berlompat bangun pula. Ia bermandikan peluh. Ia dongak keatas, ia tidak dapat melihat penjerangnja. Sebaliknja, dibelakangnja, ia dengar suara :
„Aku sudah letih ! Apakah ini belum tjukup ? Sekarang sudah tidak siang lagi, silahkan kau pulang !”
Suara itu bernada edjekan.
Dengan sebat Hong Hoa berpaling. Beberapa tombak terpisah darinja, dibawah para2 pohon ojot, ia lihat sesosok tubuh orang jang mukanja tidak terlihat tegas. Orang itu bersuara halus, mungkin dia satu nona umur lima atau enambelas tahun, tubuhnja kate.
Panas hatinja Hong Hoa.
„Kau siapa ?” ia tanja. „Apakah kau muridnja soe-thay ?” Ia menduga kepada murid termuda dari So In.
Orang itu, satu nona ketjil, tertawa manis.
„Kau sendiri belum menjebutkan namamu, kenapa kau mendahului menandja namaku ?” ia berkata. „Aku bilang, sahabat, kau sudah mengatjau selama setengah malaman ini ! Kau bangsat bukannja bangsat, pentjuri bukannja pentjuri ! Kenapa kau membuat petjah genteng kami ? Sebenarnja kau hendak berbuat apa ? Djikalau kau ingin pindjam uang untuk beaja perdjalanan, mari aku pimpin kau kepada soe-thay ! Buat tiga sampai lima rentjeng uang, aku tanggung kau nanti ditolongi ! Kau harus djudjur, tahu ? Tentang ilmusilatmu, aku telah beladjar kenal, maka baiklah kau pulang kepada gurumu untuk beladjar lebih djauh lagi beberapa tahun . . . . . . . . . . . .”
Kata2 itu sangat menusuk telinga Hong Hoa, ia mendjadi bertambah gusar.
„Untuk apa kau mengatjo-belo ?” bentaknja. „Dengan pihak kamu, aku adalah orang jang dikenal ! Kenapa kau berpura² tidak mengetahuinja ? Kau pun harus ketahui, aku datang kemari tidak dengan maksud djahat. Kau lihat, aku tidak membekal sepotong besi djua . . . . . . . . . . . .”
Tanpa menanti orang bitjara habis, nona itu sudah memotong : „Djikalau kau orang jang dikenal, kenapa kau tidak datang siang hari ? Kenapa kau datang diwaktu malam, setjara diam2, lalu mundar-mandir disini ? Djikalau bukannja aku ketahui kau tidak bermaksud djahat, apakah kau kira dapat aku mengidjinkan kau berlalu dengan masih bernjawa ? Aku bilang, sahabat, kau mesti tahu diri sedikit ! Sekarang, lekas kau pergi ! Djikalau tidak, mungkin aku tidak dapat memberi maaf padamu ! . . . . . . . . . . . .”