tidak kalah pentingnya adalah sajian berupa seperangkat sirihpinang (sirih, pinang, kapur, gambir dan tembakau). Seperangkat makan sirih ini menurut keterangan informan yang mana bahan tersebut digunakan oleh opo-opo setelah selesai makan.
Bahan sajian pada umumnya diletakkan di suatu tempat yang jarang dilalui orang atau ruangan yang jarang dilalui orang atau dimasuki orang antara lain di loteng rumah, di kamar kosong di gudang dan lain-lain. Saat yang dianggap baik mem beri sesaji adalah di malam hari karena menurut anggapan bahwa malam hari itu dapat disamakan dengan siang hari bagi manusia dan sebaliknya bila siang hari dianggap opo-opo sedang tidur karena saat itu dianggap mereka malam.
Telah dikemukakan bahwa bila dewa/dewi marah antara lain tanaman bakal diserang hama, dimakan tikus, berulat, diserang angin puyuh, sebenarnya menurut anggapan masyarakat yang mana hal tersebut adalah perbuatan dewa/dewi (opo) karena marah. Hama, tikus, dan ulat tidak lain adalah penjelmaan dari opo yang datang me rusak tanaman disebabkan para petani tidak mengikuti kemauan mereka antara lain tidak memberi sesaji. Angin puyuh menurut anggapan mereka atau masyarakat adalah opo yang marah dengan menjelma menjadi angin tersebut dan datang merusaki tanaman penduduk bersangkutan.
Menyangkut rumah yang sedapat mungkin dalam keadaan terbuka (pintu dan jendela) melambangkan agar rezeki yang bakal datang itu tidak lewat begitu saja bila rumah dalam keadaan tertutup. Selain daripada itu dituntut pula agar si penghuni rumah selalu terbuka bagi siapa saja dalam arti siap menerima tamu yang datang.
Di hari pengucapan syukur makin banyak pula yang mengunjungi rumah seseorang makin gembira orang tersebut disebabkan sesuatu anggapan bahwa makin banyak orang yang datang, makin banyak pula imbalan yang diterimanya dalam bentuk makin banyak rezeki. Di saat hari pengucapan syukur bila ada keluarga yang kelihatan rumahnya tertutup selain apa yang sudah dikemukakan di atas, ia juga dicap orang sebagai orang kikir.
Di antara nyanyian yang terdapat di Minahasa (menyangkut nyanyian tradisional) yang berhubungan dengan pertanian terdapat nama-nama atau istilah lingkan bene dan kekekou. Lingkan bene salah satu opo yang dikenal penduduk yang dianggap sebagai dewi padi. Ia dianggap sebagai pemberi rezeki, karena melalui opo terse-