― 17 ―
sebenernja oleh sebab dirimoe mempoenjain tanggoengan dan perhoeboengan jang teramat besar, maka itoe akoe moesti berkoeatir, jang lantaran sanget bersedihan kaoe bakal bisa diserang oleh penjakit. Kaloe sampe kedjadian begitoe, tiada sadja kaoe tiada aken bisa membales moesoe ajahmoe, tapi djoega dirikoe aken idoep piatoe di atas doenia dan sama siapakah akoe bisa harep boeat toempangin diri poela . . . . . . .”
Tempo soeda berkata sampe di sini, lebi doeloe njonja toea toe telah mengoetjoerken banjak aer-mata saking sedihnja hati, sedeng Bek Kheng jang dengerken itoe semoea, menangis sesenggoekan dengen soeara jang lebi piloe dari pada setadian. Menjadi sekarang, ini iboe dan anak telah menangis dengen saling berhadepan sampe koetika lamanja.
Samendjak itoe, Bek Kheng tida lagi memikirin Bwe Sian, dalem sanoebarinja tiada poela bertempat itoe djantoeng-hati, hanja iapoenja seantero pikiran, seantero kenang-kenangan, ditoempaken semoea boeat itoe napsoe pembalesan, jalah niatan aken mentjari itoe moesoe dari orang-toeanja.