2. Latar belakang sosial budaya
Orang Minahasa pada umumnya tidak terdapat kesatuan pendapat tentang asal usul sejarahnya, sehingga muncul berbagai penulisan tentang asal usulnya terdapat berbagai versi antara lain: versi menurut karangan Riedel (1870), ada karangan Graafland (1898), ada versi Molsbergen (1928), ada versi Worotikan (19..), ada versi Taulu (1950), Watuseke (1968), versi Adam (1957), dan berbagai kisah/sejarah berdasarkan tutur kata dari sejumlah orang tua di Minahasa dan lain-lain. Tampaknya yang merupakan persamaan di dalam penulisan dan tutur kata hanya mulai pada ceritera tentang Toar dan Lumimuut dengan ciri-ciri khasnya antara lain: Batu Pinawetengan sebagai tempat pertemuan Toar, Lumimuut dan anak cucunya. Batu Pinawetengan menurut ceritera selain tempat pertemuan , adalah dimulainya Toar dan Lumimuut membagi-bagi wilayah Minahasa kepada anak-anak sebagai daerah kekuasaan masing-masing. Batu Pinawetengan bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ialah Batu tempat pembagian (weteng-bahagi). Batu itu hingga kini masih ada di kecamatan Kawangkoan di desa Pinabetengan. Menurut keterangan batu itu ada tulisannya akan tetapi hingga kini belum ada yang dapat mengungkapkan arti tulisan/goresan di batu tersebut.
Kebudayaan asing (Barat) mulai masuk di daerah Minahasa kira-kira pada abad ke 16. Pada tahun 1564 orang Spanyol menduduki Minahasa. Penduduk Minahasa menyebut mereka itu otang Tasikela, karena ternyata mereka itu adalah orang-orang yang datang dari daerah Kastilian di Mindanau (Pilipina).
Pada tahun 1960 terjadilah peperangan di antara Spanyol dan Belanda, dan perang itu Spanyol mengalami kekalahan sehingga kekuasaan Spanyol di saat itu berakhir. Namun demikian pengaruh kebudayaan Spanyol terhadap orang Minahasa hingga kini masih tampak. Hal ini tidak mengherankan disebabkan orang Spanyol di Minahasa hampir satu abad lamanya (1564 s/d 1660). Unsur kebudayaan bangsa Spanyol yang hingga kini masih tampak pada penduduk Minahasa antara lain busana yang dianggap pakaian adat di Minahasa, istilah-istilah bahasa Minahasa (baik Melayu Menado maupun bahasa daerah) seperti: kawayo, nyora, dan lain-lain.
Bersamaan dengan masuknya bangsa Spanyol di Minahasa, masuk pula unsur agama Katolik yang mula-mula dibawa oleh Pater Diego de Magelhaes. Kemudian pada tahun 1617 datang pula Pastor C. Pinto dan menyebarkan agama tersebut ke daerah-daerah Minahasa