Lynch berajun kebelakang, kemudian tindjunja jang kuat menjambar tengkuk Cassel jang sedang duduk. Serangan jang mendadak ini benar² sangat mengedjutkan Cassel. Tanpa bisa berbuat apa² dia menggeliat dari kursinja, kemudian terkapar ditanah. Dan pada saat itu pula Lynch berhasil merampas revolver jang masih dipegangnja.
Tanpa membuang tempo lagi Lynch menekankan laras pistol itu kepunggung Cassel.
„Deane”, serunja kemudian. „Bilang sama gadis itu, kalau dia berani berkutik aku tak akan segan² membunuh ajahnja! Dan ini bukanlah gertak sambal, sekalipun aku benar² tak menginginkan kedjadian ini”.
Cassel sendiri masih sadja menggeletak ditanah. Dengan menggunakan kain sobekan dari mantel Cassel jang dipakainja, disumbatnja mulut Majoor itu rapat, sedangkan tali mantel itu sebagai pengikat kedua tangannja.
Melihat perlakuan Lynch terhadap ajahnja ini Georgia betul² tidak berdaja. Apalagi dia sendiri mendengar antjaman Lynch tadi bahwa kalau dia berani berbuat apa², berarti kematian ajah jang ditjintainja.
Beberapa saat lamanja keadaan lembah itu hening, ketika tiba² sekali mereka mendengar suara motorboot jang sedang menudju tempat itu. Sedjenak kedua sahabat itu berpandangan.
„Robby”, sahut Lynch sambil membangkitkan Cassel. „Kau ambil pakaian itu dan bawalah Georgia kedalam gua. Kalau perlu berbuatlah seperti terhadap ajahnja ini! Tjepat, kita tidak banjak tempo lagi!”
Deane mengangguk. Setengah diseret dia membimbing gadis itu kedalam gua.
„Pertjajalah pada kami”, bisiknja pada gadis itu. „Dan sebetulnja hal ini tak perlu terdjadi. Tapi sajang, ajahmu masih sadja belum mau mengerti apa sebenarnja maksud kami”.
Tanpa menjahut gadis itu duduk disudut gua. Dia betul² tidak berdaja dan dengan mata jang ber-katja² menatap Deane jang tetap berdiri didekatnja.
Sesaat kemudian Lynch masuk bersama Cassel. Didorongnja Majoor itu duduk didekat anaknja.
129