berduka. Ia telah ditantang, sulit untuk menolak. Maka ia memandang kesekitarnja.
„Loosiansoe, tempat disana lega, maafkan aku, aku djalan lebih dulu !“ ia kata seraja menundjuk, lalu benar2 ia bertindak tjepat ketempat jang ia tundjuk itu.
Paderi itu menjaksikan kegesitan tubuh lawannja, diam2 ia memudji, tetapi iapun segera mempertontonkan kelintjahannja, untuk menjusul djago dari Mauw San itu.
Kok Ban Tjiong baru menaruh tetap kakinja atau si paderi sudah berada didepannja, wadjahnja ber-seri2 seperti tadi. Ban Tjiong merasa tidak puas, karena orang itu agaknja memandang enteng kepadanja.
„Silakan loosiansoe !“ katanja. Kali ini ia tidak sungkan2 lagi. Ia jang mengundang tetapi ia jang mendahului menjerang dengan dua tangannja menindju dada.
Si paderi rupanja dapat mengenali serangan itu, jaitu Gak-kee Siang-twie-tjioe, tolakan sepasang tangan dari ilmu silat Gak Hoei. Serangan itu biasa sadja, tapi dilakukan dengan tenaga besar, maka anginnja menjambar keras. Maka itu, dengan sebat ia bawa tubuhnja kesamping untuk membalas. Ia djuga menggunakan ilmu silat Gak Hoei, djurus Im-yang Tjian-yan-tjiu, tangan saling-djabat, sarannja adalah lengan atas.
„Bagus !“ Kok Ban Tjiong berseri. Ia pun berkelit kesamping setelah bebas, tangan kirinja dibalik, dipakai membangkol tangan lawan, dilain pihak, dengan tangan kanan, dengan djeridji, ia menotok djalan darah Keng-tjeng-hiat. Siapa kena tertotok djalan darahnja ini, dia bakal tertawa tak hentinja.
Paderi itu nampaknja terperandjat. Ia menarik pulang tangannja dan menabas dengan tangan kiri kebawa, tubuhnja berbareng diputar. Begitu lekas ia berada dikiri lawan, ia djuga lantas membalas menotok. Ia mentjari sasaran djalan darah hong-hoehiat. Tapi ini adalah gertakan belaka, sebab sambil menotok, ia mendak, sebelah kakinja ditantjap, sebelah jang lain dipakai menjapu !
Bang Tjiong tahu ia terantjam bahaja, terpaksa ia mentjelat mundur, akan tetapi selekas kakinja mengindjak tanah, ia mntjelat lagi madju kepada lawannja, untuk menjerang dengan kedua tangan jang dipentang. Ia bersilat dengan ilmu silat Kioe-kiong Sin-heng tjiang dari Siauw Lim Pay. Ia mnejerang dengan sebat sekali, tubuhnja dengan lintjah berputaran mengurung musuh.
167