-10-
perkataän jang baroesan dibitjaraken antara dia dengen Bwe Sian.
Hoedjin tinggal diam sembari perhatiken orang poenja tjerita dan sebentar-sebentar hanja keliatan ia mengela napas pandjang. Ia djoega tiada bisa mengarti tentang sebab apa boleh djadi begitoe roepa.
„Aken tetapi, ini djoega boekan mendjadi soeatoe soeal jang terpenting,” demikian berkata sang iboe kemoedian, „kaloe dia soeda berlakoe begitoe soenggoean, kaoe toch boleh tra-oesa pikirin poela. Kaoe boleh tjari poela dan menika dengen laen prempoean, toch doenia jang tida sadaon-kelor, tiada koerang gadis-gadis jang berparas eilok, masatah tjoema moesti Bwe Sian saorang.”
„Ach, Mama, djanganlah kaloearken poela ini bitjara. Tiada ada lagi laen prempoean di doenia ini jang bisa lebi baek dari Bwe Sian! sekalipoen boleh djadi ada jang berparas eilok oepama bidadari di langit, toch akoe-poenja ketjintaän jang soeda ditoempaken antero boeat Bwe Sian, tiada lagi bisa digerakken oleh apa djoega, Saoemoer idoepkoe tiada aken bisa teroba poela pri-ketjintaänkoe toe!”
Sim Hoedjin keliatan sedikit mendongkol dan dengen soeara membentak ia berkata:
„Anak edan! Sesoedanja dia tiada maoe padamoe, kaoe masi djoega hendak toenggoein dia dengen setjara edan; soenggoe, itoelah ada lakoenja saorang jang paling