Halaman:Sultan Thaha Syaifuddin.pdf/36

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi
  1. Jika Sultan Thaha Syaifuddin tidak mau mengadakan perjanjian baru, maka beliau akan diturunkan dari takhta kesultanan dan akan digantikan dengan Sultan baru yang mau mengadakan perjanjian dengan Belanda.
  2. Jika Sultan Thaha benar-benar tidak mau menyetujui diadakannya perjanjian baru, beliau akan diasingkan ke Batavia.
  3. Sultan Jambi diharuskan mengirimkan utusan ke Batavia untuk memberi tanda kehormatan kepada Gubernur Jenderal di Batavia.

Keputusan Pemerintah Belanda ini segera dilakukan. Pada tanggal 25 September 1858 datanglah di Muara Kumpeh sepasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Mayor Van Langen dengan kekuatan 30 buah kapal perang dan 800 orang tentara.

Pertempuran terjadi selama dua hari dua malam. Kapal perang Belanda "Houtman" berhasil ditenggelamkan pasukan Sultan Thaha Syaifuddin. Dalam pada itu Sultan Thaha juga menyimpan 30 buah kapal perang di Muara Tembesi. Istana Jambi dikosongkan, semua penghuninya menyingkir ke Muara Tembesi, sehingga meriam yang ada di Istana Jambi tidak berbunyi lagi.

Dalam pertempuran di Muara Kumpeh ini tiga orang panglima yang mendampingi Sultan Thaha gugur di Medan juang, sehingga pimpinan perang kemudian diserahkan kepada Raden Mas Tahir. Sultan Thaha Syaifuddin yang mengetahui bahwa persenjataan fihak Belanda lebih lengkap secara diam-diam telah memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan istana menuju ke Muara Tembesi.

Di Muara Tembesi Sultan Thaha Syaifuddin mulai menyusun pemerintahan baru dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pangeran Hadi diangkat menjadi Kepala Bala Tentara.
  2. Pangeran Singo diangkat menjadi Kepala Pemerintahan Sipil.
  3. Pangeran Lamong diangkat menjadi Kepala Keuangan (11, p. 15).

Bagi Sultan Thaha Syaifuddin adanya ancaman maupun serangan militer fihak Belanda itu tidak mengubah pendiriannya

31