ngan Hay Djiak Toodjin, jang tengah bertempur dengan Tjio Soen Eng. Ia lantas sadja terantjam bahaja. Kedua piauw mendjurus lempang. Setelah tidak mengenai sasaran dalam dirinja. Hak Kie-lin, disana ada sasaran tidak langsung, ia si imam dari Mauw San Tjit Yoe itu, Hay Djiak ber-sungguh2 melajani Nona Tjio, maka bukan main kagetnja apabila ia mendengar sambaran angin dari kedua piauw itu. Ia tengah repot sekali, maka sjukur ia masih mempunjai kegesitan. Dengan mendak, ia membuat lewat sebuah piauw diatas kepalanja, dan piauw jang kedua disampoknja roboh dengan sendjatanja jang kiri. Djusteru karena mesti melajani kedua piauw bidji tjo itu, ia mendjadi lengah dalam melajani Soen Eng.
Didalam Tjietjioe Soe Kiat, Tjio Soen Eng adalah jang nomor tiga. Walaupun kedudukannja terlebih rendah, ilmu silat pedangnja terlebih tinggi. Karena ia tahu baik, imam lawannja itu liehay, ia djadi berkelahi dengan waspada, terutama ia perlihatkan kelintjahannja.
Oleh karena repot berkelit dan menangkis piauw, Hay Djiak Toodjin mendjadi seperti hanja punja satu tangan kanannja sadja. Ia berarti kelemahan untuknja selagi ia menghadapi musuh tangguh, Soen Eng pun lihat itu. Si nona sudah lantas menggunakan ketikannja jang baik. Dia sampok sendjata kanan dari si imam, lalu terus menjerang keperut.
Hay DJiak berniat menggunakan sendjatanja jang kiri menangkis pedang si nona, akan tetapi ia telah didului nona itu, jang bergerak sangat tjepat.
Dengan menggeser kaki kanannja, Soen Eng membuat tubuhnja datang terlebih dekat kepada lawannja. Berbareng dengan bergesernja kaki itu, pedangnja bergerak bagaikan kilat, dalam tipusilat „Ouw liong yoe bwee“ atau „Naga hitam menggojang ekor“. Baru sadja berkelebat, pedang sudah menjambar kelengan kanan si imam.
Hay Djiak kaget bukan main, tetapi ia pun masih mempunjai kesebatan untuk menarik pulang lengannja itu. Kalau tidak, pastilah lima djari tangannja akan terbabat kutung. Tapi ia belum lolos dari antjaman. Soen Eng tidak berhenti sampai disitu. Sambil mendesak, da menikam lagi pundak lawannja itu.
Dalam antjaman jang hebat itu, walaupun dengan terpaksa, untuk tolong diri, Hay Djiak Toodjin membuang dirinja kekiri, djatuh ketanah, terus bergulingan.
Soen Eng menjerang dengan hebat, karena ia pertjaja kali ini
146