Sembari bitjara, Hay Djiak lirik wadjah orang. Ia dapatkan orang tunduk sadja, rupanja lagi berpikir, maka ia lantas bitjara terus.
„Maafkan aku, toasiotjia, hendak aku berangkat lebih dulu !" katanja sengadja. Adikmu dalam bentjana, tidak dapat aku berlaku lambat. Aku hendak pergi mentjari beberapa sahabat guna menolongi dia, Aku tahu siapa musuh dan dimana sarangnja. Aku dapat memberitahukan semua itu kepadamu, tetapi, aku pikir, kau baiklah tinggal dirumah, untuk menanti kabar lebih djauh dari aku.....”
Begitu habis berkata, Hay Djiak berbangkit, untuk bertindak keluar.
Sampai disitu, Sim Goat Hoa tidak dapat bersangsi lagi. Ia lantas bangkit menjusul.
„Lauw Tootiang, terima kasih untuk kebaikanmu ini”, katanja. „Tentang adikku itu, aku pertjaja aku punja daja, djadi tidak usah-lah kau pergi ke-mana², Baiklah kau tjari suatu pondokan didalam kota, besok aku akan kundjungi kau, Aku pertjaja, paling lambat tidak sampai djam lima atau enam, kita sudah dapat berangkat bersama”.
Hay Djiak masih memainkan peranannja. Ia menggojangkan tangan ber-ulang².
„Toasiotjia, kau pergi atau tidak, tidak ada soalnja”, ia berkata, „tetapi aku, mesti aku pergi mentjari bantuan. Kakakku djuga tidak dapat duduk diam sadja. Aku minta sukalah kau bersikap tenang, Selama masih ada Mauw San Tjit Yoe, pasti mesti ada adikmu”.
Lantas ia bertindak pergi.
Sim Goat Hoa tidak memaksa menahan, ia hanja masuk kedalam kamarnja. Urusan adiknja itu ia tidak dapat memberitahukan ibunja dan isterinja si adik. Maka ia berpikir seorang diri. Ia sedang berpikir waktu mendadak ia dengar suara menangis didalam kamar ibunja, lalu ia kenal itulah tangisan iparnja, Poei-sie, la pun lantas dengar suara Ibunja tengah membudjuki njonja mantu itu.
Kata si mertua „Djangan kau kuatir, Goat Hoa diam sadja, mungkin itu kabar bohong”.
Tetapi sang njonja mantu menangis terus, Ia kata: „Lao Ong omong djelas sekali, Ketika si imam turun dari kudanja, dengan