Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/44

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

omong lagi, ia turut siorang she Ma. Mereka berangkat dengan menunggang kuda. Ma Tjoen meninggalkan tugas kepada seorang pembantunja.

Setiba mereka di Yam-shia, di Tin Wan Piauw Kiok, kebetulan Kok Ban Tjiong, Lioe Hong Hoa dan Tjian Tjeng Loen tidak ada dikantor. Mereka tengah ditemani Siang Tjeng, adik Siang Beng, pergi pesiar. Orang she Siang ini pandai sekali melajani tetamu. Tiap2 kali mereka pergi pesiar, djuga malam itu.

Tjong Hong dan Ma Tjoen tidak dapat menanti, maka dengan minta bantuan seorang penundjuk djalann, mereka menjusul kegedung komidi dimana kawan2nja itu sedang menonton pertundjukan sandiwara. Mereka tidak lantas memasuki gedung, hanja si penundjuk djalan diminta masuk seorang diri untuk memanggil Hong Hoa keluar.

Hong Hoa kaget mendengar warta perihal tertawannja Ouw Tjeng Lip itu. Ia lantas berunding dengan Ma Tjoen dan Tjong Hong, lalu mereka bertindak. Tentang urusan penjerahan piauwnja Tjeng Loen, rentjana akan tetap didjalankan, hanja disebelah itu, tenaga dipetjah, jaitu sebagian turut Ma Tjoen dan Tjong Hong untuk segera berangkat ke Kanglam, guna menolong Tjeng Lip.

Waktu Kok Ban Tjiong semua sepulangnja nonton mendengar kabar itu, Ban Tjiong bersama Tie Tiauw Lan, Ang Soe Sioe dan Djie Ie segera menjatakan bersedia pergi ke Kanglam untuk memberikan bantuan mereka. Ketika ini hendak digunakan Ban Tjiong untuk sekalian pulang ke Mauw San, karena ia tetap memikirkan Hay Djiak, tentang siapa belum ada kabartjeritanja. Tiauw Lan dan Djie Ie suka pergi karena mereka ingat perkenalan mereka dengan Tjeng Lip. Tjuma Ang Soe Sioe jang mengikuti kakak-tuanja sadja.

Tjeng Loen terkedjut mendengar Ban Tjiong semua hendak pergi bersama. Itu berarti bahwa untuk urusan di Kangpak ini mereka akan kekurangan tenaga. Hal ini pun diinsafi Hong Hoa.

Tjong Hong tidak sabar; ia kata segala urusan lainnja boleh ditunda dulu, paling utama Tjeng Lip mesti ditolong. Bahkan ia ingin mampir sekalian di Hay-an, untuk mentjari Kak Beng Hweeshio, untuk diadjak bersama.

Hong Hoa mesti berpikir keras untuk mengambil keputusan.

„Begini sadja”, katanja. Ia lantas menulis seputjuk surat, jang ia terus serahkan pada Ma Tjoen. „Kau bawa ini ke Tay Tjiong Ouw.

227