik mamak dengan keluarganja dari dari daerah Parahiangan, Padangpandjang menudju kedaerah kita jang sekarang ini. Maksud mereka ialah akan memtjari tempat tinggal jang baru. Karena daerah jang lama sudah sesak penduduknja.
Sampailah mereka kesebuah padang jang amat luas. Disana mereka berhenti. Djauh sebelah sana kelihatan sebuah daerah djang luas. Tanahnja kelihatanja subur, dan bagus untuk didjadikan kediaman jang baru itu.
Mereka lalu bermupakat. Setelah selesai mupakat dihitunglah kembali djumlah mereka itu. Rupanja mereka sudah tinggal 45 kaum lagi. Aneh. kemana perginja jang lain itu? Semuanja mengatakan "Antah!" Maksudnja- entah!- Lalu dinamailah padang jang luas itu Padang Siantak. Letaknja ialah dekat negeri Piladang sekarang ini. Lalu niknik mamak jang tinggal meneruskan perdjalananja ketempat jand baik. Mereka itulah asalnja penduduk Kabupaten Lima Puluh Kota jang sekarang ini. Karena mereka sudah kurang lima orang dinamai merekalah daerah baru itu Luhak Lima Puluh. Maksud arti kata jang mula-mula itu ialah kurang lima puluh.
Kemanakah hilangnja ninik mamak jang lima orang itu? Rupanja diam-diam mereka menjingkir dan meneruskan perdjalanannja. Mereka menghiliri batang mahat dan kemudian menghiliri batang Kampar. Aorhirnja membuat negeri pula ditepi Koto. Itulah daerah: Tambang (Danau Bengkuang), Kampar, Rumbio, Air Tiris dan Bangkinang, jang sekarang ini. Adat didaerah itu sama benar dengan adat di Lima Puluh Kota.
Menurut sepandjang adat luhak Lima Puluh Kota itulah jang termuda. Jang tertua luhak Tanah Datar (Batusangkar). jang tengah: Luhak Agam.
Itulah asalnja nama kabupaten kita ini. Biasa orang memuliakannja Kabupaten 50 Kota. Tulisan ini sebenernja salah, sebab angka 50 itu ialah angka Arab. Sebab itu dahulu orang memuliakannja L. Kota L. Itu ialah angka 50 dalam angka Romawi. Atau kalau ragu-ragu lebih baik dituliskan Lima Puluh Kota.
Ibu kotanja ialah: P a j a k u m b u h. Sebab dinamai demikian karena dahulu kota ini masih berpaja-paja (rawang) dan dalamnja banjak tumbuh kumbuh.
Demikianlah kata riwajat.
Peladjaran ke:12.
K E A D A A N A L A M N J A. P A D A sebelah barat daja tertegak gunung Sago jang berpuntjak tiga. Lajaknja seorang raksasa mahabesar penghuni kabupaten ini. Zaman dulu mungkin gunung ini sebuah gunung berapi. Sebab dilerengnja dan dikakinja banjak didjumpai batu-batu besar jang biasa diletuskan dari kepundan gunung berapi. Sebelah utara tertegak pula gunung Bungsu jang lantji puntjaknja. Takahnja seperti pasak paku kabupaten ini. Sebelah barat laut diperbatasan dengan kabupaten Pasaman mendjaga pula gunung Mas sebagai lambang kekajaan jang dipendamnja. Didaerah itu dahulu memang terdapat sebuah tambang mas, Manggani namanja. Sebelah timur laut berdiri gunung Sanggul sebagai seorang gadis sedang bersolek. (Tjarilah dipeta). Dibatas ketjamatan Suliki/Gunung Mas dengan Kapur IX terdapat gunung Gedang.
Sebelah timur, memandjang dari barat laut ketenggara, kedapatan bukit barisan jang berlapis-lapis, bewarna biru kelihatan dari djauh. Bukit barisan ini terus memandjang kedaerah Tanah Datar.
Sebelah utara dari bukit barisan itu pergunakan penduduk sepandjang sungai itu. Djika sungai itu dapat dimanfaatkan tentu akan besar sekali faedahnja.
Anaknja batang Lampasi mengalir melalui daerah sawah-sawah. Didaerah itulah jang ada dipergunakan untuk pengairan. Dinaikkan dengan kintjir air. Sebuah kintjir air jang besar dan tinggi dibuat ditepi batang air itu. Kintjir itu berputar oleh banjak tabung-tabung bambu. Tabung itu membawa air keatas dan ditampung dengan pipa-pipa dari bambu pula. Airnja dialirkan kesawah-sawah.
Anaknja batang Agam mengalir melalui lembah-lembah jang sempit. Karena itu amat deras alirannja. Orang sedang membuat sebuah pusat tenaga listerik jang besar dan kuat dibatang Agam itu. Pekardjaan itu sedang bardjalan dengan pesat siang dan malam. Tempat itu dekat Simpang Batu Hampar. Nama usaha itu P.L.T.A. (Pusat Listerik Tenaga Air) batang Agam. Djika kita melalui djalen dekat tempat itu malam hari akan kelihatan tempat itu bertabur dengan sinar lampu listerik. Sampai kepuntjak bukit akan kelihatan namanja: P.L.T.A. Bukan main indahnja pemandangan itu pada malam hari. Sekarang daerah itu mendjadi tempat darmawisata.
Batang Agam itu mengalir melalui kota Pajakumbuh sebelah selatannja. Terdapat sebuah djambatan disana. Ketika agresi Belanda tahun 1949 didjambatan itu tentara Belanda sering membunuh padjuang-pedjuang kita. Sehingga dinamai djambatan itu dengan: Djambatan Ratapan Ibu. Dibawah djambatan itu air terjun dengan gemuruh dan hebatnja.
Hulu batang Sinamar itu terus mengalir arah keselatan dan achirnja mendjadi sebuah sungai jang besar bernama: batang Kuantan (sungai Inderagiri).
Didaerah Kapur IX kedapatan batang Kapur jang mendjadi anak sungai Kampar. Hulu sungai Kampar didaerah itu djuga. Sungai Kampar itu mengalir arah ketimur mendjadi satu dengan anaknja batang M a h a t . Nama jang sebenarnja ialah: sungai Kampar Kanan.
Selain dari gunung dan bukit barisan dalam daerah ini banjak sekali kedapatan: ngalau-ngalau, jaitu bukit kapur jang kemerah-merahan. Sebuah ngalau jang terkenal dan mempunjai tjerita pula ialah ngalau si Bintjik dekat Piladang. Kata orang asalnja ialah anak durhaka jang disumpahi ibunja sehingga mendjadi batu. Batu ngalau itu dapat dibakar untuk mendjadi kapur jang dipergunakan untuk menembok atau mentjat dinding.
Antara Pajakumbuh dan batas kabupaten Agam banjak kedapatan bukit-bukit jang gundul. Djawatan Kehutanan sedang berusaha menjuburkan bukit itu kembali. Bukit-bukit itu ditanami dengan pohon Pinus. Pohon itu kalau besar dapat dipergunakan untuk membuat kertas dan batang korek api. Didaerah Sumatera Utara banjak kedapatan hutan pohon pinus itu sehingga didirikanlah disana paberik kertas dan paberik korek api. Tjara menjuburkan tanah jang demikian dinamakan reboisasi.
@@@
Peladjaran ke: 14.
IKLIM.
UMUMNJA diseluruh kabupaten ini iklimja berhawa sedang. Dataran tinggi Pajakumbuh tingginja 500 meter dari muka laut. Kalau musim hudjan sering