netral²an, tidak ada bunglon²an, kesana djadi, kesini pun boleh. Putjuk aru jang menengok angin sadja, atau kiambang jang tak berurat sampai kebawah, dibawa lalu oleh biduk kemana sadja djadi .......... jang seperti ini tidak dikenal di Tiongkok. Timbul atau tenggelam, menang atau kalah, hidup atau mati, to-be or not-to-be. Ini perdjuangan hidup dan mati. Hidup bagi rakjat berarti mati bagi imperialis dan reaksioner, sedang hidup bagi imperialis dan reaksioner berarti mati bagi rakjat, sebagaimana telah terbukti puluhan tahun lamanja.
Sikap dan pendirian tegas ini dapat dipahamkan orang di Tiongkok, ketjuatli klik Ch. K. Shek tentu. Sebab dimasa jang lampau sudah sama menderita, walaupun sekarang hidupnja orang kaja agak turun sedikit, tapi hidupnja tani dan buruh membubung keatas. Apa ini adil atau tidak? Terserah pada pembatja.
Mao Che-tung sendiri merasa ada sesuatu jang kurang tepat terutama bagi orang diluar negeri, karena itu, dengan terus terang dikemukannja pada rakjat sbb.:
„Orang mungkin menuduh kita bersandar pada satu pihak. Betul! Pengalaman 40 tahun dari Sun Yat Sen dan pengalaman kita selama 28 tahun (1885-1925 dan 1921-1949) menjebabkan kita jakin dengan sesungguhnja bahwa untuk memperoleh dan memperkokoh kemenangan, kita haruslah berdiri hanja pada satu pihak. Pengalaman² 40 dan 28 tahun itu menunjukkan bahwa rakjat Tiongkok harus bersandar atau pada pihak imperialisme atau pada pihak sosialisme, sekali² tidak boleh ada tawar menawar dan pengetjualian. Sikap duduk diatas tembok dengan kaki didua belah pihak tidak dapat. Djalan jang ketiga tidak ada. Kita menentang kaum reaksioner Ch. K. Shek jang bersandar pada pihak imperialisme, kita djuga menentang angan² dan hocus pocus akan adanja djalan ketiga. Bukan hanja di Tiongkok melainkan didunia ini seluruhnja, djika tidak bersandar pada pihak imperialisme, ia akan bersandar pada sosialisme, sekali² tidak ada pengetjualian dan tawar-tawaran. Sifat netral atau bebas adalah suatu barang samar dan penjamaran sedang djalan lain tidak ada lagi.