hampir dibisikkan. Dia membungkukkan badannja seolah-olah ingin mendengarkan sesuatu lebih djelas lagi.
„Bunji motor!" bisiknja lagi.
„Doughlin?" tanja Deane sambil menatap rekannja.
„Mungkin!"
„Mau kemana dia?"
„Mana aku tahu......... ajo, terus dajung!" perintahnja.
Dengan hati² sekali mereka mendajung perahunja, sedangkan matanja terus mendjeladjahi sekitar tempat itu dengan tjermat. Lynch memberi isjarat ketika pandangannija tertumbuk pada sebuah perahu motor jang sedang berlabuh.
„Kita lihat dia.........!" kata Lynch sambil merubah haluan perahunja. Dan ketika mereka mendekat tampaklah bahwa perahu motor itu dalam keadaan kosong. Tanpa ragu Lynch merapatkan perahunja dan melompat keatas geladak. Sesaat kemudian diapun kembali turun keperahunja.
„Mesinnja masih panas, tentunja Doughlin baru sadja kembali dari pelajarannja jang tjukup djauh!”
„Kira² kemana?"
„Ja, kita sendiri tidak tahu. Tapi sapa tahu kalau membawa Cassel".
„Cassel?"
„Ja. Dan tentang ini dengan segera akan kita lihat sendiri".
★
XXXIII SESUDAH menambatkan perahunja dipantai tidak djauh dari perahu Doughlin mereka naik kedarat dan langsung menudju bungalow Majoor Cassel jang beberapa hari berselang baru sadja mereka tinggalkan. Sekalipun dengan susah pajah dan setelah melalui semak² pohon bakau jang lebat, achirnja Teachtown dapat mereka tjapai.
Pulau itu mereka masuki dengan sangat hati² dan dengan perasaan tegang, walaupun disekitar pantai itu tak seorangpun menampakkan dirinja. Dari agak djauh mereka sudah bisa melihat bungalow Cassel jang memang letaknja menjendiri itu. Makin mendekati bungalow itu mereka makin waspada. Dua kali berturut-turut mereka harus tjepat² berlindung dibalik rerumpunan Retika orang2 penghuni pulau itu berke-
119