Lompat ke isi

Halaman:Untuang Sudah.pdf/20

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Mendengar kata seperti itu, orang kampung menjadi takut, sudah pulang orang yang banyak, tinggallah mereka berdua, Puti Kasumbo dan Ameh Manah, dipandangi mayat dalam rumah, oleh Rajo Angek Garang, berdua dengan Pandeka Sutan, melihat orang sudah pulang, senanglah hati keduanya, lalu mereka beranjak pulang, menangislah Puti Kasumbo, bunyi ratap berbuah-buah, bunyi pantun berhiba-hiba. “Wahai Bapak Kandung ambo, siapa yang akan menguburkan, semua orang sudah takut, kepada Rajo Angek Garang. Seperti bunyi pantun orang, Menyumpit berdamak tidak Kenalah anggang ruku-ruku; Berninik bermamak tidak Bergantung kepada orang bersuku. Besar lobangnya pasar orang hulu Tampak dari Aie Bangis; Besar harap hamba dahulu Kini menjadi buah tangis. Ayam kinantan putih paruh Disabung anak orang Kota Tua; Bagai gunung harapan ditaruh Sekarang inilah balasannya. Selasa pekannya lubuk Alung Kamis pekannya Muka Muka Rabu pekannya Enam Kota; Ibarat keris tidak bersarung Lihatlah nasib kini juga Bertolak-tolak orang membawa.” Sekian lama Puti menangis, sudah sehari mayat di rumah, sampailah tiga hari lamanya, mayat belum juga dikuburkan, orang kampung takut menguburkan, takut kepada Angek Garang, karena untung takdir Allah, tujuh hari mayat di rumah, sudah datang hari Jumat, datanglah orang minta sedekah, orang siak tujuh orang,

9