Lompat ke isi

Halaman:Upacara tradisional yang berkaitan dengan peristiwa alam dan kepercayaan daerah Sulawesi Utara.pdf/37

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

2. UPACARA MENONDONG LAPASI

2.1. Nama Upacara
Menondong Lapasi artinya "Meluncurkan perahu". Upacara ini dilaksanakan pada waktu musim penyakit, sehingga seluruh penduduk terserang penyakit misalnya muntaber, sarampa, influensa dan sebagainya. Untuk memohon kesembuhan maka diadakan upacara ini. Dengan makna bahwa apabila upacara diluncurkan maka setan-setan pembawa penyakit akan turut bersama-sama sehingga tidak bisa kembali ke kampung tersebut.

2.2. Maksud dan Tujuan Upacara
Menurut adat kepercayaan secara tradisional bahwa wabah penyakit yang menyerang seluruh penduduk diakibatkan karena setan-setan atau roh-roh yang jahat yang ada di sekitar desa tersebut datang mengganggu penduduk. Oleh sebab itu seluruh penduduk menjadi sakit. Maka dengan mufakat bersama seluruh penduduk mengadakan upacara menondong lapasi dengan maksud agar penyakit yang menimpa mereka bisa dinaikkan ke perahu dan akan dilayarkan ke tempat jauh dengan mengikuti arus laut agar tidak bisa lagi kembali ke kampung.

Disamping itu tujuan yang ada dalam upacara ini adalah memohon pada sang Pencipta/Penguasa alam selalu melindungi seluruh masyarakat dan dijauhi dari segala gangguan yang mengancam kehidupan masyarakat.

2.3. Waktu Penyelenggaraan Upacara
Waktu penyelenggaraan tidak selalu terikat pada ramalan bulan maupun bintang. Acara ini selalu dilaksanakan di saat yang tepat yaitu apabila terjadi musim penyakit langsung masyarakat bermusyawarah dan menentukannya. Dan pada umumnya selalu didasarkan di waktu pagi sekitar jam 09.00 hingga selesai.

2.4. Tempat Penyelenggaraan Upacara

Seyogianya upacara ini ada yang dilaksanakan di rumah-rumah keluarga tertentu di mana terdapat orang sakit keras atau bilamana acara tersebut akan dibuat secara umum dengan masyarakat yang ada di kampung tersebut maka acara pertama selalu diadakan di bangsal atau di balai desa. Kemudian dilanjutkan di sebuah pantai yang tidak

33