Mereka lari belum ada setengah lie, tiba tiba Ban Tjiong merandek seraja berkata : „Aku mengarti sekarang !“
Tjeng Loen heran, ia pun menghentikan larinja.
„Mari !“ adjak Ban Tjiong. Ia tjekal lengan kawannja untuk diadjak kembali ters sampai ditepi pengempangan.
Tjeng Loen mengikuti walaupun ia merasa heran. Dengan mendahului, Ban Tjiong memasuki pula ranggon-air, tanpa menantikan kawannja. Ia madju terus ke hoedkam, mengulur kedua tangannja menjambar ke dalam.
„Loosianso, rahasiamu telah terbuka !“ serunja. „Benarkah kau tidak sudi memberi pengadjaran kepadaku ?“
Akan tetapi ia telah menjamber tempat kosong. Diwaktu tjitatedengan tersingkap, di-situ tidak ada di patung Arhat tadi !
Tjeng Loen, jang sudah lantas tiba dibelakang kakak misan itu, berdiri melengak. Ia pun telah melihat hoedikam jang kosong, patungnja entah pergi kemana.
„Bagaimana plauwko ?“ ia bert. „Apakah maksudmu ? Kemana perginja patung tadi ? Ini ...... Ini ........“
Ban Tjiong tidak mendjawab, hanja dengan mendjedjak lantai, ia berlompat keluar raggon.
Tjeng Loen heran bukan kepalang. Ia turut keluar. Ia tidak mengerti ilmu Tengpeng-touwsoei seperti Ban Tjiong. Untuk pergi mendarat, ketepian, ia mesti ambl djalan didepan. Ban Tjiong sendiri berlari-bari diatas daun teratai. Ia mengitari empang itu, kemudian kembali dengan tangan kosong. Nampknja ia putus asa.
„Marilah, laotee !“ ia mengadjak, tangannja dikibaskan. „Dasar mataku kurang awas. Tadi aku sudah tidak dapat melihat ! Sekarang ini sungguh sukar untuk mentjari dia ! ....“
„Apa atamu, toako ?“ Tjeng Loen tanja. „Siapakah dia itu ?“
Piauwsoe ini tetap belum mengerti, belum isa menduga sebab kelakuannja saudara misan ini.
„Kau terlalu sembrono, laotee“, kata Ban Tjiong kemudian.
aku„Aku maksudkan si paderi jang bertempur denganmu dan memantjing kau hingga diranggon-air ! Dialah jang berdiam didalam hoedkam menjamar sebagai Arhat. Hebat, dia dapat memperdajai aku ! Kau tahu, ketika tadi kita berlalu, baru sesampainja ditengah djaln, bertjuriga. Patung itu bersih djuahnja, tapi kenapa sepatunja kotor ? Tadinja aku tidak ingat itu. Maka itu, aku lekas2 balik lagi. Siapa tahu, dia telah mendahului mngangkat kaki .......“
Tjeng Loen lantas mem-banting2 kaki.