Halaman:Sultan Thaha Syaifuddin.pdf/13

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

Betung, Sungai Duren, Teluk Alai dan Ture. Mereka ini adalah pengiring-pengiring raja yang bebas ke luar masuk istana dan dikepalai oleh seorang Ngebi.


12. Daerah Pemajung yang terdiri dari dusun Pulau Mentaro, Pulau Tigo, Sukoberajo, Pulau Raman, Pudok dan Kampung Gedang. Daerah ini dikepalai oleh seorang Tumenggung yang bergelar Puspo Yudo atau Puspowiyono dibantu oleh dua orang Kedemangan yang berkedudukan di Ramping Gedong dan dusun Teluk. Mereka ini bertugas memegang payung kehormatan raja (18, p.10-22).

Semua "orang kerajaan" yang memimpin 12 daerah yang kemudian menjadi suku bangsa itu disebut "Bangsa dua Belas" dan tiap bangsa mempunyai kampung induk yang disebut Kelabu. Luas tanah dan perbatasan masing-masing suku bangsa itu ditetapkan di dalam piagam (18, p. 22).

Bangsa duabelas ini merupakan badan penting dalam pemerintahan Kerajaan Jambi pada waktu itu. Sumber lain menyebutkan bahwa Orang Kayo Hitam menyusun dan membagi daerah kerajaan Jambi atas sembilan Kalbu yang merupakan inti kerajaan. Kesembilan Kalbu yang dimaksud ialah:

  1. Kalbu VII dan IX Koto
  2. Kalbu Muara Sebo
  3. Kalbu Jebus Rajasan
  4. Kalbu Patajin
  5. Kalbu Air Hitam.
  6. Kalbu Awin
  7. Kalbu Panegin
  8. Kalbu Mijid dan
  9. Kalbu Pinikawan (19, p. 32).

Dari kedua sumber tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Orang Kayo Hitam yang menyusun suku-suku bangsa di daerah Jambi. Raja Orang Kayo Hitam yang mengumumkan bahwa kerajaan Jambi menjadi kerajaan Islam. Dalam pengumumannya itu juga dinyatakan bahwa Jambi adalah serambi Aceh dan Aceh serambi Mekah. Sejak adanya pernyataan Raja itu rakyat Jambi di suruh mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjalankan syariat Islam (2, p.19).

8