meriksa pihaknja. Tjepat sekali, ia berpaling kepada Ban Tjiong dan Tjeng Loen, untuk menggape sambil mengangguk, terus ia putar tubuhnja berdjalan pergi. Teranglah ia seperti menantang berani ikut atau tidak.
Tjeng Loen sedang panas hatinja, ia mendjadi tidak kenal takut.
„Kemana kau hendak pergi !“ katanja dengan njaring, lantas ia menjusul.
Ban Tjiong mentjari Tjie Tjiat Djin dulu, jang ia mau suruh pulang ke Lioe-lim-tjhung, tetapi ia tidak berhasil mendapatkan kawan itu. Tentu sadja ia tidak dapat berlaku lambat. Ia tidak membiarkan Tjeng Loen sendiri menempuh bahaja. Terpaksa ia lari menjusul plauwsoe itu.
Diatas tandjakan itu tjuma ada sebuah djalanan ketjil. Disini Ban Tjiong telah ber-lari2 empat-lima lie tapi tidak dapat menemukan kawannja. Sebagai seorang jang terliti, ia mulai merasa tjriga. Ia lantas ingat kepada keterangan Kho Ke dan Tjie Tjiat Djin bahwa kedudukan tandjakan itu adalah sebelah timur telaga Sia Yang Ouw, dan kalau sudah melewati tandjakan, orang menudju kebarat, disanalah tepi telaga. Tapi djalannja ketjil ini menudju keselatan. Dalannjasendiri memang ber-liku2, tetapi tudjuannja tak ubah. Itu artinja ia semakin mendjauhi Sia Yang Ouw. Bukankah ini tipudaja sipaderi, jang memantjing Tjeng Loen, untuk membikin mereka sesat dari djalan jang benar, agar mereka tidak dapat mentjari sarang Yan Tjoe Hoei ?
Walaupun sangsi, Ban Tjiong ber-lari2 terus. Ia tidak dapat mengubah haluan. Ia mesti lebih dulu dapat mentjari atau menjusul Tjian Tjeng Loen. Sebelum mendapatkanadik misan itu, tak tenanglah hatinja.
Lalu dua-tiga lie, Ban Tjiong dapatkan bintang2 mulai geserkan kedudukan. Itu tandanja bahwa sang malam sudah tiba pada djam tiga. Si paderi dan Tjeng Loen tetap tidak dapat diketemukan.
Selagi ketua Mauw San Tjit Yoe mulai tjemas, matanja melihat sebuah pengempangan, jang luasnja dua atau tiga puluh bahu. Didalamnja tumbuh penuh pohon teratai, jang buanja menjuarkan bau harum semerbak. Itulah suatu pengempangan luar biasa, mengingat bahwa untuk wilajah Kang-pak, sebelah utara sungai Besar, empang semtjam itu sungguh djarang, apa lagi didusun jang sepi ini. Siapakah jang merawat empang itu ?