Halaman:Sultan Thaha Syaifuddin.pdf/19

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

banyaknya dengan melaksanakan monopoli bahan rempah-rempah di kepulauan Indonesia (3, p. 1).

Tindakan bangsa Belanda yang datang ke Jambi untuk melaksanakan sistim monopoli perdagangan serta adanya usaha hendak menanamkan kekuasaan di daerah ini, mendapat perlawanan rakyat. Perlawanan rakyat Jambi ini digerakkan oleh Sultan-sultan serta pejuang-pejuang rakyat Jambi yang ingin mempertahankan kemerdekaan negerinya serta benci terhadap penjajah asing. Bentuk perlawanan mereka terhadap tindakan Belanda pada waktu itu tidak berbeda dengan perlawanan rakyat Indonesia di daerah lain, yaitu perlawanan secara tradisional dan terpecah-pecah (4, p. 34).

Daerah Jambi yang sejak zaman dahulu terkenal dengan hasil hutannya serta telah melakukan hubungan dagang secara bebas dengan negeri-negeri lain menjadi goncang akibat sistem monopoli dagang Belanda ini. Sistem monopoli jelas tidak dapat diterima oleh rakyat, karena selalu akan merugikan mereka, juga bertentangan dengan kebiasaan dagang bebas yang telah mereka lakukan selama ini.

Pada saat Belanda datang ke Jambi, rakyat Jambi telah merupakan penganut agama Islam yang taat. Perbedaan agama dengan bangsa Belanda yang ingin memerintah dan mengatur kehidupan mereka telah menimbulkan kebencian seluruh rakyat, karena hal ini bertentangan dengan prinsip agama Islam yang telah mereka anut selama ini (11, p. 4).

Sejak abad ke-17 Jambi telah merupakan kesultanan yang diperintah oleh Sultan-sultan Jambi yang turun-temurun. Tetapi sejak bangsa Belanda memperoleh izin untuk tinggal di Muara Kampeh, mereka sering mengadakan campur tangan dalam urusan pemerintahan, juga dalam masalah penggantian Sultan. Mereka memanfaatkan setiap adanya perselisihan antara Sultan Jambi dengan pihak lain seperti dengan Johor dan dengan orang-orang pendatang dari Timur. Juga perselisihan di kalangan Istana sendiri mereka manfaatkan untuk memperkuat posisi mereka di daerah ini, sehingga akhirnya merekalah yang menentukan jalannya pemerintahan (11, p. 4).

Pada mulanya perlawanan rakyat Jambi terhadap Belanda belum merupakan perlawanan bersenjata, melainkan berupa pemboikotan atas penjualan hasil bumi. Sikap ini adalah hasil

14