Halaman:Sultan Thaha Syaifuddin.pdf/21

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

Kyai Gede. Campur tangan Belanda dalam masalah penggantian Sultan ini telah menimbulkan amarah rakyat Jambi. Di bawah pimpinan putra-putra Sultan Sri Ingalogo yang lain mereka bergerak untuk menentang campur tangan Belanda itu, (8, p. 36).

Pangeran Raden Julat dan Kyai Singopati, dua orang saudara Sultan Kyai Gede memimpin pemberontakan terhadap Sultan yang telah diperalat Belanda itu. Pemberontakan ini secara langsung juga ditunjukan terhadap Belanda. Tetapi karena kekurangan persenjataan Pangeran Raden Julat dan Kyai Singopati terpaksa menyingkir dari Jambi. Mereka menyingkir ke daerah Uluan, ke Muara Tebo daerah Kalbu VIII Kota yang dahulu diperintah oleh Sunan Pulau Johor. Dari Muara Tebo Pangeran Julat pergi ke Pagaruyung di Minangkau untuk minta bantuan. Oleh Raja Pagaruyung ia sebagai putra pertama dari Sultan Sri Ingalogo diakui sebagai Sultan Jambi dengan gelar Sri Maharaja Baru.
Sekembalinya di Muara Tebo oleh Rakyat setempat Pangeran Raden Julat dinobatkan sebagai Sultan yang berkedudukan di Mangunjayo, dekat Muara Tebo yang merupakan pemerintahan pelarian. Setelah hampir tiga puluh tahun Sultan Maharaja Batu memisahkan diri dari kekuasaan di Tanah Pilih (Istana Jambi) pembantu utamanya Kyai Singopati meninggal. Sultan Sri Maharaja Batu yang ditinggalkan saudaranya Kyai Singopati merasa kehilangan pengaruh. Karena itu ia mengambil keputusan untuk kembali ke Jambi mengadakan perdamaian dengan Sultan Muhamad Syah pengganti Sultan Kyai Gede sejak tahun 1696.

Sebagai hasil perdamaian ini Sultan Muhamad Syah turun tahta dan Sri Maharaja Batu diakui sebagai raja Jambi dengan gelar Sultan Suto Ingalogo. Tetapi tidak lama kemudian karena sikapnya yang bermusuhan dengan Belanda Sultan Suto Ingalogo ditangkap dan diasingkan Belanda ke Batavia. Setelah diasingkan Sultan Muhamad Syah naik tahta kembali. Pada tahun 1740 Sultan Muhamad Syah wafat.
Beliau digantikan oleh putra Sri Maharaja Batu yang bergelar Sultan Istro Ingalogo. Karena teringat perlakuan Belanda terhadap ayahnya Sultan ini berusaha keras untuk mengusir Kumpeni Belanda dari Jambi. Pada tahun 1742 usaha Sultan

16