botjah dimuka banjak orang. Past hatinja panas dan penasaran sekali. Tetulah dia tidak mau mengerti. Ia pertjaja adik angkat itu pergi mentjari dua saudara Tjio, kakak-beradik itu.
Ketika pada Kak Beng ditanjakan terlebih djauh, ia memberi keterangan bahwa Tong San Siang Koay dan Tjietjioe Soe Kiat adalah orang-orang Rimba Hidjau tanpa tempat kedudukan jang tetap, bahwa mereka biasa merantau, bahwa diantara mereka jang hadir di Kwie-kian-tjioe, melainkan seorang jang bernama Ma Tjoen jang mempunjai markas, sebab ia adalah djie-tjeetjoe atau pemimpin kedua dari pesanggerahan Thung-kee ditelaga Tay Tjiong Ouw. Ialah jang telah bertempur melawan Boe Djin Tjoen, muridnja Tjian Tjeng Loen. Karena Ma Tjoen adalah dalam rombongan dua saudara Tjio, ada kemungkinan Hay Djiak menguntit mereka itu.
Disaat Kok Ban Tjiong berkuatir untuk itu adik angkat jang nomor dua, si adik-angkat sendiri sedang bekerdja, untuk menuntut balas. Hay Djiak Toodjin pesarana sekali. Ia telah merentjanakan daja pembalasannja. Ia hendak membuat urusan mendjadi hebat hingga Yan Tjoe Hoei serta Tong San Siang Koay dan Tjeitjioe Soe Kiat tak dapat turun dari panggung sandiwara . . . . . . .
Memang dengan sengadja Hay Djiak menjingkir setjara diam2 dari Kwie-kian-tjioe. Ia menthoba menjusul dua saudara Tjio, dengan niat menempur pula mereka itu, supaja ia dapat memberikan suatu tanda-mata kepada Nona Tjio Soen Eng. Dengan begitu barulah ia akan dapat melampiaskan sedikit penasarannja. Diluar sangkaannja, ia terlambat satu tindak. Pihak sana telah berlalu dengan tjepat, dan berlalunja pun dengan berpentjaran. Seorang diri, ia tidak dapat memetjah tubuh untuk menguntit mereka semua. Tapi ia tjerdik, setelah memperhatikan tapak kaki kuda serta kotoran binatang itu, ia menjusul tombongan jang djumlahnja terlebih besar. Ia berhasil menjandak rombongan itu, tjuma ia tak dapat memenuhi pengharapannja. Ternjata didalam rombongan itu tidak ada dua saudara Tjio serta Houyan Pa dan lainnja, sebab rombongan ini adalah rombongan Ma Tjoen serta beberapa puluh sebawahannja.
Menghadapi rombongan Ma Tjoen ini, Hay Djiak berpikir keras sekali. Untuk melepaskannja dengan begitu sadja, ia tidak puas. Untuk menempur mereka, ia malu sendirinja. Ia anggap deradjatnja terlalu tinggi.
Setelah lama memutar otak, ia lantas mengambil putusan : „Baiklah aku bakar mereka ! Bukankah Yan Tjoe Hoei dan Lioe
174