Menjaksikan orang demikian berani dan liehay, Ban Tjiong tidak segera melajani. Hanja dengan mendjedjak dengan kaki kirinja, ia lompat mundur setengah tindak. Setjara begini, ia dapat ketika untuk perbaiki diri.
Ketika ini dipakai sihweeshio, atau paderi, buat meneriaki kawannja : „Pundak rata, berhenti hidup, sebar bunga meriam !“ Itulah kata2 rahasia diantara kaum kang-ouw, jang berarti : „Sahabat, lekas angkat kaki ! Lekas melepaskan bendera api !“
Teriakan itu segera diturut oleh sikawan jang bersendjatakan tombak. Ketika tangannja berkelebat, berkelebatlah tanda apinj jang disebut „bendera api“ itu. Maka sedjenak sadja, mereka itu sudah menjingkir, dengan lompat kebawah tandjakan dilain bahagian.
Tjiang Tjeng Loen hendak mengedjar tapi segera ia terperandjat oleh rintangan anak2 panah, jang pihak lawan melepaskan untuk menghalangi kepadanja. Njata didekat situ ada lagi kawan lawan itu.
Ban Tjiong sendiri masih tetap bertempur dengan si paderi, jang tidak lari seperti kawan2nja. Rupanja dia menjuruh kawannja menjingkir sebab kawan2 itu sudah roboh.
Dibandingkan dengan Tjeng Loem, ilmu-silat Ban Tjiong beda banjak. Akan tetapi walaupun demikian, ia tidak bisa lantas petjundangi si paderi, siapa sebaliknja tidak mampu melihat ketua Mauw San Tjit Yoe seperti tadi dia telah membuat Tjeng Loen tidak berdaja. Maka itu, meeka djadi berimbang kekuatannja.
Tjeng Loen tahu si paderi liehay skali, ia tidak mau idjinkan Ban Tjiong menempunja sendirian, ia djuga tak sudi gubris lagi aturan kaum kang-ouw, maka itu, setelah mentjoba pula dan berhasil melintasi rintangan, ia madju untuk mengepung paderi itu.
Ban Tjiong menadi tidak enak sendirinja melihat kawan ini membantui Musuh tanpa sendjata. Sekarang dia dikepung berdua. Apakah artinja itu ? Tanpa bersangsi, ia lompat mundur.
„Loosoehoe, tahan dulu !“ ia berseru. „Orangmu telah mundur semua, aku sendiri tidak ingin merebut kemenganan dengan andalkan djumlah jang banjak. Umpama kata kau memandang mata padaku, mari aku melajani kau dengan tangan kosong djuga !“
Ban Tjiong sekalian menjebutkan namanja.
Paderi itu sampok goloknja Tjeng Loen ia pun lompat keluar kalangan. Ia lantas memandang kesekitarnja, rupanja untuk me-