Halaman:Sultan Thaha Syaifuddin.pdf/41

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

dan Bengkulu (10, p. 17).

Rumah-rumah rakyat pada umumnya didirikan di sepanjang pinggiran sungai. Mereka sudah memperlihatkan segi kesehatan, kebersihan dan kesopanan. Untuk membuang air besar dan kecil dibuatlah jamban umum di samping jamban keluarga. Di antaranya ada jamban yang dibuat khusus untuk laki-laki dan khusus untuk perempuan.

Rakyat Jambi di bawah pimpinan Sultan Thaha selalu hidup dalam suasana gotong royong. Sifat gotong royong rakyat nampak dalam menghadapi peristiwa seperti upacara perkawinan, kematian, turun baumo, (mengerjakan ladang), membangun rumah, mesjid, madrasah dan lain-lain (10, p. 18).

Sifat gotong-royong rakyat seperti tersebut di atas dipelihara baik-baik oleh Sultan Thaha Syaifuddin untuk membina persatuan dan kesetiaan rakyat dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda. Sultan Thaha Sayifuddin sadar bahwa cita-cita kehidupan rakyat yang aman, tentram dan sejahtera lahir batin hanya bisa dilaksanakan apabila penjajah Belanda sudah terusir dari negerinya.



36