maju padi menjadi, tidak pernah kekurangan, ramai orang dagang di kampungnya. Karena untung takdir Allah, adalah pada suatu hari, Rajo Tuo jatuh sakit, sakit bertambah parah juga, berkata Puti Kasumbo, “O Bapak Kandung ambo, sudah lama Bapak sakit, sebutirpun tidak termakan nasi, setitik tidak terminum air, apa yang mungkin enak dimakan, biar ambo pergi ke balai, membeli makanan untuk Bapak.” Menjawab Angku Rajo Tuo, “Tidak ada yang diinginkan, jika hendak ke pasar juga, belikanlah buah marapalam, terasa enak untuk dimakan.” Mendengar bapaknya berkehendak, Puti Kasumbo pun bersiap, segera digantinya pakaian, setelah selesai berdandan, dia pun turun ke halaman. Sesampainya di halaman, terdengar bunyibunyian, mendering selindik jantan, menceracau tupai jenjang, melenguh kerbau di pautan. Puti Kasumbo terus berjalan, ke hilir lebuh yang panjang, lebuh panjang yang berliku, puding emas berbatang-batang, jauh semakin dekat juga, hampir tiba dia di balai, setelah Puti sampai di balai, dilihat ke kiri dan kanan, tampaklah penjual marapalam, darahnya kian berdesir-desir, hatinya tidak merasa tenang, telinga pun mendenging-denging, setelah membeli marapalam, Puti pun segera pulang, ia berjalan bergegas-gegas, takut sakit bapak makin parah. Lama lambat di perjalanan, baru saja sampai di halaman, orang memekik di dalam rumah, dilihatnya mandeh sedang pingsan, bapaknya pun tidak sadarkan diri, lalu menangis Puti Kasumbo. “Bapak suruh ambo ke balai, untuk membeli marapalam, kini makanlah buah ini, agar kenyang perut Bapak.” Tak berapa lama kemudian, setelah Angku Rajo Tuo sadar, ia berkata dengan pelan, “Anak Kandung Puti Kasumbo, sakit bapak bertambah parah, tidak akan bisa diobat lagi. Kini dengarkan oleh Puti, kalau nyampang badan berpulang, pegang amanat baik-baik,
5