Sebagaimana telah dikemukakan yang mana selain tarian maengket makamberu yang dipertunjukkan juga jenis tarian lainnya antara lain maengket marambak (tarian naik rumah baru), maengket lalayaan (tarian gembira bagi muda-mudi), dan lain-lain.
Tarian-tarian tersebut dilakukan oleh siapa saja, tua-muda, lelakiwanita yang mahir dan trampil serta hafal akan nyanyian-nyanyiannya. Jumlah peserta tidak tentu biasanya sekitar 20 - 50 orang. Ke lompok maengket selamanya ada seorang pemimpinnya yang selalu memberi komando dan aba-aba bagi peserta. Selain dari pada peserta/ pemimpin masih terdapat 3 orang yang tugas mereka adalah 1. orang pemukul tambur, 1. orang pemukul tetengkoren (alat bunyian dari bambu) dan seorang lagi meniup pantuang (lokan besar yang dijadikan alat bunyian). Biasanya alat bunyian yang paling diutamakan adalah tambur sedangkan yang lain bila tidak ada tidak merupakan rintangan. Alat-alat bunyian tersebut adalah pembawa irama dalam tarian maengket. Oleh sebab itu orang-orang yang ditugaskan memegang alat-alat tersebut adalah orang-orang yang terampil memukul / meniup alat-alat tersebut dan juga tahu serta hafal akan tari dan nyanyiannya.
Sementara orang-orang atau yang hadir menyaksikan pertunjukan maengket, sementara itu pula sejumlah orang (kaum wanita) sibuk dengan melayani suguhan-suguhan berupa kue-kue dan minuman.
Setelah selesai tarian maengket, tidak luput pula nyanyian tradisional yang dilakukan berbalas-balasan (lelaki/wanita) diperdengarkan. Nyanyian itu dikenal dengan istilah masambo. Nyanyian masambo adalah sejenis syair yang dinyanyikan dengan irama monotoon. Masambo adalah sejenis nyanyian meminta doa yang dianggap sebagai kesusasteraan suci oleh orang Minahasa, sebagai contoh:
3 3 3 3 3 3 2
Oh Ope wailan;
1 2 3 3 3 1 2 . 3 1 . 1 2 2
Tombon no se mangalei-ngalei
3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 1 2 . 3 1 . 1 2 2
Turuan ne lalan, lalan karondoran royor,
3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 1 2 . 3 1 . 1 2 2
wo pakatuan , wo pakalawiren royor