Lompat ke isi

Halaman:Tiongkok Baru.pdf/122

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

lamanja manusia telah menempuh kemadjuan, manusia jang pada mulanja hanja mengenal keluarganja, sukunja dan golongannja, lambat laun telah mengenal dan membentuk kesatuan jang lebih besar dan luas dalam pergaulan hidup, hingga tertjapailah jang dinamakan sekarang ini negara dan bangsa. Orang sudah lama mengenal bangsa, membentuk negara, tapi sampai sekarang belum atau hampir tidak ada jang konsekwen mempertahankan hasil pikiran dan bentukannja itu. Didalam satu negara, didalam satu bangsa, tindas menindas masih berlaku, tjakar²an, bunuh membunuh setjara halus dan kasar, bermusuhan satu sama lain, jang lain golongan dan partainja dianggap dan dipandang lain, diperlakukan sebagai lawan dan musuh, sekalipun diteriakkan keluar bahwa mereka adalah satu bangsa dan jang berdiam dalam satu negara takluk pada hukum dan undang² jang sama. Bermatjam² hukum diatur, undang² diadakan, mengenai pergaulan didalam negara, pergaulan diantara bangsa² dan negara² (hukum nasional dan internasional) tapi semuanja hukum itu tidak ada jang menentukan bahwa satu bangsa dan negara itu adalah kesatuan, jang tidak terpisah², dan bahwa tudjuan membentuk negara itu adalah untuk mengumpulkan jang selama ini bertjerai berai, supaja hidup bersama didalam satu kesatuan, tolong menolong dan bantu membantu karena telah satu bangsa. Filsafat hukum dan filsafat negara, sudah banjak dikadji dan berdasarkan pengadjian itu dibentuklah kekuasaan politik. Kesemuanja itu, hingga kini, belum atau hampir tidak ada jang sanggup mendjamin adanja kedamaian, persatuan dan kerukunan didalam satu bangsa dan satu negara sadja pun. Djangan diimpikan lagi buat seluruh dunia! Adanja perlainan diakui dan ditondjol²kan, sehingga menimbulkan pertentangan dan perdjuangan, sampai permusuhan kadang², dialami dalam kenjataan hidup sehari², padahal dialam raja ini terbentang segala apa sadja jang tidak, jang kesemuanja itu tidak sama, satu sama lain berbeda. Toh alam ini damai djuga, dari bumi sampai ke tjakrawala jang penuh dengan djutaan bintang², satu sama lain berlain², bentuknja, besarnja dan perdjalanannja pun. Alam ini ditjiptakan memang dengan perlainan, dan perlainan itu dimaksudkan agar manusia dapat mengambil manfa'at daripadanja, mendjadi rachmat. Tapi sekarang seolah² atau sesungguhnja mendjadi laknat (bagi sebagian besar ummat), hanja karena pikiran dan perbuatan manusia djua.

Djiwa Tiongkok Baru memang akan disuruh mengenal segala apa jang berlainan dan bertentangan, tapi bukan supaja dengan perkenalan itu lantas ganggu-mengganggu dan bermusuhan, tidak. Diterangkan apa jang sebenarnja musuh, disamping mendjelaskan siapa jang mendjadi kawan, sahabat dan saudara. Didalam lingkungan rakjat Tiongkok sendiripun, hal itu didjelaskan, tidak disembunji²kan. Terus terang, ini musuh, ini tidak. Amerika adalah musuh, tapi didalam Amerika itu ada djuga kawan. Tiongkok bisa satu dan harus satu, dunia bisa satu dan harus satu ...............

121