kedoea tangannja.
„Anakkoe,“ berkata ia dengen soeara terpoetoes-poetoes, apatah artinja ini? . . . . Tidakah kade soeda diperhinaken dan diganggoe?. . . . Oh, bilanglah pada iboemoe!. . . . .“
„Tida, tida,“ berkata Bek Kheng dengen golengin kepalanja, biarlah Mama djangan slempang hati. Akoe tida apa-apa!. . .
„Kaloe begitoe, sebab apatah kaoe moesti menangis?“
Bek Kheng poenja aer-mata sigra djoega mengoetjoer toeroen dengen deres sekali.
„Oh, Mama,“ katanja dengen soeara piloe, „ketahoeilah, bahoea Bwe Sian soeda tiada soeka lagi padakoe!. . .“
Brangkali tiada ada begitoe kaget mendenger soeara goentoer, dari pada seperti mendenger ini penjaoetan, maka Sim Hoedjin laloe berkata dengen soeara terprandjat:
„Ach, ada hal demikian! Oh, apatah soenggoe perkataänmoe? Sebab apatah dia soeda tiada maoe lagi padamoe? Tidakah ada soeatoe sebab perboeatanmoe jang menjebabken dia berketjil hati?“
„Begimanatah akoe brani bikin dia koerang seneng?“ berkata lagi Bek Kheng dengen aer-mata jang berlinang-linang, „akoe djoega tiada bisa mengarti mengapa boleh djadi begitoe. Tjoema dia soeda bilang, jang dia tiada aken bisa menika lagi padakoe.“
Sambil berkata demikian, ia toetoerken satoe-persatoe segala keadaän dan segala