Tjiong seraja rangkap kedua tangannja. „Kami akan mentjutji kuping kami untuk mendengarnja.“
Paderi itu tertawa.
„Haraplah loo-enghiong djangan terlalu merendahkan diri“, katanja. „Omonganku ini tak bakal habis diutjapkan dalam sedjenak sadja. Umpama kata djiewie sudah letih, aku undang kamu kembali keranggon-airku untuk kita duduk sebentar“.
Ban Tjiong dan Tjeng Loen terima undangan tanpa bersangsi sedetik djua. Lalu ber-sama2 si paderi, mereka kembali keranggon air tadi.
Paderi itu mengundang kedua tetamunja duduk. Untuk menjuguhkan teh, ia masak air sendiri. Selama itu lebih dahulu ia perkenalkan dirinja. Ia memanglah Kak Beng Hweeshio dari kuil Siauw Lim Sie dari Pou-thian. Buat melindungi seorang puterinja Eng-ong Tan Giok Seng, salah satu pangeran pembangun negara, dua tahun jang lalu ia pindah ke Kang-pak dimana ia bersabahat dengan bekerdja-sama dengan Yan Tjoe Hoei, akan tetapi mereka tidak menggabungkan diri. Mereka melainkan bersatu tudjuan.
Baru malam itu Kak Beng tiba di Sia Yang Ouw. Ia datang setjara kebetulan sadja. Dalam pembitjaraan, Yang Tjoe Hoei djuga bitjara hal Tjian Tjeng Loen, jang piauwnja telah dirampas, bahwa karena itu Mauw San Tjit Yoe telah berhasil diundang Tjeng Loen untuk turun gunung guna mendjajakan didapatkannja kembali piauw itu. Bahwa rombongan Tjeng Loen sudah tiba di Yam-shia. Kak Beng sudah mengagumi Tjit-pou Twie-hoen Kok Ban Tjiong, jang ia tahu baik adalah murid Siauw Lim Sie. Maka ia ingin menemui sesama kaum seperguruan itu, untuk beladjar kenal. Maka ia lantas mengadjukan diri untuk membantu Yan Tjoe Hoei, jang telah mengatur orang2nja ditandjakan.
Kak Beng telah dapat membuktikan kelihayan Ban Tjiong. Bahwa Tjeng Loen djuga bukan sembarang orang, karena itu, ia mengubah maksudnja membantu Yan Tjoe Hoei. Ia sekarang ingin mendjadi orang pertengahan, untuk mendamaikan kedua pihak. Ia pun jang mendjadi sebab mengapa ia mengundang kedua orang itu keranggon-air.
Tjiang Tjeng Loen mempunjai pendapat sendiri. Ia tidak berterima kasih untuk maksud baik paderi ini. Sebaliknja Kok Ban Tjiong sangat setudju.
„Laotee“, berkata orang she Kok itu kepada si piauwsoe, „djus-
170