Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/62

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Kedjadian itu menambah keributan dan berisik oleh suara orang jang berkelahi dan djuru pemisah itu, jang mendjadi-gusar.

„Botjah ini dari mana, dia berani menjerang orang jang dengan baik hati memisahkannja ?” demikian berkata djuru pemisah jang tidak djatuh, jang terus madju, untuk menjerang.

Beberapa orang lain disitu pun memperlihatkan sikap mengantjam.

Djuru pemisah jang dirobohkan sudah lompat bangun dan mendahului menubruk.

Tjio Hoa berkelit, tapi djusteru itu, djuru pemisah jang kedua, jang madju dari arah kiri, menjambar lengannja, untuk ditelikung, sedang tangan kanannja melajang kearah muka.

„Kurang adjar !” bentak Tjio Hoa. „Sebenarnja kamu berkawan berapa orang ?” Ia tarik lengan kanannja sambil diputar, untuk membebaskan tangan itu, sedangkan tangan kirinja menangkis serangan. Berbareng dengan itu, ia menendang, dua kali salingsusul, maka dua crang itu terhujung sambil berteriak kesakitan.

Adalah waktu itu, orang jang berkelahi, jang memulai gara², madju menjerang Tjio Hoa. Ia dapat bergerak dengan merdeka karena ia ada dibelakang botjah she Tjio itu.

Tjio Hoa tahu adanja serangan. Ia lantas mendak sambil memutar tubuhnja. Dengan begitu, setelah berkelit, ia dapat menghadapi orang itu. Pula, setelah memutar tubuh, sebelah kakinja terajun.

„Blak!” demikian pembokong itu kena dirabu kakinja dan roboh, hidungnja bengoh, bibirnja petjah mengeluarkan darah. Inilah sambutan, jang ia tidak sangka. Maka ia mendjadi gusar sekali. Dengan lantas ia menghunus sebilah pisau belati.

Melihat itu, banjak orang lantas berteriak-teriak: „Orang berkelahi! Menggunakan sendjata tadjam! Tuan hotel, lekas keluar! Bakal ada perkara djiwa!”

Waktu itu Yan Tjoe Hoei dan Tjio Soen Eng muntjul, Mereka pun bermata tadjam, mereka lantas menjangka djelek pada beberapa orang itu. Keduanja lantas lompat madju.

„Kawanan kaki andjing, kamu berani main gila ?” Yan Tjoe Hoei mendamprat. „Adik Tjio, hunus sendjatamu! Hadjar binatang ini!”

Nona ini mengandjurkan kawannja, tetapi ia sendiri lompat ke-

245