sebab burdjuis ketjil djumlahnja sedikit, dibandingkan dengan jang lain2, dan sifat djiwa revolusinja lemah, dan djuga deradjat pendidikan/pengertian mereka lebih „tinggi” adanja. Maka dari itu seni sastera kita terutama bagi kaum buruh, tani dan tentara dan jang kedua barulah untuk kaum burdjuis. Tidaklah patut kita membalikkannja. Disinilah letaknja kesukaran bagi sebagian saudara2 kita untuk menetapkan dengan tepat soal: untuk siapakah kesenian dan kesusasteraan kita...
„Dalam merundingkan sesuatu soal kita harus beralasan pada keadaan dan hal2 jang sebenarnja dan tidaklah harus memulai dengan mengadji segala definisi. Djika kita mentjari dan mendapatkan batasan arti dari kesenian dan kesusasteraan (sesuatu definisi) menurut beberapa buku dan pendapat beberapa orang jang dikundjung2 dan disiter2 berhalaman2, dan sesudah itu menggunakan batasan pengertian itu untuk menetapkan arah dan tudjuan pergerakan kesenian dan kesusasteraan kita pada dewasa ini, serta menimbang dan memutuskan benar tidaknja rupa2 pendapat, maka itulah ada satu djalan jang sangat tidak tepat (salah). Kita tidak boleh menindjau sesuatu soal dari dasar batasan pengertian jang abstrak (kabur diawang2), tapi kita harus memandang segala sesuatu dari keadaan dan hal2 jang sebenarnja, jang tampak bentuk lahirnja; maka hendaklah kita mentjari pedoman, siasat dan daja upaja dengan djalan mengadji dan beralasan pada hal2 jang sebenarnja (kenjataan). Dalam soal kesenian dan kesusasteraanpun tidak terketjuali.”
Dilain bagian dari Pidato2 di Yen-an mengenai perundingan Kesenian dan Kesusasteraan itu, ketua Mao mengatakan lagi:
„Maxim Gorki menjusun sedjarah paberik2, memimpin korespondensi kampungan (dengan orang2 desa) serta pula membimbing peladjaran bagi anak2 umur belasan tahun. Djuga Lu Hsun telah memakai banjak temponja untuk korespondensi dengan anak2 sekolah. Para ahli sastera kita haruslah menaruh banjak perhatian pada „berita2 tembok” dari massa rakjat dan sastera serta korespondensi pekampungan. Para ahli sandiwara kita harus menaruh perhatian pada rombongan2 sandiwara ketjil dalam pasukan2 dan kalangan rakjat kampung. Para ahli musik kita harus menaruh perhatian pada lagu2 jang dinjanjikan oleh rakjat dan para ahli seni lukis kita harus memperhatikan seni lukisnja massa. Semua saudara jang tsb. haruslah berhubungan rapat dengan saudara2 jang sedang mengerdjakan perataan seni dan sastera jang sederhana dan asli itu diantara massa rakjat. Disatu pihak membantu dan membimbing mereka, dilain pihak beladjar pula dari mereka, dengan melalui mereka untuk memperoleh pengalaman dan peladjaran dari massa dan dengan demikian memelihara dan memperkaja diri sendiri agar supaja keahliannja tidak mendjadi sematjam „istana diawang2” jang djauh terpisah dari rakjat dan sama sekali tak berdjiwa, hampa, tiada isi.
„Kita harus menghargai ahli2 kita, sangat penting dan