Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/43

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Tjiang Tek pun berlaku sangat sebat. Pada malam Tjeng Lip dibekuk, dia segera berangkat pindah dari rumahnja itu. Dia angkut segala jang dapat diangkut, hingga rumahnja mendjadi kosong. Nona Tjiang dibawa pergi sesudah ia diberi minum obat pulas, digotong ke perahu jang sudah disiapkan dan dibawa pergi berlajar. Sehingga ke-esokan harinja, orang tidak tahu jang dia sudah pindah.

Besokpaginja Siauwsong-boen mendjadi bingung. Dari sedjak malam Tjeng Lip tidak pulang. Itulah bukan kebiasaannja. Segera dia adjak Tjouw Po pergi kegang Tiang_leng untuk mentjari tahu. Mereka mendapatkan sebuah rumah kosong. Tetangga2, menurut keterangan mereka, tidak mendapat dengar suara apa djuga malam itu. Maka mereka pun heran atas pindahnja setjara demikian mendadak dan diam2 dari orang she Tjiang itu, jang njata pandai sekali mengatur segala sesuatu.

Kemudian Tjouw Po dikirim kekantor tiehoe, untuk membuat penjelidikan. Disini botjah itu tidak dapat endusan apa2. Kantor tiehoe tidak mendjadi gempar. Semua pegawai tenang2 sadja dan bekerdja seperti biasa sehari-hari.

„Malamnja aku pergi sendiri kekantor tiehoe”, demikian Tjong Hong melandjutkan keterangannja. „Aku pun mentjoba menelusup kedalam pendjara. Sia_sia sadja penjelidikanku itu. Lie Djieko tidak ada disana, pendjara sunjisenjap. Sepulangnja kekuil, aku lantas berdamai dengan Tjie Loosianseng. Kita kuatir untuk keselamatan Lie Djieko, kita berbareng mentjurigai Tjiang Tek. Kenapa dia pindah setjara mendadak ? Kemudian kita mengambil putusan bahwa aku harus pergi ke Kangpak, untuk mohon bantuan saudara2 dari Sia Yang Ouw dan Tay Tjiong Ouw. Aku tinggalkan Tjouw Po di Siangtjioe agar dia terus melakukan penjelidikan. Demikian aku berada disini sekarang”.

Ma Tjoen mendjadi berduka dan bingung, keningnja dikerutkan.

„Inilah hebat”, katanja kemudian. „Kebetulan sekali sekarang ini Siang Koay dan Soe Kiat tidak ada disini, sedang Kak Beng Taysoe tidak dapat datang kemari sebelum tanggal tiga . . . . . . . . . . Akupun tidak djelas mengenai tempat kemana tjongtotjoe pergi. Bagaimana sekarang ? Tidak ada lain djalan, Lao Hong, mari kita pergi ke Tin Wan Piauw Kiok di Yam_shia !”

Tjong Hong mengarti pentingnja urusan; jang paling perlu ialah bahwa Lioe Hong Hoa mesti ditjari dulu, maka tanpa banjak

226