Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/19

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

selalu mentjari djalan untuk tidak mempertemukan muda-mudi ini. Sampai kalau ia mesti pergi mengundjungki Pek Tim, jang adalah kakak kandungnja, ia bahwa Goat Hoa, supaja setiap waktu ia bisa mengawasinja.

Pernah Goat Hoa memikir akan memberitahukan Hong Hoa alamat rumahnja di Tjong-beng, tetapi ia tjuma bisa memikir, ia tidak berani mengutarakannja. Didjamannja itu, walaupun ia merdeka, sebagai anak gadis, tidak berani ia membuka mulut. Ia pun kuatir, djuga ibunja, jang sudah berusia limapuluh lebih, nanti tidak mendjetudjui sepakterdjangnja itu.

Karena ini, pertemuan diantara mereka mendjadi sangat djarang.

Pernah terdjadi pada suatu tahun dimusim tjoen — musim semi — Lioe Hong Hoa berangkat ketelaga Tjauw Ouw dipropinsi Anhoei membawa surat gurunja, Pek Tim Loodjin. Ia tidak dibatasi waktunja untuk pergi dan pulang, maka dengan gembira sekali ia gunakan temponja untuk mampir di Boe Ie San, Hokkian. Untuk ini ia tidak menghiraukan djalan mutar dan bahwa ia mesti melakukan perdjalanan lebih djauh dan lebih lama. Hanja, ketika ia tiba digunung Boe Ie San, ia mendjadi ketjele sekali. So In, jang hendak mentjegah, telah lantas tanja padanja : „Apa perlunja kau datang kemari ? Kau toh tidak membawa surat gurumu ?”

Kakak seperguruan dari Goat Hoa bernama Tjeng Sioe. Hong Hoa dapat menemui kakak seperguruan itu. Ia lantas minta Tjeng Sioe mendajakan agar ia dapat berbitjara dengan Nona Sim. Tjeng Sioe tidak suka memberikan bantuannja, tetapi ia bukan menampik, ia melainkan bilang, Goat Hoa telah dititahkan gurunja pergi kepropinsi Inlam dan Koeitjioe mentjari obat2an ......

Oleh karena maksudnja tidak tertjapai, Lioe Hong Hoa mendjadi mendongkol, ia lantas turun gunung. Ditengah djalan, saking penasaran, datang kesangsiannja : Tidak mungkin Goat Hoa dikirim djauh ke Inlam atau Koeitjioe. Tapi, pertjuma ia kembali kalau ia tidak bertemu dengan patjarnja itu. Maka ia memikir untuk mentjari djalan.

Hari itu Hong Hoa lewatkan dengan berdiam didalam rimba. Selekas tjuatja telah mendjadi gelap, ia mendaki pula puntjak — puntjak Loo Thian Hong. Ia tidak berani membawa sendjata maka djuga tjambuknja, tjambuk Pa-bwee Kong-pian berikut kantong

202