Halaman:Tjinta dan Hawa Nafsoe.pdf/284

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

284

karena mendengar batoek Soerdjima jang keras dan bertoeroet-toeroet. Pada waktoe itoe tjahaja matahari beloem kelihatan, hanjalah tjahaja fadjar jang nampak dari tjelah-tjelah dinding roemah bamboe kedoea orang miskin itoe.

Ia doedoek serta melihat sahabatnja jang sakit itoe. Ia membesarken lampoe jang menjala itoe soepaja moeka orang itoe terang dilihatnja. Soerdjima batoek beroelang-oelang. Keringatnja mengalir, dingin rasanja. Si Ani menjapoe moeka si sakit itoe dengan soesah hatinja, karena ia tiada dapat berboeat soeatoe apa jang mengoerangkan penanggoengan Soerdjima jang batoek itoe. Hanja ia doedoek menoendjoekkan hiba hatinja. Matanja basah mengenangkan penanggoengan orang jang baik hati itoe. Ia selaloe memandang air moeka si sakit, kalau-kalau Soerdjima hendak menjoeroeh dia mengambil soeatoe apa jang bergoena oentoek dia. Akan tetapi oléh karena batoek itoe tiada berhenti, tiadalah dapat si sakit berkata. Hanja ia memandang mata si Ani sekali-sekali. Setelah ia melihat anak itoe menangis, ia poen berkata.

„Ani. . . . . .menangiskah. . . . . .eng. . . . . .kau?”

Dengan soesah ia meneroeskan perkataan itoe; berpotong-potong keloear karena batoek jang hébat itoe.

Si Ani merasa bahwa perboeatannja itoe salah, Sedjak dari pertjakapan meréka itoe jang achir,