Lompat ke isi

Halaman:Tiongkok Baru.pdf/76

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

penghargaan jang sama terhadap seluruhnja atas usaha masing2, hanja sadja, fungsinja berbeda. Ini perlu, sebab memang tidak semua orang bisa djadi pemimpin dan tidak semua orang bisa mengepalai paberik atau mendjadi presiden perguruan tinggi dsb. Ini adalah pembagian kerdja dalam arti pengakuan terhadap keahlian seseorang, dengan tidak pandang bulu. Soalnja asal tjakap, biar siapa boleh djadi kepala sebab untuk djadi pemimpin atau pembesar tidaklah mendjadi haknja beberapa gelintir orang sadja, seolah2 hak miliknja, pusaka dari nenek mojangnja.

Dari golongan mana sadja mungkin lahir pemimpin, sebab kebenaran dan kebesaran djiwa (kurnia Tuhan) tidaklah mendjadi monopoli orang atau pihak tertentu, sekalipun diantara mereka ada jang pernah kebetulan mendjadi pemimpin dsb. Manusia tak dapat mentjetak orang besar, (dengan memberi nama Si Langit umpamanja) djiwa besar dan sifat2 luhur lainnja, itu adalah hak Tuhan untuk mengurniakannja kepada jang dikehendaki-Nja. Dihadapan Tuhan semua manusia sama sadja, hanja jang satu dilebihkan dari jang lain, karena djasanja, peramalannja, sikapnja dll. selama didunia, baikkah atau tidak bermanfaatkah atau tidak bagi ummat (rakjat)nja dan bagi perikemanusiaan umumnja. Beginilah nampaknja djalan pikiran jang hendak mempersatu-padukan ke-empat golongan besar dari rakjat di Tiongkok itu. Djasa diatas djasa, bukan djasa diatas kata2.

Kediktatoran rakjat itu dan pimpinan kelas buruh adalah hasil kemadjuan sedjarah dan pengalaman. Kalau karena itu melainkan adalah prakteknja demokrasi burdjuis, seperti jang diperlihatkan oleh Ch. K. Shek, selama 22 tahun.

Lebih djauh dibawah ini kita turunkan perkataan Mao Che-tung sendiri, sebagai berikut:

"Pengalaman2 jang dikumpulkan dalam beberapa puluh tahun oleh rakjat Tiongkok menjuruh kita harus mendjalankan kediktatoran demokrasi rakjat, jaitu: hak berbitjara dari kaum reaksioner/kontra-revolusioner harus dihapuskan dan hanja rakjatlah jang dibolehkan mempunjai hak berbitjara. Siapakah „rakjat" jang disebutkan disini? Pada tingkat sekarang di Tiongkok ialah kaum buruh, tani, burdjuasi ketjil dan burdjuasi nasional. Kelas2 ini bersatu untuk membentuk negaranja sendiri dan memilih pemerintahnja sendiri untuk mendjalankan kediktatoran terhadap kaki tangan imperialis, kaum tuan tanah, kaum kapitalis-birokrasi dan kaum reaksioner Kuomintang serta agen2nja jang mewakili golongan2 tsb., hanja membolehkan mereka berlaku baik2, dan tak membiarkan mereka berbitjara atau berbuat semau2nja. Djika mereka berbitjara dan berbuat sesuka2nja, mereka akan dilarang dan dihukum dengan segera. Sistem demokrasi dilaksanakan diantara rakjat, diberikan hak bersuara, bersidang dan berkumpul. Hak memilih hanja diberikan pada rakjat dan tak diberikan pada kaum reaksioner. Keduanya ini, demokrasi dianta-

75