Lompat ke isi

Halaman:Upacara tradisional yang berkaitan dengan peristiwa alam dan kepercayaan daerah Sulawesi Utara.pdf/30

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

dah Gorontalo masih digenangi air laut, mendaratlah seorang pengembara di daerah tersebut dengan sebuah perahu di kaki gunung Tilangkabila. Pengembara ini lalu mengambil keputusan untuk hidup menetap di daerah itu. Setelah beberapa waktu lamanya, mendarat pula sebuah perahu dengan jumlah 8 orang. Mereka itu lalu mengambil keputusan untuk menetap bersama-sama dengan si pengembara.

Di antara 8 orang itu terdapat seorang wanita yang namanya Tilopudehi. Wanita itu akhimya kawin dengan si pengembara (Hulontalangi) yang namanya Malenggabila. Di bawah pimpinan Malenggabila mereka bekerja giat, bekerja sama, tolong menolong (huyula) untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Lama-kelamaan jumlah mereka menjadi banyak sehingga membentuk suatu kelompok yang disebut ambua. Kelompok yang lebih besar dari ambua disebut linula, dan sekelompok yang merupakan gabungan dari beberapa linula disebut kambungu. Biasanya kambungu itu sudah dapat disamakan dengan desa atau kampung, yang dikepalai oleh Taudaa (kepala desa).

Penduduk pada mulanya membangun perkampungan di Bangio (Pinogu) yang terletak di daerah kecamatan Suwawa sekarang. Berangsur-angsur dalam jangka waktu berabad-abad lamanya penduduk menyebar dari Pinogu ke daerah Gorontalo dan Limboto.

Disebabkan penduduk kecamatan Suwawa dianggap penduduk tertua yang diberi nama tiyombu (kakek), sedangkan penduduk kotamadya Gorontalo dan sekitarnya diberi nama walao (anak).

Penduduk di daerah Limboto sekarang ini diberi nama wombu (cucu). Merekalah (tiyombu, walao, wombu) yang menempati daerah Gorontalo dan menamakan dirinya suku bangsa Gorontalo atau Holontalo.

Masyarakat suku bangsa Gorontalo sebelum masuknya agama Islam, sudah menganut kepercayaan kepada adanya mahluk-mahluk yang mendiami alam raya ini. Mereka mendiami sungai-sungai, gua-gua, batu-batu besar, pohon-pohon besar, yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan menolak bahaya atau bencana yang bakal menimpa manusia. Untuk mcminta kebaikan dan menolak bahaya, di zaman dahulu masyarakat pendukungnya melakukan kegiatan huyula menyediakan sajian-sajian (hulante) berupa kelapa muda, daging, ayam, telur, gula aren dan buah-buahan.

26