Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/63

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

depan orang jang bersendjatakan pisau belati itu, serangan siapa ia tangkis, pisaunja hendak ia rampas.

Soen Eng pun berlompat madju, tetapi mendadak sadja ia tahan tubuhnja terus la mentjelat mundur, maka dilain saat, ia sudah lompat masuk kedalam kamarnja, untuk mengambil pedang mereka bertiga, sesudah mana ia keluar pula.

„Djangan berkelahi ! Djangan berkelahi, tuan-tuan !” pengurus hotel berteriak.teriak, begitupun beberapa pelajannja. Mereka itu lari menghampiri. „Tolong tuan-tuan melihat mukaku. . . . . . .

„Lekas panggil polisi! Lekas !” berseru pemilik hotel, jang romannja seperti setan berpenjakitan. Dia baru sadja muntjul dari ruang dalam.

Pertjuma mereka itu berteriak-teriak. Mereka tidak diladeni oleh tiga orang jang menerbitkan gara-gara itu. Diantara mereka rupanja skorang bermata seperti tikus jang mendjadi kepala, Dia tidak membuka suara, hanja tangannja dipakai memberi pelbagai isjarat kepada dua kontjonja. Diantara mereka ini, lagi seorang menghunus pisau belati.

Dengan muka berlepotan darah, jang mengotori djuga tangan badjunja, Tjlo Hoa melajani orang jang memegang pisau belati itu. Ia sengit sekali, rupanja hatinja masih panas.

Yan Tjoe Hoei bertempur dengan musuh jang tubuhnja katedempak, dan memegang pisau belati; serangan orang ini luar biasa; ia selalu mengarah kebawah. Maka ia mendjadi mendongkol sekali dan menjerang hebat. Ia tidak bisa lantas merampas sendjata orang itu, akan tetapi beberapa kali tendangannja membikin lawannja terpelanting atau roboh. Musuh itu djadi djeri, tetapi dia malu untuk lari. . . . . . . . . .

Soen Eng baru lari sampai diambang pintu ketika ia rubah pikirannja dengan mendadak. Ia letakkan pula tiga batang pedangnja, untuk tukar itu dengan sebatang toja, baru ia lari kegelanggang pertempuran.

Waktu itu Tjio Hoa dikepung dua musuh, Salah satu ialah jang hertangan kosong. Ia tidak takut, ia lajani terus mereka berdua itu.

Tidak lama kemudian, musuh Tjio Hoa jang bersendjatakan pisau itu, berteriak kearah kamar No, 13 sampai beberapa kali, Lantas seorang menongolkan kepala dan ngelepot lagi; ketika dia muntjul pula, tangannja mentjekal sebatang golok, Dia lari menjerang Yan Tjoe Hoei, hingga sinona pun kena dikepung.

246