Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/26

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Hong Hoa mengawasi nona itu, jang usianja masih terlalu muda. Ia mengharap dapat mengorek keterangan dari mulutnja. Ia madju mendekati dua tindak.

„Soehoe ketjil”, ia kata dengan sabar, „tjoba kau beritahu padaku, entjie Sim kamu ada didalam kelenteng atau tidak ? Atau maukah kau menolongi aku menjampaikan pesan kepadanja ? Kau bilang Lioe Hong Hoa ingin bitjara padanja, supaja besok pagi2 dia datang kerimba ditengah gunung ini untuk bertemu dengan aku. Maukah kau menolong aku ? Asal kau menjatakan suka, segera aku mengangkat kaki dari sini”.

Nona itu sebaliknja tidak kena diakali.

„Masihkah kau memikir jang bukan2 ?” katanja keras. „Djikalau kau tidak hendak berlalu, kau lihatlah piauwku !”

Kata2 ini ditutup dengan terajunnja tangannja. Dengan lantas Hong Hoa berkelit.

„Djangan takut ! Tidak ada piauw !” kata nona itu tertawa. „Aku tjuma hendak menghadiahkan kau sebuah bola tanah ! Awas !”

Sekonjong2 dia ajun pula tangannja. Kali ini benar2 ada sendjata rahasia menjamber.

Hong Hoa kurang perdata, ia mendjadi agak lambat berkelit, maka sendjata rahasia itu meleset dikupingnja, hampir ia terluka. Ia mendjadi mendongkol, maka ia pun mengajun tangannja.

Nona itu tabah hatinja, ia berdiri tak bergeming.

Menampak demikian, Hong Hoa benar2 menjerang, dengan batu jang tadi ia dapat pungut. Batu itu melajang dengan menerbitkan suara angin.

Nona itu terkedjut, dia merobohkan dirinja kekiri.

„Ah, kau menjerang benar2 ?” katanja.

Hong Hoa girang, tanpa mempedulikan segala apa, ia lompat untuk menubruk. Ia ingin bekuk botjah nakal itu, untuk paksa dia membawanja kepada Goat Hoa.

Mendadak nona itu bangun berdiri, tangan kanannja membarengi terajun.

„Hahaha, tak kena !” katanja sambil tertawa. „Sekarang aku pulangkan untuk kau jang merasakannja !”

Hebat serangan itu, Hong Hoa tak sempat berkelit. Ia mendjadi gusar sekali, segera ia lompat lebih djauh.

Si nona sangat tjerdik dan lintjah. Belum lagi ia kena ditubruk, tubuhnja sudah lompat naik keatas para2 bunga.

209