teru merupakan ketika baik bahwa loosiansoe suka membantu menjelesaikan urusan. Sukalah kau mentjeritakan urusan padaku duduk hal jang sebenarnja mengenai piauw jang berada dalam tanggung-djawabmu ini“.
Tjeng Loen terdesak. Sebenarnja ia tidak ingin menutur segala apa, tetapi karena terpaksa, ia terima baik permintaan kakak-misan ini, maka itu ia lantas beber hal-ichwalnja, jaitu sudah terdjebak tiehoe dari Souwtjioe, hingga ia kena pegangbara.
„Benar2 suatu hal tak aku sangka“, ia menandaskan. Tapi ia menjatakan tidak puas terhadap sepak-terdjangnja Yan Tjoe Hoei. Ia menambahkan: „Djikalau benar2 mereka ketahui harta itu adalah hartanja Pangeran Tiong Ong, apabila betul2 mereka punja kepandaian, sudah selajaknja mereka menjerbu kantor tiehoe sendiri untuk merampasnja. Itu namanja perbuatan terus-terang! Kenapa dia djusteru membegal aku ditengah djalan, hingga aku sekarang harus bertanggung-djawab? Djumlah itu terlalu besar bagiku untuk menggantinja. Sekarang ini anak-isteriku disekap didalam pendjara, sebagai tanggungan, maka biar bagaimana, aku mesti dapat pulang piauwku itu!“
Mendengar pendjelasan itu, Kak Beng Hweeshio tertawa.
„Tjian Tjongpiauwtauw, kau sungguh djudjur!” katanja. „Memang gampang untuk mengatakan menjerbu kota Souwtjioe. Tapi untuk itu berapa banjak tenaga kita mesti kita siapkan? Lagipula apakah si tiehoe seorang manusia dogol hingga dia mau membiarkan emas diletakkan ditempat jang terang agar dengan gampang sadja orang bawa kabur?”
Ban Tjiong tidak berkukuh sebagai Tjeng Loen.
„Aku pertjaja Yan To Tjoe djuga mestinja telah ketahui urusan kau ini“, ia berkata, untuk datang sama tengah. „Buktinja, setelah merampas, ia masih suka berbitjara dan memberikan tempo kepadamu untuk datang mengambil pulang piauw itu. Loo-piauw-tee, satu laki2, dia dapat melihat selatan, maka itu aku setudju dengan pikiran loosiansoe ini. Aku lihat asal kita dapat menelan, baiklah kita tidak usah melakukan pertempuran lagi. . . . . . . . .“
Tjeng Loen bersangsi, ia berdiam.
„Tjongpiauwtauw, harap kau mengerti bahwa aku bukannja berat sebelah“, berkata Kak Beng menjaksikan kesangsian piauwsoe itu. „Kau pun seorang kangouw, kau tentunja dapat berpikir dan memahaminja. Untukmu, maka djuga Yan Totjoe sudah tidak terus2an
171
Warisan seorang Pangeran djilid III — 4