tjomelannja bahoea marika-poenja perhoeboengan soeda terlalóe rapet poela, dari itoe ia perloe membri nasehat pada sang anak aken tjoba deagen pelahan-pelahan djaoeken diri dari pada Bek Kheng.
Dari perbilangan ajahnja ini kali. Bwe Sian merasa betoel-betoel ia moesti menoeroet, maka sesoedanja menangis dan meratap boeat brapa djam lamanja, diam- diam ia telah djandjiken Bek Kheng boeat dateng padanja, di mana dengen kerasken hatinja ia minta soepaja marika-poenja perhoeboengan bisa lantas dipoetoesken sampe di sini. Inilah soeda kedjadian sebegimana telah ditoetoerken pada bagian pertama dari ini tjerita.
Ketahoeilah pembatja, tadinja Tjeng Tjoan itoe memang ada saorang jang arif bidjaksana dan berkebedjikan, dalem banjak taon telah menempoe doenia ini dengen berbagi-bagi pengliatan dan pengrasaän pait-getir, sedeng setelah mengalamin itoe satoe roepa kedjadian, hatinja soeda lantas dibri kesabaran banjak sekali. Ia merasa amat menjesel dan koetoekin dirinja sendiri, bahoea ia-poenja perboeatan dalem hal terseboet soeda dilakoeken dengen amat tjerobo. Sedeng bagi keadaän sekarang, lebi doeloe ia-poen telah pikir aken seraken Bwe Sian pada Bek Kheng, agar soepaja dengen djalan mana, bisa diharep permoesoean satoe sama laen berachir sampe di sitoe dan habis sama-sekali. Aken tetapi,