— 31 — tanda perkenalannja moesoeh; doeloedjoega seringkali dija soedah mendapat dengar beterejak bagitoe roepa. Sekarang si-Sarina balik lagi, tjari tempat djalan lajin, kiranja, barangkali moesoeh soedah mendapat tahoe jang dija soedah minggat. Habis bagitoe, ada setengah djam lagi, dija sampai di soewatoe tanah lapang. Selamat, kiranja si-Sarina. Dari djahoe dija lihat lentera; djahoean sedikit ada lentera lagi; tentoe dija ada di dekat benteng 2 kompeni. Si-Sarina ini djoega soedah terlaloe tjapej, hampir mati. Soedah boleh kalihatan tembok 2 nja benteng, lantas dija maoe panggil, tetapi sekarang ada orang tegor pada dija. „Berhenti, sapa itoe", katanja sekilwak; lantas di pasang. Sekilwak itoe jang di taroh di sabelah wetan, bikin rapport pada toewan kommandan, bahoewa tadi dija soedah lihat orang di loewar benteng. Tentoe brandal itoe, jang kirakan sekilwak tidor. Besoknja djam poekoel anam pagi pintoe benteng di boeka, akan kasih keloewar patroeli jang saban pagi periksa di loewar benteng apa ada moesoeh. Sebab tadi malam itoe ada sekilwak pasang, patroeli djalan koeliling benteng doeloe ; barangkali brandal itoe kena ; seringkali malam 2 soedah kena di pasang orang Atjeh. Wah, betoel ; sekarang kena djoega. Tjoba pikir. Di antara pohon 2 ketjil itoe ada tertidor
Halaman:Tjerita-tjerita negeri Atjeh.pdf/37
Tampilan